Home Random 2019 Ganti Kaos

2019 Ganti Kaos

Era tahun 1990-an saat menjadi aktivis mahasiswa, banyak teman aktivis menggunakan kaos dengan tulisan di bagian depan: JANGAN NGOMPOL (Ngomong Politik) SEMBARANGAN.

Kaos bertuliskan satire ini dimaksudkan sebagai bentuk kritik mahasiswa pada pemerintahan Soeharto saat itu yang ‘membatasi’ orang berbicara politik, terutama yang bersifat mengkritik.

Akhirnya, kaos itu sering dipakai diam-diam dan tertutup pada diskusi terbatas yang digelar aktivis mahasiswa. Beberapa waktu yang lalu, aktivitas sosial media juga pernah diramaikan oleh penggunaan kaos berlogo palu dan arit.

Beberapa di antaranya sempat diamankan oleh aparat TNI. Dan, saat ini kaos kembali menjadi fenomena sosial politik domestik setelah orang beramai-ramai mengenakan kaos dengan tulisan #2019GantiPresiden.

Kaos bukan lagi ekspresi privat saat orang ingin bebas bersantai mengisi waktu luang mereka. Kaos menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan ekspresi, penegasan identitas dan sikap sosial/politik bahkan pernyataan perlawanan terhadap sebuah kemapanan ataupun kesewenangan.

Kaos menjadi alat privat untuk mengintervensi ruang publik melalui pesan yang dikandung pada tulisan. Kaos seakan ingin menegaskan kehadiran tentang ‘sesuatu’ di ruang publik terbuka melalui tulisan yang melekat di bagian depan atau belakangnya.

Kesan dan Pesan dalam Kaos

Mengenakan kaos sebagai bentuk ekspresi atau penegasan identitas dan sikap sosial/politik sesungguhnya mengajarkan bagaimana substansi kehidupan itu seharusnya dijalani.

Kaos mengandung spirit kebaikan, sebab sebuah kaos mengisyaratkan bahwa kehidupan ini hanya permainan belaka. Karena itu kaos hendak mendidik penggunanya agar menjalani permainan kehidupan ini dengan santai, rileks dan seperlunya.

Tidak perlu terlalu cemas dan khawatir dengan berbagai ketegangan dan formalitas. Karena segala yang formalitas selalu menimbulkan ketegangan.

Dan selalu orang yang tegang dalam menjalani kehidupan, akan melahirkan rasa tidak nyaman. Kehidupan ini sudah sulit, dan kaos hadir menawarkan jalan santai menikmati kehidupan yang sulit tersebut.

​Dalam perspektif ini, kehadiran Presiden Jokowi mengenakan kaos saat acara formal peresmian Kereta Api bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu di tengah pejabat lain yang mengenakan pakaian resmi merupakan isyarat positif agar hidup dijalani dengan santai dan rileks.

Tidak perlu tegang dan terkungkung dalam formalitas yang sering menjerumuskan pada jebakan artifisial (kepura-puraan). Pesan pokoknya, Presiden Jokowi sebagai pemimpin ingin hadir di hadapan publik tanpa kepura-puraan, hadir apa adanya. Jokowi adalah kita, benarkah begitu?

Selain memuat kesan santai, rileks, dan apa adanya tanpa kepura-puraan, dalam sehelai kaos juga dapat memuat pesan. Pada sehelai kaos terdapat pula pesan. Pesan tersebut termuat dalam tulisan yang melekat pada bagian depan atau belakangnya.

Banyak aktivis, seniman dan siapa saja yang sedang berkampanye untuk suatu hal demi kebaikan publik menjadikan tulisan pada kaos sebagai sarana menyampaikan pesan yang ingin mereka sampaikan.

Chris Martin, vokalis COLDPLAY pernah memakai kaos bertuliskan “Make Trade Fair” saat ngobrol dengan petani jagung di Mexico yang menjadi korban perdagangan bebas.

Sementara itu dari dalam negeri, SLANK dan SID merupakan grup band yang kerap mengenakan kaos dengan tulisan bermuatan ekspresi atau penegasan identitas dan sikap sosial/politik mereka.

Dalam perspektif ini, kaos oblong dengan tulisan #2019GantiPresiden memuat pesan cerdas untuk merespon politik dominasi dan demokrasi brutal yang sedang dipraktikkan saat ini.

Sampai di sini, kaos sesungguhnya sudah memasuki gelombang kelima kehidupan sosial dan politiknya sejak pertama kali digunakan pada abad 19 sebagai pakaian dalam tentara.

