Berpolitik ala Tiki-Taka Barcelona

Berpolitik ala Tiki-Taka Barcelona

SHARE

POLITIK bukan uji coba, bukan juga sekadar coba-coba. Berpolitik itu meniscayakan kemantapan visi, keyakinan hati, dan keteguhan jiwa untuk berbuat yang terbaik. Sehingga tentu ia tidak “grasak-grusuk” dalam menentukan dan merumuskan kebijakannya.

Inilah setidaknya modal politik yang diterapkan Ernesto Valverde, pelatih Barcelona ketika menyusun skuatnya, termasuk saat menghadapi Deportivo Alaves dini hari tadi. Dalam laga itu, Barca sempat tertinggal lewat gol John Guidetti sebelum Luis Suarez dan Lionel Messi membalikkan kedudukan menjadi 2-1.

Tapi, bukan soal skor atau hasil yang menjadi perhatian saya, tetapi bagaimana Valverde mampu menentukan sikap dan kebijakan yang tepat dalam membangun strategi baru ketika Barca tertinggal. Dia tidak panik. Dia juga tidak emosi saat timnya tertinggal.

Sebaliknya, dia terus mencoba melakukan mapping, dengan membaca lawannya secara kaffah. Hal itu guna menentukan policy dan bagaimana pola menghadapinya. Siapa pemain-pemain yang layak diganti dan siapa yang pantas dipertahankan di atas lapangan.

Tentu Valverde tidak berpikir seperti Megawati Soekarnoputri yang langsung main ancam copot Ketua DPC PDIP di Sumatera Utara jika gagal mengantarkan Djarot Saiful Hidayat sebagai gubernur Sumut. Bagaimana pun kata Mega, eks kompatriot Ahok saat berlaga di DKI itu harus terpilih.

Valverde tidaklah demikian. Ia tetap memperhatikan proses secara utuh.

Valverde juga “ogah” terjebak dalam stigma popularitas dan kebintangan. Bagi Valverde, populer bukan jaminan untuk jadi rujukan pemain terbaik.

Inilah yang dia perlihatkan ketika dia mengabaikan popularitas Countinho. Meskipun pemain asal Brasil itu memiliki kebintangan dengan harganya yang cukup mahal saat dibeli dari Liverpool, tetapi dalam pertandingan tadi karena dia tidak cukup mengesankan, dia diganti beberapa menit setelah masuk babak kedua.

Pola ini barangkali dekat dengan sosok Prabowo dalam memandang bahwa “the right man on the right place” tidak harus ditetapkan berdasarkan kebintangannya. Prabowo cukup berani ketika menentukan Mayjen (Purn) Sudrajat sebagai calon gubernur Jawa Barat ataupun Sudirman Said sebagai calon gubernur Jawa Tengah. Kebintangan dua orang ini, terutama Sudrajat masih cukup rendah ketika dibandingkan dengan calon lainnya, terutama Deddy Mizwar.

Tapi, kenapa Prabowo melakukan itu? Jawabannya adalah kemantapan hati.

Dalam kacamata politik pemerintahan akhir-akhir ini, terutama terkait reshuffle kabinet yang terbaru, banyak pihak tidak puas. Misalnya penggantian kursi Menteri Sosial dari Khofifah ke Idrus Marham, dinilai mantan anggota DPR Djoko Edhi, sebagai penipuan Jokowi terhadap PBNU.

Djoko Edhi berdalih karena Idrus Marham tidak mewakili kaum Nahdliyin. Padahal kata dia, selama ini NU sudah sering jadi bemper Jokowi, termasuk dalam aksi Bela Islam 411 dan 212.

Begitu pun ketika Jokowi membiarkan Airlangga Hartarto tetap dalam kabinet, meskipun ia sudah menjabat sebagai ketua umum Golkar. Maka, dalam hal ini Jokowi inkonsisten, karena di awal kepemimpinnya, ia selalu menegaskan sikapnya tidak boleh adanya rangkap jabatan dalam tubuh kabinetnya.

