Bicara Radikalisme, Kombes Rikwanto: Tidak Ada Duit Rasanya Mau Mati

Bicara Radikalisme, Kombes Rikwanto: Tidak Ada Duit Rasanya Mau Mati

SHARE

Publik-News.com – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto menyebut, saat ini banyak ulama, kyai dan ustadz yang mengklaim ajaran dan hasil penafasirannya terhadap sebuah teks kitab suci paling benar. Sementara, ajaran dan penafsiran ulama, kyai dan ustadz lain dianggap salah, sesat dan kafir.

Hal tersebut disampaikan Rikwanto ketika menjadi pembicara diskusi bertajuk “Menangkal Radikalisme Membumikan Pancasila”. Diksusi ini diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Nasiona (DPN) Gerakan Mahasiswa Kosgoro (Gema Kosgoro) di Wisma Mas Isman, Jl. Teuku Cik Di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017).

Menurutnya, umat bergama, tak terkecuali umat Islam, harus berhati-hati jika bertemu atau mengikuti pengajian atau majelis salah satu ulama yang menganggap ajaran dan penafsirannya paling benar. Dia mencotohkan pembicaraan ulama, kyai dan ustadz. Namun Rikawanto tidak menyebutkan nama sang ulama, kyai dan ustadz yang menganggap ajaran dan tafsirnya paling benar itu.

“Karena konteks zaman sekareng ini ada ulama, kyai ustad atau apapun namanya, hati-hati kalau mengklaim (ajaran dan tafsirnya paling benar). Kamu, kamu, kamu belajar ke saya saja. Jangan ke yang lain, yang lain itu kafir, menyesatkan. Itu tafsirnya pasti salah, tidak benar. ikuti putunjuk saya, ” cerita Rikwanto.

“Kalau ekslusif sendiri, itu hati-hati karena tidak dianjurkan sama sekali dalam bergama (menganggap dirinya paling benar” katanya.

Jika ada ulama yang dengan ciri-ciri disebutkan Rikwanto, umat Islam diminta menjauh. Sebab, selain tidak dibenarkan dalam agama, ulama, kyai dan ustadz semacam itu bisa jadi karena takut kehilangan jamaah. Maka itu, kata Rikwanto, umat Islam harus berilmu secara logis. Rikwanto yakin orang berilmu tidak gampang terpengaruh dengan doktrin-doktrin ulama, kyai dan ustadz yang mengklaim ajarannya paling benar.

“Dan sekarang ini banyak fenomena-fenomena ulama, ustad, kyai takut kehilangan jamaah. Kalau jamaahnya banyak, malah kalau bisa ingin nambah. Kalau supaya jamaahnya enggak keluar ditakut-takuti, jangan pengajian di sana, ustadz di sana itu berbeda, orangnya enggak benar. kyai di sana pasti begini-begini. Ada sifat ujub di sana, terlalu bangga, bangga dengan kharismatiknya, bangga dengan jamaahnya. Itu bisa terjadi sama ulama, bisa terjadi,” tegasnya.

Rikwanto menambahkan agar umat Islam harus berilmu selain bergama. Dia mendefinisikan berilmu dengan berpikiran logis. Orang beragama dan berilmu, kata Rikwanto, tidak akan berpengaruh terhadap doktrin ulama, kyai dan ustadz yang mengajarkan tentang agama yang diajurkan melukai atau bahkan membunuh orang lain.

“Nah berilmu itu salah satu definisinya adalah berpikir logis. apa iya, apa benar, masa kita diajari bahwa dunia itu hanya panggung sandiwara. Dunia numpang ngombi, dunia sepenggal jalan, dunia tidak dibawa mati. Duit tidak dibawa mati, tapi tidak ada duit rasanya mau mati ya. Itu ayat-ayat yang diambil supaya tinggalkanlah dunia, jalan cepat ke surga ya. Ini loh, kalau ke surga lebih baik kenapa yang nyuruh saja engak cepat-cepatan. Ayo silakan,” katanya. (PN)

SHARE