Agama dan Kemunafikan

Agama dan Kemunafikan

SHARE

Ada dua pandangan tentang kaitan antara agama dan kemunafikan. Di satu sisi, orang bodoh dan munafik memeluk agama tertentu, sehingga agama tersebut membenarkan kemunafikan dan kebodohannya. Inilah cikal bakal segala bentuk kemunafikan dan kebodohan atas nama agama yang banyak kita lihat sehari-hari, mulai dari pembenaran atas kekerasan, nafsu birahi, sampai dengan kerakusan atas harta dan kuasa yang dibalut dengan ayat-ayat suci.

Di sisi lain, agama itu sendiri sudah selalu mengandung kemunafikan di dalamnya. Dengan kata lain, jauh di jantung agama-agama, ada hal yang membuat orang biasa menjadi munafik dan bodoh. Pandangan kontroversial inilah yang hendak saya gali lebih dalam.

Ketidakmungkinan

Agama adalah lembaga yang dibangun berdasarkan pada seperangkat nilai dan prinsip tertentu yang, menurut keyakinan mereka, berasal dari Tuhan, atau entitas transenden lainnya. Agama menawarkan arah kehidupan yang ideal pada pemeluknya. Arah kehidupan tersebut, juga menurut keyakinan mereka, akan menuntun orang ke Surga, atau tempat indah lainnya di dalam bayangan mereka. Jika melanggar atau melawan ajarannnya, maka neraka, atau tempat terkutuk lainnya, sudah siap menanti.

Masalahnya, prinsip dan nilai yang diajarkan agama tersebut tidak akan pernah terwujud di dalam kehidupan. Bahkan, para pemuka agama tersebut pun yang, seringkali secara tersembunyi, melanggarnya. Ketidakmungkinan dari prinsip dan nilai tersebut membuat banyak orang frustasi. Mereka selalu merasa kurang, berdosa dan tak berdaya.

Ada orang yang memilih untuk tetap merasa berdosa, dan kemudian menjadi semakin saleh menekuni agamanya. Orang-orang semacam ini mudah sekali diperalat oleh para pemuka agama untuk menjadi robot-robot patuh yang siap dihisap uangnya, atau diminta menggendong bom bunuh diri, demi harapan surga setelah mati.

Ada orang yang kemudian menyerah, dan kemudian memilih untuk menggunakan ajaran dan prinsip moral agamis untuk membenarkan hal-hal bejat di hati dan perbuatannya. Inilah orang-orang munafik yang berjubah dan fasih mengutip ayat suci, tetapi penuh cela di hati dan kehidupan sehari-harinya. Kita banyak melihat orang semacam ini di Indonesia.

Di hadapan keluruhan prinsip dan ajaran agamis, yang tak akan pernah mungkin menjadi kenyataan, orang jatuh ke dalam perasaan tak berdaya dan kemunafikan. Keduanya adalah penderitaan, baik bagi orang yang mengalaminya, maupun orang-orang sekitarnya. Ini tentu bukan merupakan keniscayaan. Ada jalan lain yang tentu bisa ditempuh.

Tegangan Kreatif

Akar kemunafikan adalah perbedaan yang begitu tajam antara kata dan tindakan. Perbedaan ini tentu tidak selalu bermuara pada kemunafikan. Ia bisa menjadi tegangan kreatif untuk mendorong orang untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Ia juga bisa membawa orang untuk berkembang keluar dari kesempitan pikiran dan pertimbangannya.

Bagaimana menumbuhkan tegangan kreatif ini, dan menjauhkan orang dari kemunafikan? Caranya adalah dengan menumbuhkan sikap kritis di dalam hidup beragama. Orang terbiasa untuk berpikir, bertanya dan menganalisis sebelum menerima ajaran apapun, termasuk ajaran agama. Orang menggunakan nalar dan akal sehatnya untuk mempertimbangkan, ajaran apa yang akan dipeluknya.

Sayangnya, sikap kritis pun juga kerap kali dianggap berbahaya oleh para pemuka agama. Banyak agama hidup dan berkembang dari kebodohan dan kemunafikan pemeluknya. Lembaga agama memperoleh banyak uang dan pengaruh politik, persis karena pemeluknya takut berpikir mandiri dan kritis. Yang dilestarikan kemudian adalah sikap patuh yang berdasarkan pada kepercayaan buta belaka.

Alhasil, orang dicabut dari keunikannya, dan dipaksa untuk menyatu dengan kerumunan. Orang menjadi gerombolan yang bisa disetir untuk kepentingan politik, mengeruk uang atau bahkan mengobarkan perang. Pola semacam ini jamak ditemukan di dalam sejarah agama-agama besar dunia. Di dalam agama semacam ini, kemunafikan dan kekerasan adalah makanan sehari-hari.

Ajaran indah agama hanya menjadi buih moral yang jauh dari tindakan nyata. Para pemuka agama dan orang-orang yang mengaku saleh berkhotbah tentang pentingnya nilai-nilai luhur. Walaupun, seringkali merekalah yang menjadi pelanggar utama dari nilai-nilai yang dikoarkannya sendiri. Kemunafikan bagaikan polusi yang tersebar di udara, walaupun orang kerap kali takut mengungkapkannya.

Sikap kritis terhadap ajaran agama akan menuntun orang ke dalam spiritualitas, yakni cara hidup spiritual yang tulus terungkap dari penghayatan batin, dan bukan dari kepercayaan buta terhadap sekelompok orang berjubah. Spiritualitas selalu bersifat revolusioner. Ia mengubah orang dari dalam. Ia mencela kemunafikan, sekaligus, pada saat yang sama, bersikap lembut dan penuh cinta pada orang-orang munafik.

Oleh: Oleh Reza A.A Wattimena
(Penulis adalah Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman)

SHARE
Comment