Konsistensi dalam kebijakan politik sangat penting, karena ia merupakan prinsip sekaligus komitmen yang harus selalj dipegang teguh. Komitmen itu tidak menjadi luntur hanya karena ada kedekatan atau motif-motif tertentu.

Konsistensi harus lurus tanpa embel-embel. Jika targetnya adalah memperbaiki, maka konsistensi itu tidak boleh bersyarat. Kalau kata orang Arab, tidak boleh ada “mustatsna bi illaa”.

Itulah yang dilakukan Valverde ketika dia melihat Digne, bek kiri El Barca dalam laga tadi. Ketika dia melihat posisi itu tidak maksimal dan tidak berjalan semestinya, maka dia segera mengembalikan posisi itu kepada Jordi Alba. Dalam hal ini Valverde menunjukkan bahwa tak ada persoalan individu dalam menentukan kebijakannya. Ia murni bersandar pada profesionalitas.

Konsistensi ini juga terlihat ketika dia terus mempercayakan pada Messi dalam melakukan free kick. Meskipun dua kali gagal, tetapi yang ketiga kali tendangan bebas pemain terbaik dunia itu akhirnya membobol gawang alaves sehingga membalikkan skor menjadi 2-1.

Oleh karenanya, dalam konteks ini komitmen dan konsistensi perlu terus ditegakkan dalam berpolitik di negeri ini, termasuk oleh para ketua umum partai politik ketika mereka menyatakan diri dengan komitmennya untuk memperjuangkan rakyat, maka itu harus benar-benar direalisasikan. Jangan sampai itu hanya jadi slogan di musim politik dan ketika di tengah jalan atau ketika berbenturan dengan kepentingan sendiri dan kelompoknya maka kebijakan itu menjadi berubah arah. Itu juga bagian dari inkonsistensi.

Untuk sekadar menyebut contoh misalnya, apakah PDIP konsisten dengan slogannya ketika dulu sering mengampanyekan diri sebagai Partai Wong Cilik? Kita nilai sendiri.

Kemudian, pelajaran terakhir yang bisa dipetik dari sepakbola Barcelona adalah Total Football alias tiki-taka yang meniscayakan totalitas dalam permainan, bukan hanya gaya-gayaan yang ditunjukkan dengan permainan indah. Tetapi keseriusan dan kesungguhan para pemain-pemainnya dalam menjalankan misi dan visi yang dikehendaki oleh pelatih.

Dalam konteks kinerja kabinet Jokowi-JK, hal ini masih sangat layak untuk dipertanyakan. Boleh saja Sang Komandan Joko Widodo merencanakan satu formula apik dalam pemerintahannya. Namun ketika orang-orang yang dia percaya tidak mampu melaksanakan dengan baik, maka model total football ala Barcelona gagal terwujud dalam kabinet Jokowi.

Ketika Jokowi mengampanyekan tidak mau impor, menterinya pun harus satu suara dan anti-impor. Saat Jokowi selalu berbicara pentingnya taat aturan, maka menterinya harus menjadi orang pertama yang patuh pada aturan dan Undang-Undang. Ketika saat kampanye Pilpres 2014 Jokowi sangat semangat berbicara tentang kedaulatan dan anti-utang, maka harus diwujudkan. Jangan janji itu dilanggar sendiri kemudian menterinya, yakni Menteri BUMN Rini Soemarno begitu semangat berutang ke Cina dengan menjaminkan tiga Bank BUMN kepada Cina.

Kiranya pelajaran totalitas pergerakan dari El Barca, sehingga melahirkan kemenangan perlu menjadi “guru” politik kita dalam berbangsa dan bernegara. _Wallahu a’lam bi al-shawab.

Oleh: Moh. Ilyas
(Pemerhati Politik, Seorang Çules)

 

SHARE
Comment