“AKU” di dalam Penderitaan

“AKU” di dalam Penderitaan

SHARE

Kerap kali, kita merasakan emosi yang sangat kuat. Kebencian atau kesedihan menguasai batin. Bagi banyak orang, ini merupakan masalah besar. Akibatnya, mereka jadi ganas dan jahat pada orang lain, bahkan pada orang-orang terdekatnya.

Pikiran-pikiran mengerikan juga kerap datang tanpa diundang. Ketakutan dan kecemasan akan masa depan yang tak pasti menerkam jiwa. Penyesalan atas masa lalu yang menyesakkan dada sering datang berkunjung. Jika itu semua amat kuat dan terjadi dalam waktu lama, orang bisa sakit, entah sakit jiwa, kanker, jantung, darah tinggi maupun kelainan hormon.

Ini semua merupakan penderitaan hidup. Banyak orang yang tak tahan dengan itu semua, sehingga bunuh diri. Banyak pula yang menekan dan menyembunyikannya dalam-dalam. Tak heran, orang yang terlihat tenang lalu tiba-tiba bunuh diri, atau didatangi penyakit mengerikan.

Penyelidikan AKU

Ada jalan keluar sederhana yang berpijak pada kebijaksanaan Timur. Usianya sudah lebih dari 6000 tahun. Bentuknya adalah pertanyaan. Ketika emosi dan pikiran jelek (seperti kebencian, ketakutan, kecemasan dan kesedihan) datang menghantam, kita bertanya: SIAPA YANG MENGALAMI INI?

Jawaban spontan adalah SAYA, atau AKU. Nah, disinilah letak kunci jawabannya, yakni bertanya: SIAPA AKU? APAKAH ADA YANG DISEBUT AKU? Mari kita perdalam hal ini.

AKU adalah kata dan konsep yang menggambarkan sesuatu yang bersifat tetap, yakni diriku. Namaku Reza. Kata AKU menyiratkan paham, seolah Reza itu sesuatu yang tetap, walaupun usianya menua, rambutnya mulai putih, dan sebagainya. Nah, apakah pemahaman ini benar? Apakah Reza adalah sesuatu yang tetap?

Jawabannya jelas TIDAK. Segala sesuatu terus berubah saat demi saat di dalam hidup ini. Tidak ada SATU hal pun yang tetap. AKU dan SAYA pun terus berubah dari saat ke saat.

Maka, sebenarnya, keduanya tidak ada. AKU dan SAYA itu TIDAK ADA! Ketika kita menyebutnya, mereka segera berubah menjadi sesuatu yang lain. Aku yang kemarin bukanlah aku yang hari ini. Aku yang tadi pagi bukanlah aku yang siang ini.

Inilah hidup. Inilah kenyataan sebagaimana adanya. Tidak ada aku, dan tidak ada orang lain. Semua itu adalah konsep dan kata yang menipu kita, seolah ada hal yang tetap di dalam hidup ini.

Fakta Alamiah

AKU YANG TIDAK PERNAH ADA; Fakta alamiah ini didukung oleh kebijaksanaan Timur, baik Vedanta, Buddhisme maupun Taoisme. Ia juga didukung oleh beragam penelitian ilmiah terbaru di bidang neurosains. Konsep “AKU” adalah ilusi semata yang berguna untuk kepentingan praktis belaka, seperti pencatatan penduduk atau komunikasi sehari-hari. Ia bukanlah kenyataan.

Ketika pikiran dan emosi kuat melanda, kita lalu sadar, bahwa tidak ada AKU yang mengalami semua ini. Emosi lalu sekedar emosi. Pikiran, sejelek apapun, juga hanya sekedar pikiran. Tidak ada AKU di dalamnya.

Coba anda terapkan ini, ketika emosi dan pikiran datang melanda. Pengalaman saya, dan pengalaman jutaan orang lainnya, adalah: semua jadi terasa ringan. Emosi dan pikiran datang dan pergi begitu saja. Mereka cepat berlalu. Memaafkan dan move on menjadi semudah membalikkan telapak tangan.

Hidup kita pun jadi ringan dan jernih. Kita lalu bisa menjalankan semuanya dari saat ke saat dengan kebahagiaan dan kedamaian hati. Orang-orang sekitar kita terbantu dengan keberadaan kita. Penderitaan bisa datang berkunjung, namun ia bisa segera pergi, tanpa jejak.

Tidak percaya? Coba saja..

 

Oleh : Reza A.A Wattimena

(Penulis adalah Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman)

SHARE
Comment