Home Opini Dasar-Dasar Moralitas; Politik Dan Kebermaknaan Refresentasi Dalam Sistem Demokrasi

Dasar-Dasar Moralitas; Politik Dan Kebermaknaan Refresentasi Dalam Sistem Demokrasi

98

Dasar-dasar Moralitas

Dunia fenomena dan dunia neumena, begitulah Imannuel Kant membagi totalitas realitas. Sampai disini Kant telah berkesimpulan dengan benar. Namun dalam menjelaskan kedua dunia tersebut, menurut Arthur Schopenhauer, Kant keliru. Lebih jauh Shopenhauer menjelaskan kekeliruan Kant bahwa meskipun Kant telah mengatakan bahwa semua pengetahuan kita semestinya diderivasikan berdasarkan dari pengalaman, namun kenyataannya Kant justru malah mengarahkan investigasinya bukan pada khakikat pengalaman, melainkan hanya pada khakikat berpikir konseptual. Kekeliruan lainnya yang sangat fundamental adalah ketika Kant menyimpulkan bahwa dunia neumena terdiri dari hal-hal yang dalam dirinya sendiri adalah jamak.

Schopenhauer berpandangam bahwa pada realitas total terdapat realitas yang bersifat immateriil, tidak terdefenisikan, tidak berwaktu, dan tidak beruang, yang terhadapnya kita tidak akan pernah bisa memiliki pengetahuan yang bersifat langsung, dan realitas itu memanifestasikan dirinya pada kita dalam bentuk dunia fenomenal dari objek-objek materiil (termasuk kita sendiri) yang terdeiferensiasi dalam ruang dan waktu.

Oleh karena itu bagi Shophenhauer, agar sesuatu itu berbeda dari yang lain, maka harus ada kerangka ruang, atau kerangka waktu, atau keduanya sekaligus sebagai dasar dari tindak pembedaan itu.

Dalam dunia fenomena, kita eksis sebagai individu-individu; kita eksis sebagai objek-objek materiil yang menempati ruang dan berada dalam suatu waktu; tetapi refresentasi ini hanya bisa diamati dalam dunia fenomena. Sedangkan secara neumenal–yang merupakan dasar paling dasar dari keberadaan kita, di luar ruang dan waktu, tidaklah mungkin untuk mendiferensiasikan diri kita. Oleh karena itu, kita semua adalah “yang satu”. Karena itu selalu akan ada semacam perasaan ultima puncak, bahwa jika aku melukaimu, sama halnya jika aku melukai diriku sendiri, jika aku jujur kepadamu, sama halnya jika aku jujur kepada diriku sendiri, jika aku berlaku tidak adil kepada orang lain, sama halnya aku telah memperlakukan diriku secara tidak adil. Inilah yang menurut Schopenhauer merupakan inti dari dasar moralitas.

Pandangan seperti ini juga kita bisa temukan dalam sejumlah ayat-ayat Al-Quran. Misalnya dikatakan dalam surah Al-Nisa ayat 1 “Wahai sekalian manusia, sadarlah akan Rabb (Pemelihara, Tuhan—realitas total) kalian, yang telah menciptakan kalian dari entitas yang satu, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia menjadikan laki-laki dan perempuan berkembang biak, berlipatganda…. ”

Selanjutnya, didalam Surah Al-Isra ayat 7 Allah berfirman:

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri, dan jika kalian berbuat jahat, sesungguhnya kalian berbuat jahat kepada diri kalian sendiri”.

Politik dan Kebermaknaan Dalam Sistem Demokrasi.

Dalam sistem demokrasi, setiap individu-individu eksis atas dirinya sendiri di dalam ruang-ruang kemerdekaannya dimanapun mereka berada dan saat kapanpun keberadaan mereka itu, dimana sistem demokrasi itu diberlakukan. Sisten refresentase yang diterapkan dalam sistem politik demokrasi tidak dan atau sama sekali tidak menghilangkan keberadaan kedaulatan individu-individu atas diri mereka sendiri. Oleh karena itu, sekalipun karena disebabkan bahwa kebebasan individu itu demikian dihormati didalam sistem demokrasi, maka tiap-tiap individu dituntut untuk menyadari pentingnya moralitas, etika sosial dihormati. Kebebasan sebagai anugerah Allah hanya mungkin dapat dinikmati jika semua individu-individu didalam sistem demokrasi itu menyadari dasar dasar moralitas yang telah diuraikan diatas. Keadaban, tertib sosial oleh karena itu merupakan tanggungjawab setiap manusia yang merdeka. Konsekuensi dari kebutuhan dasar manusia untuk memperoleh rasa aman, ketenangan dan kebahagiaan dengan limpahan rahmat berupa kebebasan untuk berekspresi. Idealitas itu hanya bisa dicapai jika kita semua memahami keberadaan kita di dunia fenomena, serta mengerti dan senantiasa menyadari realitas totalitas yang memanifestasikan diri-Nya di dunia fenomenal dari setiap objek-objek materiil yang ada, termasuk pada tiap-tiap diri manusia.

Di tahun politik ini, disaat para politisi berebut kursi kekuasaan, di legislatif maupun eksekutif, kita sangat berharap adanya praktek politik yang dilandasi etika dan moral politik yang baik. Tanpa etika, politik akan kehilangan kebermaknaannya

Wallahu a,lam bi al-shawab.

Oleh: Hasanuddin

(Ketua Umum PBHMI 2003-2005)

Comment