Abu Janda dan Denny Siregar: Bisa Dipahami Mengapa Mereka “Degil”

Abu Janda dan Denny Siregar: Bisa Dipahami Mengapa Mereka “Degil”

SHARE

Sangat bisa dimengerti kalau Abu Janda dan Denny Siregar harus menjukkan sikap tegar dalam menerima kenyataan pahit setelah mereka mempermalukan diri sendiri. Setelah insiden ILC yang berakhir dengan “buka aib sendiri” itu, mereka mencoba melakukan sesuatu yang pasti akan dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau mengambil “musibah” sebagai “tazkirah”. Tidak mengenal konsep “teguran” dari Yang Masa Kuasa.

Abu Janda, sebagai contoh, memelintir insiden ILC itu sebagai “keberhasilan” beliau memancing para pendukung khilafah (pendukung Ustad Felix) keluar dari sarangnya dan menyerang dia ramai-ramai. Denny S menyalahkan orang lain di acara ILC yang dianggapnya tak becus. Sampai-sampai pengasuh ILC, Pak Karni Ilyas, terpaksa mengeluarkan komentar “kalau tak bisa menari, jangan lantai disalahkan”.

Cara memelintir “kegagalan” menjadi “keberhasilan” atau memelintir “kegagalan” disebabkan oleh “suasana hostile”, menunjukkan bahwa Abu Janda dan Denny memiliki mental baja. Sayangnya, “baja” di sini lebih pas diartikan sebagai “degil”. KBBI menyebut “degil” sebagai sikap “keras kepala” atau “kepala batu”.

Sejalan dengan definisi Kamus Besar tadi, maka “batu” atau “besi” tidak mudah dipecahkan kecuali dengan batu atau besi juga. Sebab, “kepala yang keras” dan “kepala batu” tentu isinya batu atau besi. Nah, orang awam seperti Anda tak mungkin memecahkan batu atau mematahkan besi. Anda harus lebih dulu menjadi “keras kepala” atau “kepala batu”. Artinya, Anda harus mengganti isi kepala Anda dengan batu atau besi untuk memecahkan kepala batu.

Begitulah kira-kira situasinya jika Anda sedang menghadapi orang-orang degil.

Kalau tak salah, untuk orang dewasa, “degil” adalah salah satu refleksi dari “over-confidence“ alias percaya diri yang berlebihan. Di dunia sosial-politik, kepribadian “over-confidence” seringkali menimbulkan kehancuran ketika si pemilik sifat ini menjadi penguasa, pemimpin, atau panutan khalayak. Kalau dia seorang politisi yang sedang berkuasa, dia akan bertindak semberono tanpa perduli dengan masukan dari tim penasihatnya. Kalau di dunia sosial, seorang panutan khalayak akan membuat khalayaknya “nyasar” melalui khutbah-khutbah yang isinya menyesatkan.

Untuk anak-anak, “degil” bukanlah sifat yang perlu dikhawatirkan meskipun harus diberi perhatian khusus agar tidak terbawa-bawa ke jenjang usia berikutnya. Anak-anak yang degil masih besar kemungkinan untuk diubah.

Khusus untuk masyarakat Indonesia, pemimpin atau panutan yang kelebihan percaya diri bisa sangat merugikan “nation character building” (pembinaan karakter bangsa). Mengapa? Karena kita terbiasa dengan tabiat “makan saja” atau “minum saja” tanpa melihat label halal-haram dari kemasan makanan atau minuman yang disodorkan kepada kita. Tidak semua orang mau menerapkan slogan “teliti dulu sebelum dibeli”.

Abu Janda dan Denny Siregar adalah dua produsen “makanan sosial” yang banyak pelanggannya. Mereka berpotensi untuk menghancurkan konsumen yang membeli produk mereka jika mereka berpegang teguh pada kedegilan. Atau, sebaliknya berpotensi membangun karakter bangsa jika mereka membuang sifat degilnya.

Insiden ILC seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi kedua saudara kita itu. Tetapi, sangat bisa dipahami mengapa insiden itu sebaliknya menjadi pemicu bagi mereka untuk semakin membatu.

Sebab, bagi Abu Janda dan Denny Siregar, insiden ILC itu adalah masalah “life and death” (hidup-mati) bagi mereka. Di kursi panas TVOne itulah bungkus intelektualitas mereka terbuka, kulit kecendekiawanan mereka terkupas.

Sehingga, peribahasa “sepala mandi, biarlah basah” menjadi pilihan yang terelakkan bagi keduanya.

Oleh: Asyari Usman
(Penulis adalah Wartawan Senior)

Comment