Anomali Dalam Perdagangan Komoditas Pangan

Anomali Dalam Perdagangan Komoditas Pangan

SHARE
Gambar diambil dari www.suara.com/foto/2016/06/07

Sari Berita

Publik-News/Rabu 8 Juni 2016

 

Situasi harga sejumlah kebutuhan pokok seperti daging, beras, minyak, bawang yang terus melambung bukannya tanpa disadari oleh Pemerintah. Jauh-jauh hari, tepatnya pada tanggal 4 januari 2016 Presiden Joko Widodo dalam siding cabinet paripurna telah mewanti-wanti agar harga-harga kebutuhan pokok menjelang ramadhan tahun ini benar-benar distabilisasi. Tanggal 27 Januari instruksi Presiden kepada Menteri dan instansi terkait diulang kembali dalam rapat terbatas masalah kebijakan pangan. Kembali pada tanggal 24 april 2016 Presiden menekankan “apa yang sudah biasa terjadi selama bertahun-tahun jelang Ramadhan dan Idul Fitri harus kita jungkir balikkan. Kalau biasanya harga pangan naik, tahun ini justru harus turun”. Presiden menambahkan “Saya ingin, ketersediaan bahan-bahan pokok yang berkaitan dengan harga daging, harga minyak, betul-betul menjadi perhatian utama. Demikian sebagaimana dimuat dalam headline Harian Kompas Rabu 8 Juni 2016.

Instruksi Presiden itu nampaknya belum direspons pasar secara positif. Harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar terus melambung tinggi dalam beberapa pekan terakhir ini, kenaikan cukup signifikan antara lain terjadi pada harga daging sapi yang hingga kemarin belum bisa terkendali.

Dari pantauan di sejumlahj pasar, kenaikan harga daging sapi perkilogramnya mencapai Rp.5000 hingga Rp40.000. Di Palmerah, Jakarta Barat, harga satu kilogram (kg) daging sapi telah menembus Rp130.000 dari harga sebelumnya sebesar Rp90.000/kg sementara di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat harga daging sapi mencapai Rp.120.000/kg dari harga normal Rp.90.000/kg.

Koran Sindo (Selasa, 7 Juni 2016) menuliskan selain daging sapi dan telur ayam, kenaikan kebutuhan pokok yang naik signifikan dalam beberapa hari terakhir adalah cabai merah dan gula pasir.

Tata Niaga Pangan Buruk

Tata niaga pangan yang buruk belum dibenahi. Rantai distribusi yang panjang masih terjadi pada beberapa komoditas sehingga harga pangan mahal. Akibatnya, petani dan peternak yang menjadi produsen pangan belum diuntungkan meski harga melonjak.

Beberapa petani yang ditemui Kompas sejak pekan lalu dan Senin (6/6) mengatakan, harga pangan yang melonjak tak pernah mereka nikmati. Masalah ini muncul karena rantai distribusi komoditas sangat panjang.

Peternak sapi potong di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mengatakan, kenaikan harga daging sapi di pasar sebenarnya merupakan kesempatan emas bagi peternak, tetapi mereka tak bisa menikmati kenaikan ini. ”Sebagai peternak sapi kategori kecil, dengan jumlah sapi pemeliharaan di bawah 50 ekor, kami tidak pernah menikmati harga sapi tinggi,” ujar Ardiansyah, peternak sapi di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran.

Peternak sapi lain di Desa Polosiri, Kecamatan Bawen, Suparyanto, mengatakan, kenaikan harga daging sapi hanya dinikmati pedagang, baik pedagang sapi di pasar hewan maupun pedagang daging di pasar.

”Pekan lalu saya membawa enam ekor sapi ke Pasar Hewan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Bobot sapi yang saya bawa 450 kilogram sampai 550 kg dengan harga per ekor Rp 21 juta. Ternyata, sapi terkecil saya malah ditawar pedagang Rp 18 juta, akhirnya saya bawa pulang lagi,” kata Suparyanto, yang memperlihatkan posisi pedagang menekan petani. Demikian Harian Kompas meberitakan Selasa, 7 Juni 2016.

Menanggapi situasi tersebut, Guru Besar IPB, Prof. Dwi Andreas Santosa yang juga Ketua Umum Assosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia itu menyatakan pemerintah punya masalah serius soal data produksi di Indonesia.

“Kesalahan utama pemerintah, data di atas kertas berbeda dengan data di lapangan. Ketidakakuratan data, berimbas pada tata kelola pangan daging sapi. Ini (harga daging Rp 170 ribu per kilogram) harga rekor tertinggi yang belum pernah kita alami,” ujar Andreas. (Rakyat Merdeka, Selasa 7 jun 2016). Terjadinya perbedaan data pangan seperti yang sampaikan Dwi Andreas itu juga dikemukakan oleh Ketua Komite Persaingan Usaha, Muhammad Syarkawi Rauf  di Jakrarta, senin 6 juni 2016. Syarkawi menjelaskan, data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut, besaran konsumsi daging 2.61 kilogram (kg) per kapita per tahun. Sedangkan, Kementerian Pertanian mencatat besaran konsumsi daging sapi di kisaran 1.75-1.76 kg per kapita per tahun.

Perbedaan data ini, menurut Syarkawi, berimplikasi pada penentuan kuota impor yang telah menjadi kebijakan pemerintah. Untuk menstabilkan harga saat Ramadhan dan Lebaran tahun ini, pemerintah berencana mengimpor 10 ribu ton daging sapi. Demikian sebagaimana ditulis Harian Republika, Selasa 7 juni 2016.

Perlu Solusi Cepat

Situasi anomali yang terjadi akibat panjangnya mata rantai distribusi pasar pangan ini, menurut Sutrisno Bachir selaku Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional harus dijawab dengan memperpendek mata rantai distribusi pangan. Sementara itu Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta aparat keamanan untuk menelurusi terjadi anomaly dalam mata rantai distibusi pangan. Amran mengatakan ada anomali dalam perdangangan komoditas, karena jumlah pasokan setelah pemerintah melakukan intervensi pasar telah berlebih dari kebutuhan, tapi harga tidak kunjung turun. Presiden, menurut  Amran telah meminta Kapolri untuk menyelidiki rantai pemasok.

Sementara itu Menteri Perdangan Thomas Lembong mengatakan pemerintah terus membenahi perencanaan mengenai produksi, impor dan distirbusi daging sapi. Menurut Lembong, Wakil Presiden telah mengingatkan para Menteri agar patuh pada perencanaan. Semoga situasi bisa segera diatasi. []

SHARE
Comment