Aidit Klaim Tokoh Pancasilais, Tapi Menangkap Para Ulama

Aidit Klaim Tokoh Pancasilais, Tapi Menangkap Para Ulama

SHARE

Publik-News.com – Pemikiran DN Aidit tentang pancasila dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Aidit Membela Pantjasila”. Sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu, ia mengklaim dirinya sebagai sosok pancasilais.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pancasila, ia meyakinkan Ir. Soekarno bahwa PKI bisa berdampingan dengan partai politik lainnya. Dikatakannya, PKI tidak anti agama, tetapi agama tidak bisa mewakili PKI dalam menjalankan program dan politik PKI.

Ia mengatakan walaupun dalam tubuh PKI anggotanya banyak yang beragama islam, tetapi hal-hal yang ada di agama tidak bisa menjadi dasar mengambil keputusan dalam menjalankan PKI.

Aidit melalui bukunya itu, menegaskan jika PKI tidak masalah dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang tertuang pada sila pertama pancasila. Sikap proganda yang sebetulnya bermuka dua ini berhasil menarik simpati Soekarno hingga PKI dan Soekarno bisa hidup berdampingan secara pemikiran.

Namun, pemikiran dan sikap Aidit ini kemudian bertolak belakang dengan sikap politiknya dengan melakukan pemberontakan yang dikenal G30S/PKI. Beruntung, saat itu dibawah Mayjen Soeharto bisa mencegah pemberontakan yang lebih besar dari PKI. Soeharto kemudian berhasil melibas aturan-aturan yang dibuat Soekarno yang dikenal dengan kekuasaan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret)

Sebab, disaat itu, PKI yang berpura-pura mendukung pancasila pada akhirnya melakukan penangkapan terhadap para ulama. PKI menganggap pancasila harus berdiri di atas agama. Sehingga ajaran-ajaran yang berkaitan dengan agama harus ditumpas.

Tentunya, gerakan PKI ini tidak bisa lepas dari peran Aidit. Ia dikenal sebagai sosok bermuka dua, memainkan proganda seolah mendukung pancasila tetapi sebetulnya ingin menghilangkan agama dari pondasi negara. (Fq)

SHARE
Comment