Agama Generasi Mileneal

Agama Generasi Mileneal

SHARE

Ayah, bisakah Aku saleh untuk satu agama?
Namun juga tumbuh sangat modern?

Aku tergetar suara adzan.
Alunan Quran sungguh mendayu.
hening tak hingga menyusup.
Teteskan air mataku.

Tapi kunikmati pula Ave Maria.
Oh hangatnya Natal.
Aku diundang teman.
Keluarga mereka kumpul.
Ceria membagi cinta.

Terpukau pula aku oleh Budha.
Sejauh itu batas pikiran.
Aku dilatih senior.
Meditasi membawaku ke sana.
Realita di balik dunia.

Tapi Kuyakini puncak peradaban.
Piagam Hak Asasi Manusia.
Demokrasi, media sosial, Bio teknologi.
Ini zaman baru, Ayah!
Tuhan ciptakan semesta.
Manusia ciptakan Teknologi.

Lihatlah Ayah.
Itu robot bisa bicara.
Komputer kalahkan manusia
Mesin ciptakan lagu.
Aplikasi tulis puisi.

Bisakah kunikmati semua?
Tapi saleh untuk satu agama?
Bolehkah?

Sudah 18 tahun usia Jaka.
Handphone selalu di sisi.
Bicara bercampur bahasa:
Kadang Indonesia, Inggris.
Kadang istilah Arab, Mandarin.

Ayah menatap mata Jaka.
Burung- burung bebas tebang.
Cakrawala tak berbatas.
Samudra maha luas mengalir di hitam ia punya mata.

“Oh Anakku tumbuh sudah.
Inikah Generasi Mileneal?
Ini sudah di luar imajinasiku.

-000-

Ayah bicara penuh kasih.
Galilah jawab untukmu, anakku.
Jawablah sendiri.
Apapun jawabmu.
Tumbuhkan cinta.

Ku ingin berimu arah.
Tapi kau putra masa depan.
Tak terjangkau oleh mimpiku.

Biarkan ilmu tumbuh mekar
Biarkan warga tumbuh beragam.
Biarkan negara berkiblat konstitusi.
Letakkan agama di tempat tertinggi.
Itulah mata air tempat kau peroleh makna.

Jangan rendahkan agama kontrol segala.
Biarlah cinta meraja.
Tuhan bicara lewat cinta.

Suara adzan memanggil.
Ayah dan Jaka sholat jamaah.
Ayah lanjut baca Quran.
Jaka lanjut mainkan handphone:
Update status di facebook,
Twitter dan Instagram.

Ayah baca buku Para Pembaharu.
Jaka baca Wikipedia.
Satu ruangan.
Beda dunia.

Oleh: Denny JA

SHARE
Comment