Ahok Effect, Jokowi Bisa Ditinggal Pemilihnya 2019

Ahok Effect, Jokowi Bisa Ditinggal Pemilihnya 2019

SHARE

Publik-News.com – Kakalahan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dari Anies Baswedan dalam Pemilihan Kepala Daerah DKi Jakarta terus menjadi perbincangan banyak pihak dalam berbagai forum seminar dan diskusi publik. Sebab, kekalahan Ahok ini diprediksi akan berpengaruh terhadap kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jika maju kembali sebagai Capres pada Pemilu 2019.

Demikian kira-kira kesimpulan diskusi bertajuk “Ahok Effect: Prediksi Politik Indonesia 2019. Diskusi ini digelar Persatuan Pergerakan di Restoran Suharti, Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (3/5/2017. Hadir sebagai narasumber adalah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono, Presiden KSPI, Pengamat LIPI, Siti Zuhro.

Menurur Ferry, perolehan suara Ahok 42,33 persen dan Anies 57,67 persen pada Pilkada DKI putaran kedua menggambarkan politik tanah air dan tergerusnya kepercayaan rakyat terhadap Jokowi. Kekalahan Ahok ini menunjukkan bahwa rakyat sedang menang.

“Kalau Ahok dapat 42 persen, itu yang menggambarkan Jokowi. Jokowi sudah tidak bisa apa-apa (bikin pencitraaan. Mobil ESEMKA (gagal). Kemarin di Hongkong bilang pertembuhan ekonomi Indonesia nomor 3 di Asia, setelah India,” ujar Ferry.

Menurut Ferry, dukungan materi (duit) dan kekuasaan kepada Ahok untuk memenangkan Pilkada ternyata tak bisa mengalahkan suara rakyat. Bayangkan saja, anda kata Ahok tak didukung kekuasaan dan modal dan yang cukup banyak, kata Ferry, perolehan suara Ahok bisa mencapai 35 persen.

“BIN, polisi turun tangan. Kalau tidak diintervensi, mungkin tinggal 35 persen (perolehan suara Ahok),” pungkasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Said Iqbal. Dia memaparkan bahwa kekalahan Ahok dari Anies Sandi karena kebijakan Ahok selama menjadi Gubernur tidak berpihak pada rakyat. Dia menggambarkan Pilkada DKI dalam perspektif buruh. Menurutnya, Ahok membangkitkan politik identitas.

“Ahok ini membangkitkan politik identitas. Dan 2018, kami akan memutuskan siapa presidennya. Kita selama ini pakai dana organisasi untuk membiayai politik. Ini tidak salah,” tegasnya.

Sementara itu, Situ Zuhro mempertahyakan kenapa mesti Effect Ahok. Jika Affect Ahok disandingkan dengan prediksi politik tanah Air 2019, kata dia, cukup tidak adil.

“Kenapa harus Ahok effect, bukan Anies affect. Kan tidak adil. Tapi Buat saya Ahok masa lalu. Capek kita kalau terus-terusan begini,” ucap dia.

Dia menegaskan, semua pihak harus mendukung kepemimpinan Anies-Sandi. Sebab, kepemimpinan Anies-Sandi akan diwarnai tuntutan oleh masyarakat dengan menagih janji kampanye Anies-Sandi.

“Tuntutan masyarakat hanya secara fisik, tapi juga secara ekonomi. Jadi ini kita bunyikan Anies affect,” tukasnya.

Lebih lenjut, Siti Zuhro, kemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta akan semakin membuat partai pengusung, khususnya Partai Gerindra diminati rakyat. Sebab, partai yang dipimpin Prabowo ini, kata dia, cukup mendengarkan aspirasi rakyat.

“Berkali-kali saya katakan pada Gerindra jangan salah pilih (calon pemimpin). Dan Anies ini membuat Gerindra sedang diminati rakyat karena mampu menjaga aspirasi,” katanya.

Menurut Siti Zuhro, Anies-Sandi harus memberikan terobosan dalam kepemimpinannya di tahun pertama. Sebab, jika selama 1 tahun tidak memberikan manfaat untuk masyarakat, maka hal itu akan menjadi taruhan bagi Anies-Sandi dan partai pengusungnya. Anies juga jangan sampai tergiur jika, misalnya, ditawari untuk menjadi Capres 2019

“Makanya jangan direcoki. Saya berulang kali bilang tak setuju Jokowi jadi capres karena dia jadi gubernur. Tapi dalam debat kemarin, pak anies sudah bilang tak akan nyampres,” katanya. (RF)

SHARE
Comment