Menyusul kaos dipakai oleh kaum Hippies sebagai simbol identitas pada era tahu 1950-an, kemudian dipakai sebagai alat propaganda oleh kaum marginal pada era tahun 1970-an.

Berikutnya dijadikan industri identitas kebudayaan pada tahun 1990-an.

Polemik Kaos #2019GantiPresiden
Sedari awal, memang kehadiran kaos oblong (T-shirt) sudah menimbulkan polemik, terutama bagi yang pro kemapanan.

Pertama kali kaos oblong menjadi populer sejak dikenakan oleh Marlon Brando. Saat itu, tahun 1947 Brando tampil dalam sebuah pentas teater di Broadway, AS. Dalam pentas teater dengan judul “A Street Named Desire” tersebut, Brando memerankan karakter Stanley Kowalsky.

Segenap penonton berdecak kagum dan tercengang dengan keberanian Brando memakai kaos oblong pada pentas teater bergengsi saat itu. Namun sebagian penonton lain ada pula yang protes karena sikap tidak sopan Brando tersebut.

Polemik meluas antara etika dan sopan santun dalam berbusana pada acara formal saat itu. Kubu yang menolak umumnya mereka yang sudah mapan secara sosial, ekonomi dan politik.

Mereka umumnya dari kalangan berada atau dekata dengan kekuasaan. Sementara kubu yang mendukung kaos oblong berasal dari mereka yang anti kemapanan, umumnya anak muda dan kaum marginal.

Akhirnya, sejarah berpihak pada perubahan. Kaos atau undershirt pada era 1960-an diterima sebagai ‘pakaian yang sopan’.

Puluhan tahun berikutnya, polemik tidak lagi pada pro dan kontra terhadap kaos tetapi pada tulisan yang melekat di kaos.

Memasuki tahun politik 2019, salah satu tulisan di kaos yang saat ini hangat menjadi perdebatan adalah #2019GantiPresiden. Kaos ini mulai banyak dikenakan masyarakat karena mulai dijual bebas.

Tidak tanggung-tanggung, Presiden Jokowi ikut memberi komentar terhadap gerakan tersebut. Di hadapan relawan yang mendukungnya, dalam acara Konvensi Nasional Galang Kemajuan Tahun 2018 di Ballroom Puri Begawan, Bogor, Sabtu (7/4) Jokowi menyindir pihak yang ingin mengganti Presiden melalui kaos yang bertuliskan #2019GantiPresiden.

“Sekarang isu kaus ganti Presiden 2019. Masa dengan kaos bisa ganti Presiden. Masa pakai kaos bisa ganti Presiden, enggak bisa,” ucapnya disambut tepuk tangan para relawan Galang Kemajuan Jokowi.

Komentar Jokowi sebagai pihak yang dimaksud dalam tulisan #2019GantiPresiden pada kaos, tentu saja memicu reaksi yang riuh di media sosial.

Ada pihak yang menilai tidak seharusnya Jokowi memberi komentar di saat masih banyak urusan negara yang lebih besar dan membutuhkan perhatian serius.

Ada pula pihak lain yang menilai ini sebagai bentuk kekhawatiran Jokowi terhadap semakin meluasnya gerakan kaos #2019GantiPresiden. Saya sendiri berpendapat, dalam soal kaos #2019GantiPresiden tersebut Jokowi sebenarnya merespon dengan jujur dan polos.

Karena memang sangat benar, sampai kapanpun tidak mungkin kaos dapat menggantikan Presiden. Sebaliknya, justru Presiden yang dapat berganti kaos. Tercatat, sebanyak 6 kali Presiden Jokowi mengenakan kaos berbeda pada acara berbeda.

Pertama, saat peresmian kereta api bandara Soekarno-Hatta.

Kedua, saat mengundang warga Yogyakarta makan malam di Istana jelang pergantian tahun 2018.

Ketiga, saat menghabiskan malam minggu di Malioboro.

Keempat, saat menghadiri acara musik We The Fest.

Kelima, saat menghadiri di acara Synchronize Fest dan keenam saat joging bersama Ketua Umum Partai Golkar.

Dari perspektif ini, Presiden Jokowi sebenarnya tidak asing dengan kehidupan dan penggunaan kaos oblong. Tahun 2019 Jokowi akan tetap pakai kaos.

Jadi kaos tidak perlu dikhawatirkan, kecuali memang Jokowi ingin terpilih kembali sebagai Presiden untuk 2 periode karena sering menggunakan kaos oblong.

Oleh: Iswandi Syahputra
(Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Comment