Anak Buah Jokowi Khawatir Politik Sektarian Digaungkan di Pilkada dan Pilpres 2019

Anak Buah Jokowi Khawatir Politik Sektarian Digaungkan di Pilkada dan Pilpres 2019

SHARE

Publik-News.com – Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo menjadi pembicara diskusi publik pada acara Musyawarah Kerja Nasional dan Pelantikan Pengurus Gerakan Mahasiswa KOSGORO Jawa Timur 2017 di Hotel Ningrat, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (23/12/2017).

Dihadapan kader Gema Kosgoro, dia memaparkan soal politik sektarian. Kata dia, Politik sektarian ini kembali digaungkan dan terlihat pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta pada 2016 silam. Padahal, jika politik identitas semacan ini terus digaungkan, maka hal itu akan mengancam disintegrasi bangsa.

“Tidak hanya di Pilkada DKI. Politik sektarian ini juga bisa berdampak pada Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019,” papar dia pada Mukernas DPN Gema Kosgoro bertajuk “Menangkal Radikalisme Membumikan Pancasila” itu.

Kendati demikian, ancaman disintegrasi bangsa selalu dapat dicarikan solusinya oleh pemerintah. Setiap rezim, ada perbedaan penanganan ancaman disigerasi bangsa. Pada masa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), katanya, pemerataan pembangunan keadilan menjadi cara yang dapat dijadikan alat untuk menyatukan rakyat Indonesia.

“Cara presiden sekang dalam mempersatukan bangsa atau mempetransfomasikan pembangunan yang Jawa sentris menjadi Indonesia sentri,” katanya.

Jika selama ini pembangunan ekonomi hanya dikonsentrasikan di Jawa dan sekitarnya, namun cara itu dirubah oleh Jokowi. Jokowi tidak hanya menggalakkan pembangunan, khususnya infrastruktur di Jawa tapi juga di Jawa.

“Kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi. Itu pondamen untuk menggerakkan ekenomi, pendidikan, pembangunan manusia dan yang lainnya. Dan potensi investasi di kuar Jawa selalu meningkat. Ini karena kebijakan ekonomi Indonesia sentris ini bagus,” cetusnya.

Menurut dia, kebijakan ekonomi Indonesia sentris yang digaungkan Jokowi ini dapat mengatasi persoalan ancaman disintegrasi bangsa. Apalagi, ada Pancasila menjadi pemersatu. Disebutkan bahwa Pancasila adalah konsensus nasional yang yang menyatukan Indonesia yang majemuk menjadi satu ikatan bangsa Indonesia. Para pendiri bangsa yang merumuskan Pancasila menyadari bahwa Indonesia memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa, suku, dengan tradisi yang budayanya yang beragam.

Untuk itu, katanya, diperlukan landasan berngera yang bisa diterima semua pihak.
Dengan demikian, Pancasila selain menjadi dasar dan falsafah negara, sekaligus alat pemersatu bangsa. Selain itu, Pancasila juga menjadi “roh” penggerak bangsa Indonesia dalam menapaki tantangan zaman.

“Dalam menghadapi tantangan ini, nilai-nilai ideal yang terkandung dalam kelima Pancasila harus menjadi realitas bangsa,” katanya. (PN)

Comment