Abu Janda dan Denny Siregar di Pusat Rehabilitasi Intelektualitas

Abu Janda dan Denny Siregar di Pusat Rehabilitasi Intelektualitas

SHARE

Sepekan setalah ILC berlalu, seorang teman menelefon saya sekitar jam 02.30, dinihari. Suaranya terdengar tergopoh-gopoh. Dia kesulitan untuk memulai percakapan. Saya katakan, “Coba tenang dulu, dek.”

“Iya, bang. Ok, bang.”

Ada apa?

“Gini, bang. Saya barusan bermimpi tentang Abu Janda dan Denny Siregar.”

Terus?

“Saya merasa berada di komplek yang bernama “Intellectuality Rehabilitation Centre”.

“Oh, itu ‘Pusat Rahabilitisi Intelektualitas’,” kata saya.

Singkat cerita, teman itu melihat Abu Janda (Abuja) dan Denny Siregar (Desi) sedang berada di IRC (Intellectuality Rehabilitation Centre). Di dalam mimpi itu, IRC terletak di pedalaman Madagaskar.

Dia bercerita bahwa Abuja dan Desi dirawat dengan serius oleh beberapa tim dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Ada tim psikologis, tim public acting (lakon di depan umum), tim knowledge enhancement (tambah ilmu pengetahuan), tim public speaking (berbicara di depan umum), dlsb.

Seperti Anda maklumi, kedua tokoh medsos Indonesia ini baru mengalami “self-humiliation incident” (insiden mempermalukan diri sendiri) di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne, belum lama berselang.

Prolog mimpi teman itu dimulai ketika dia sedang melakukan perjalanan eksplorasi di Madagaskar. Tiba-tiba dia berada di depan komplek yang sangat bagus dan rapi. Dia melihat Abuja dan Desi sedang megikuti sesi “panel speaking technique” (teknik berbicara panel). Sesi ini sangat rumit. Yang dibahas termasuk cara berbicara model panel diskusi. Cara mengatasi grogi, menjaga body language agar tak kelihatan sedang gemetar, dll.

Setelah Abuja dan Desi menyelesaikan sesi penambahan ilmu di segala bidang, dilakukanlah tes show televisi untuk mengetahui hasil rehabilitasi intelektualitas kedua bintang medsos ini.

Saking seriusnya untuk membantu tokoh muda itu, pihak IRC sengaja membuatkan simulasi studio ILC. Di sebuah ruangan besar di gedung IRC dibuatkan sebuah studio TV yang dekorasinya ditiru persis seperti studio ILC Karni Ilyas. Kemudian, para pakar IRC melakukan rekonstruksi acara ILC yang bertema “Reuni 212”. Semua detail acara dihadirkan di program simulasi ini. Pemeran Karni Ilyas juga dibuat semirip mungkin.

Para pembicara juga dihadirkan dan semua mirip seperti panel “Reuni 212” ILC. Ada Fadli Zon palsu, Fahri Hamzah palsu, Ustad Felix Siauw tiruan, Rocky Gerung tiruan, Prof Mahfud palsu, dan yang lainnya.

Acara simulasi ILC ini dibuat dalam tiga tingkatan intelektualitas. Para ahli menyaksikan simulasi dari luar ruangan yang berdinding kaca.

Tingkat pertama, intelektualitas para panel disesuaikan dengan tingkat Abuja dan Desi sebelum mereka dirawat di IRC. Alhamdulillah, di tahap ini keduanya lulus. Tingkat kedua, intelektualitas panel pro-Reuni dinaikkan ke posisi 40 (dari rentang 100), tampak kedua kader terbaik medsos itu mulai kewalahan melayani panel “Reuni-212” tiruan, tetapi masih dianggap lulus.

Sampailah pada simulasi ILC tingkatan ketiga. Di sesi ini, kadar intelektualitas lawan Abuja dan Desi dinaikkan ke titik 55 (dari rentang 100). Keduanya menunjukkan sinyal maksimum (kandas). Para ahli geleng-geleng kepala. Usaha mereka untuk merehab kapasitas Abuja dan Desi, gagal total.

Pihak IRC menyampaikan perminat maaf atas kegagalan diklat rehabilitasi yang mereka lakukan. Dengan raut muka yang muram, Direktur IRC Prof Manual Colamchebo, mengatakan Abuja dan Desi terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung zat yang disebut “pestisidos intelektualidad”. Dalam bahasa sini, “racun intelektualitas”.

Prof Colamchebo menjelaskan bahwa “racun intelektualitas” adalah semacam zat yang melakukan fungsi penolakan terhadap “brain enhancer” (penguat otak). Dalam bahasa yang lebih lugas, penolakan itu maksudnya adalah kondisi “insufficient brain capacity” (kapasitas ot** yang tak memadai).

“Sangat disayangkan kondisi ‘daleman’ (internal) kedua pasien menolak semua teknik rehabilitasi,” kata Prof Colamchebo.

Sebagai tambahan, IRC Madagaskar pernah juga merawat Donald Trump, tetapi pebisnis kaya ini melarikan diri beberapa bulan sebelum pencalonan dirinya sebagai presiden AS. Akhirnya, dalam kondisi minim intelektualitas, Trump terpilih sebagai presiden.

Oleh: Asyari Usman
(Penulis adalah Wartawan Senior)

Comment