10 Ribu Buruh Garmen di PHK Massal, Ini Datanya

10 Ribu Buruh Garmen di PHK Massal, Ini Datanya

SHARE

Publik-News.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mnerima sebanyak 244 pengaduan kasus perburuhan dengan melibatkan 19.889 buruh. Pengaduan yang diterima LBH Jakarta ini diantaranya 244 pengaduan dan terdapat sebanyak 26 kasus pengaduan terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Peneliti AKATIGA, Indrasari Tjandraningsih mengatakan diantara 244 pengaduan tersebut terdapat beberapa pengaduan yang berasal dari pekerja/buruh garmen. Lebih lanjut dalam Laporan Pengaduan PHK massal dalam rentan waktu 1 (satu) tahun terakhir LBH Jakarta menemukan sebanyak 1409 buruh mengadu ke LBH Jakarta karena mengalami PHK.

“Masalah PHK secara terus menerus dialami oleh para pekerja/buruh khususnya bagi pekerja/buruh yang bekerja di sektor garmen yang mengalami kerentananakan PHK sepihak oleh pihak perusahaan tanpa uang pesangon, dan hak normatif lainnya,” ujar Indrasari, Rabu (24/8/2016).

Menurut Indrasari, ribuah buruh yang rentan di PHK itu berdasarkan penelitian partisipatif yang dilakukan LBH kepada serikat buruh yang anggotanya bekerja pada sektor garmen yakni yang berada di wilayah DKI Jakarta, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang serta Dinas Tenaga Kerja terkait.

“Hasil penelitian sepanjang 2015-2016 ditemukan ribuan buruh garmen di-PHK dengan berbagai alasan, yakni karena perusahaan mengalami pailit, melakukan efisiensi, hingga karena alasan kontrak kerja yang habis dan tidak di perpanjang lagi,” pungkasnya.

Berdasarkan data yang telah dihimpun dari data Disnaker DKI Jakarta dan hasil penelitian partisipatif LBH Jakarta, ditemukan sebanyak 1537 buruh Garmen di PHK dengan berbagai alasan yakni sebagai alasan. Misalnya, kata Indrasari, sebanyak 1200 buruh menjadi korban karena alasan pailit, 130 buruh menjadi korban dengan alasan kontrak kerja habis dan alasan mogok kerja sebanyak 27 buruh menjadi korban

Sementara PHK massal buruh garmen di wilayah Kota Tangerang terdapat sebanyak 2076 buruh garmen. Mereka di PHK tidak mampu membayar UMP dan 388 buruh yang menjadi korban, tanpa alasan yang jelas 934 buruh yang menjadi korban, efisiensi 4 buruh yang menjadikorban, pemutihan kontrak sebanyak 600 buruh yang menjadi korban, dan kontrak tidak diperpanjang sebanyak 150 buruh yang menjadi korban.

Adapun PHK massal buruh garmen di Kabupaten Tangerang sebanyak  4.613 buruh. Ribuah buruh di PHK ini karena perusahaan tidak sanggup membayar UMP sehingga 200 buruh yang menjadi korban, karena pailit sehingga mengorbankan 4.413 buruh

“Berdasarkan diagram tersebut, terlihat dengan jelas bahwa sebanyak 70% buruh garmen di-PHK secara massal dengan alasan perusahaan pailit 4% kontrak tidak diperpanjang, 7% tidak mampu membayar UMP yang terlampau tinggi, 7%pemutihan kontrak, dan tanpa alasan yang jelas sebanyak 12%,” katanya.

 

(Taufik)

SHARE
Comment