Home Regional Cantiknya Putri Indonesia Sonia Fergina Citra Dikala Menggunakan Batik Kepulauan Sula

Cantiknya Putri Indonesia Sonia Fergina Citra Dikala Menggunakan Batik Kepulauan Sula

Publik-News.com – Warga Kepulauan Sula, Maluku Utara, tumpah ruah hadir ke Pantai Timbunan, untuk menyaksikan peragaan Putri Indonesia 2018, Sonia Fergina Citra di atas panggung yang berada yang berada Pantai Timbunan, Minggu (15/4/2018) malam. Mereka rela berdesak-desakan.

Tepuk tangan terus terdenger cukup menggema disaat perempuan cantik asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini menaiki panggung. Gadis kelahiran 27 April 1992 ini tampak terlihat menggunakan batik warna hitam kombinasi putih. Batik ini merupakan ciri khas Kepulauan Sula.

Di atas panggung, Sonia menyapa warga Kepulauan Sula. Dia juga menyampaaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula karena dapat memenuhi undangan penitia penyelenggara festival Maksaira 2018 yang diikuti hampir 3000 an peserta mancing ikan kerapu.

Motif batik ini masih tetap mengangkat khas daerah Kepulauan Sula, seperti batu, batu, hewan dan tumbuhan. Maka wajar jika Sonia menganggap bahwa batik hasil karya warga Kepulauan Sula tersebut cukup layak di pasarkan. Tidak hanya di dalam, tapi juga ke luar negeri.

“Kainnya (batiknya) enak sekali. Batik Sula ada keunikan sendiri karena motif diambil dari bunga khas yag ada di Sula. Ada lebah karena Sula penghasil madu luar biasa,”ujar Sonia yang disambut teriakan dan tepuk tangan warga yang hadir.

Menurut Sonia, batik khas Kepulauan Sula harus terus diproduksi dan di promosikan. Batik Sula ini tak kalah menarik dari batik daerah lain. Maka itu, Sonia sendiri mengaku siap menjadi bagian dari pemasaran batik Sula ini.

“Saya harap bisa menasional dan mendunia. Setiap daerah ada keunikan masing-masing, setiap daerah bisa mengembangkan motif-motif mereka dengan manfaatkan yang ada disekitar mereka,” tukasnya.

Terkait penyelenggaraan festival Maksaira, Soniaa mengapresiasi. Menurutnya, festival yang diikuti sekitar hampir 3000-an peserta mancing ikan kerapu ini harus terus dilestarikan. Apalagi, event tahunan kali ini sudah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

“Ini merupakan salah satu budaya yang harus dilestarikan. Saya mengenal budayanya Kepulauan Sula. Tapi ini pertama kali saya ke sini,” katanya. (Pn/Ed)

Comment