Home Politik Bahas Kopi Nusantara, Puluhan Aktivis Ngumpul di Kedai Kopi Perjuangan

Bahas Kopi Nusantara, Puluhan Aktivis Ngumpul di Kedai Kopi Perjuangan

38

Publik-News.com – Puluhan aktivis dari berbagai kalangan kembali berkumpul di Kedai Kopi Perjuangan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/4/2018). Diantara mereka ada aktivis yang dari Jawa Barat seperti Ery Muh. Roffi, dari Aceh Munawar Kholik, dan dari Lombok Muh. Syaiful Wathan.

Pertemuan para aktivis ini dimulai pada pukul 15:00 WIB. Tema pertemuan ini bertajuk “Historia Kopi Nusantara”.

Ery sebagai pembicara mengulas panjang lebar tentang sejarah kopi Nusantara, khususnya yang ada di Jawa Barat. Kata dia, pada abad ke 17, produk kopi di daerah Cianjur merupakan daerah yang memproduksi kopi terbesar pada masa itu.

“Di sana ada kopi rasa jeruk. Namun kopi di Jabar pernah punam karena ada perlakuan tanam paksa yang diberlakukan kolonial belanda kepada petani kopi,” ujar dia.

Punamnya kopi di Jabar, menurut Ery, karena faktor penyakit hama yang melilit tanaman kopi yang tidak dapat dicarikan solusinya oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Ery menambahkan, kopi kerap menjadi sumber inspirasi bagi peminatnya. Misalnya, ketika ada pihak penikmat kopi berkumpul dan membicarakan sesuatu di restoran, kedai dan warung kopi, kopi dapat berdampak positif dan negatif.

“Ia dapat dijadikan sumber untuk membuat kebijakan, perubahan sosial dan lain-lain. Jadi dengan kopi ini pada titik tertentu bisa berdampak,” tukasnya.

Ditempat yang sama, Muh. Syaidul Wathan mengulas hal yang sama. Menurut dia, pada tahun 1914, Indonesia pernah menjadi salah satu negara sebagai pemasok kopi terbesar di dunia.
“Pada 1914, Indonesia sebagai negara pemasok kopi nomor empat di dunia, setelah brazil,” katanya.

Kendati demikian, menurut dia, kopi baru masuk ke Nusa Tenggara, khususnya Lombok, baru masuk pada tahun 1941. Yang membawa kopi ke sana adalah Belanda. “Di sana ada kopi arabica yang ditanam petani pada masa Belanda,” tuturnya.

Dia menuturkan bahwa ada nama kopi lain yang ada di Lombok. Kopi itu bernama kopi pahlawan. Kopi merk ini sudah ada di Jakarta dan daerah lain. Kopi ini ada yang berasa coklat dan ada pula yang berasa ubi.

“Tapi tergantung proses pembuatannya. Beda penyeduhan beda pula rasanya,” kata dia sambari mengatakan bahwa kopi dapat menjadi sumber penyakit dan obat, tergantung proses pembuatannya.

Dia menambahkan tentang orang Arab yang menjadi penikmat kopi. “Orang Arab menggunakan kopi sebagai kebugaran. Orang sufi menjadi kuat karena kopi. Dan Keluarnya ide-ide untuk memerdekakan Indonesia dimulai dari warung kopi,” kata dia yang sambut tepuk tangan oleh sejumlah aktivis yang hadir pada acara ini.

Sementara itu, Munawar Khalil juga membicarakan produk dan pertanian kopi di daerahnya, Aceh. Menurutnya, kopi Aceh yang selama ini tersebar di sejumlah daerah memiliki keunikan tersendiri.

“Kopi Aceh ini unik dan juga dibicarakan banyak kalangan karena kopinya enak. Yang bawa kopi ke Aceh juga Belanda. Di sana menjadi berkembangnya kopi Arabica pada 1924. Dan Kopi gayo yang ada di sana itu sebenarnya kopi Arabica,” katanya. (Rf/Ed).

Comment