Dikala Putri JK Tepis Isu Hoax Yang Menimpa Ayahnya

Dikala Putri JK Tepis Isu Hoax Yang Menimpa Ayahnya

SHARE

Publik-News.com – Chairani Kalla, putri bungsu Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meluapkan isi hatinya dengan adanya serangan hoax terhadap ayahnya.

Kabar hoax yang menyudutkan JK menyebutkan jika JK anti terhadap keturunan. Kemudian JK membantahnya dengan menyatakan banyak teman-temannya dari etnis Tionghoa atau keturunannya.

“Di Makassar itu China-China teman saya. Orang teman paling dekat saya China juga, itu Sofjan (Sofjan Wanandi), ke mana pagi, sore, malam, sama saya semua,” ujar JK.

Chairani Kalla kemudian mencurahkan isi hatinya melalui akun sosmed Path-nya usai merayakan ultah JK ke 75, Senin (15/5/2017) malam.

Berikut isi curhatan Chairani Kalla:

Ini ayah saya, yang juga kebetulan Wakil Presiden RI. Orang yang saya paling banggakan di dunia ini. Mungkin sebagian orang yang membaca ini akan berfikir “Ya jelaslah dibanggakan, ya namanya juga ayah sendiri”. 

Ayah saya adalah sosok pemberani. Ia dikenal sebagai pejabat yang tidak takut pada siapapun. Bahkan sebagian orang menganggapnya terlalu berani dalam bertindak atau berucap. Makanya banyak juga yang tidak suka dengannya karena sikap terlalu beraninya itu. Beliau tidak suka berbasa basi, dan tidak suka pencitraan. Apapun yang menurutnya benar untuk kepentingan negara ini, akan disampaikannya ke publik, tanpa takut akan ada segelintir golongan yang tidak suka kepadanya.

Kalimat-kalimat yang pernah diucapkannya sering dipelintir orang yang tidak menyukainya. Contohnya saat ini Ia sedang banyak diserang oleh fitnah mengenai dirinya yang katanya tidak toleransi terhadap umat beragama. Baru-baru ini yang paling parah adalah ada yang memfitnah dirinya semasa muda pernah membakar gereja.

Astagfirullah, kenapa ada sekelompok orang yang tega membuat membuat berita seperti itu? Justru yang paling menempel di ingatan saya adalah sewaktu timbul kerusuhan pembantaian kaum Tionghoa di Makassar tahun 1997. Ayah saya mempersilahkan rumah kami di Makassar dijadikan tempat persembunyian para tetangga kami yang kebetulan mayoritas orang Tionghoa. Saya saksinya ketika tetangga kami diam-diam masuk bersembunyi di rumah kami karena ketakutan akan diganyang masyarakat.

Beberapa kali saya meminta ayah saya mengklarifikasi fitnah-fitnah yang menerpanya. Karena tidak sedikit yang berani menjapri atau me-mention saya di sosial media yang isinya mencaci maki ayah saya. Tapi Ia cuman tersenyum “Buat apa? Tidak usah lagi kau baca berita-berita palsu itu” katanya. “Alhamdulillah kalau kita difitnah, berarti orang-orang yang memfitnah itu sedang menanam ladang pahala untuk kita panen di akhirat nanti”.

Oh iya, betul juga ya. Alhamdulillah. Terima kasih untuk para pemfitnah dan penyebar hoax atas transferan pahalanya untuk ayah saya.

Barakallahu fii umurik Papa, orang yang saya banggakan di dunia ini. (Fq)

 

SHARE