Home Hukum Ahok Jelaskan Niatnya Saat Mengutip Surat Al Maidah 51

Ahok Jelaskan Niatnya Saat Mengutip Surat Al Maidah 51

Publik-News.com – Publik-News.com – Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menyampaikan nota keberatan atas dakwaan yang dibuat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kajaksaan Agung dalam sidang penistaan agama Ahok di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di gedung eks PN Jakpus, Jl Gajah Mada, Jakpus, Selasa (13/12/2016).

Nota keberatan Ahok ini merupakan bantahan terhadapa surat dakwaan No. Reg. perkara perkara : PDM – 147/JKT.UT/12.2016. Sebelum membacakan pembelaan, dia menyampaikan rasa hormatnya kepada Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat hukum serta para Hadirin yang hadir dalam persidangan tersebut.

“Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan, yang diberikan kepada Saya,” ujar Ahok.

Menurut Ahok, apa yang dakwakan dan dituduhkan kepada dirinya serta adanya penggiringan opini. Sebab, apa yang dikatakannya saat bedialog dengan warga Kepulauan Seribu Ahok mengaku tidak bermaksud menistakan agama Islam dan umat Islam.

“Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, dimana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu, bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk menghina para Ulama. Namun ucapan itu, saya maksudkan, untuk para oknum politisi, yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada,” pungkasnya.

Ahok ditetapkan menjadi tersangka penistaan agama oleh penyidik Bareskrim Polri. Penetapan Ahoks sebagai tersangka ini karena penyidik mengaku sudah menemukan alat bukti yang cukup setelah mengumpulkan bukti-bukti dari berbagai pihak.

“Ada pandangan yang mengatakan, bahwa hanya orang tersebut dan Tuhan lah, yang mengetahui apa yang menjadi niat pada saat orang tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu. Dalam kesempatan ini di dalam sidang yang sangat Mulia ini, saya ingin menjelaskan apa yang menjadi niat saya pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu tersebut.

“Dalam hal ini, bisa jadi tutur bahasa saya, yang bisa memberikan persepsi, atau tafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang saya niatkan, atau dengan apa yang saya maksudkan pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu,” katanya. (Taufik)

Comment