Home Opini Antara Warung Nasi Saeni dan Muslim Rohingya, Jokowi Ada Dimana?

Antara Warung Nasi Saeni dan Muslim Rohingya, Jokowi Ada Dimana?

Masih ingat kah Bu SAENI? Itu lho seorang Ibu pemilik warung nasi di serang Banten yang warungnya di tutup oleh satpol pp Karena warung nasinya buka di siang hari di Kala sebagian besar Umat Islam serang dan Banten berpuasa. Berita Penutupan warung nasi Saeni ini menjadi head line kompas, detik. Com, serta beberapa Televisi Nasional. Begitu penting kah warung Saeni ini?, begitu penting kah secara Nasional warung bu Saeni ini?

Ada Strategis Apa sehingga warung Saeni ini membutuhkan kehadiran president Jokowi dan Mendagri Tjahyo Kumolo dalam memberikan sumbangan?. Satpol PP menutup warung nasi Saeni adalah menegakan aturan sosial dalam rangka membangun toleransi dalam hubungan sosial. Bahwa hubungan sosial tidak hanya di dasarkan pada sosial kontrak saja secara horizontal tapi juga harus di ikat pada dimensi sosial ILLahiyah.

Tapi Benarkah kelompok media yang memblow up penutupan warung Bu Saeni karena murni dorongan kemanusian?????. Umat Islam harus paham bahwa di Indonesia ini ada gerakan anti kemapanan syariat Islam, anti Islam, anti kemoyoritasan Penduduk Muslim di Indonesia. Mereka cuma kelompok minoritas radikal, Rasis, fasis dan anti sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Head line pemberitaan yang di lakukan Kompas dan Detik. Com serta beberapa media televisi Nasional termasuk President Jokowi dan Tjahyo Kumolo menyumbang Bu Saeni, Apakah karena semata mata menyangkut rasa Iba?, rasa kemanusian yang tinggi terhadap Bu Saeni ini???

Jawabannya adalah bukan. Akan tetapi di dorong untuk memojokan syariat Islam, Syariat Islam, di mana Umat Islam sangat memuliakan dan menghormati bulan suci Ramadan. Mengsetting Penutupan warung nasi bu Saeni sebagai head line berita adalah bentuk intolerans minoritas terhadap mayoritas.

Sejak President Soekarno, Soeharto, Sampai SBY adalah pakem syariat bahwa menghargai orang yang berpuasa pada bulan Suci Ramadhan adalah wajib secara sosial tolerans. Mengapa Jokowi dan Tjahyo Kumolo ikut memberikan perhatian serius terhadap kasus pemutusan warung nasi Saeni ini?

Bukan kah Jokowi dan Tjahyo juga tau bahwa menghormati orang yang sedang berpuasa di bulan Suci Ramadhan sudah berlangsung sebelum Indonesia merdeka?. Menghormati warga Indonesia yang sedang melaksanakan ajaran Agamanya adalah sebuah kebersamaan dalam menghargai satu sama lain? dus bagian dari revolusi mental.

Lalu bagaimana dengan Pembantaian Muslim Rohyngya?

Apa yang terjadi pada penderitaan muslim Rohyngya tidak sebanding dengan Bu Saeni. Tapi apakah ada kehadiran Jokowi sebagai President RI yang mana penduduknya mayoritas Muslim terhadap kejahatan kemanusian pada muslim Rohyngya?

Jokowi sebagai President RI miliki kekuasaan dan kewenangan untuk menghentikan kejahatan kemanusian pembantaian muslim Rohyngya yang di lakukan tentara Myamar, polisi Myamar serta para biksu biksu musrik dan fasis. Jokowi sebagai president RI memiliki kepentingan baik sebagai president maupun sebagai seorang muslim.

Kepentingan Jokowi sebagai seorang president RI dimana rakyatnya beragama Islam adalah sebuah Negara yang memiliki pengaruh serta daya tekan yang kuat terhadap Negara Negara Anggota ASEAN termasuk Myamar. Jokowi sebagai President RI bisa memerintahkan Duta besar Indonesia di Myamar untuk menekan Aung San Suu kiy agar menghentikan pembantaian terhadap penduduk anak anak, wanita serta orang orang tua pada muslim Rohyngya.

Jokowi sebagai president RI dapat menekan Myamar baik melalui cara cara kerja sama sesama Anggota ASEAN maupun aksi militer. Demikian juga, Jokowi sebagai seorang muslim yang kebetulan saat ini di percaya Allah menjadi President RI, sudah kah Jokowi berbuat atas dasar sesama muslim membantu dan menolong saudara muslim Rohyngya nya?.

Namun sangat di sayangkan, sebagai president RI Jokowi tidak sereaktif dalam kasus bu Saeni.

Momentum Kemanusian muslim Rohyngya yang dilakukan oleh secara resmi Pemerintahan Myamar serta di dukung para biksu musrik, semestinya Jokowi sebagai President RI dapat mengkokohkan posisi RI di kawasan Asem sebagai stabilitas politik, keamanan serta kemanusian dikawasan Negara Negara ASEAN.

Tapi sayang nampaknya Jokowi mencoba untuk mengambil posisi Netral terhadap isu isu yang menyangkut Umat Islam meskipun didepan mata ada pembantaian muslim Rohyngya di Myamar. Akan tetapi jika ada kasus kasus yang menyangkut pelaksanaan syariat Islam sepertinya Pemerintahan Jokowi sangat reaktif.

Pernyataan Dubes Myamar Di Indonesia kemarin, bahwa kasus Rohyngya bukan konflik Agama adalah bohong besar dan manipulatif, Kalau bukan konflik Agama Mengapa biksu biksu musrik ini terlibat dalam pembantaian etnis muslim Rohyngya serta membakar masjid. Apa yang terjadi di Rohyngya Myamar adalah konflik Agama.

Oleh sebab Itu President Jokowi harus menunjukan keberpihakannya baik atas nama Negara RI maupun Jokowi atas nama pribadi seorang Islam, lain halnya Kalau Jokowi tidak memiliki hubungan emosional dengan muslim di seluruh dunia yang sedang tertindas seperi muslim Rohyngya Myamar ini.

Oleh: Habil Marati
(Penulis adalah mantan Anggota DPR RI 1999-2009)

Comment