Home Opini Donarto Ma’rifat

Donarto Ma’rifat

Mendengar Mas Danarto ditabrak (tak jelas oleh mobil atau sepeda motor), dibawa ke RS UIN Ciputat tanpa kartu identitas dan polisi mencari-cari anggota keluarganya, saya segera meluncur ke lokasi. Ternyata ia baru saja dibawa ambulan ke RS Fatmawati — isyarat bahwa kondisinya parah.

Di ruang IGD, ia bertelanjang dada, wajahnya disesaki alat bantu pernafasan, matanya terpejam. Saya hanya melihat bengkak dan luka kecil di sekitar mata kanannya. Nafasnya cepat dan gemuruh, menurun-naikkan perut dan dadanya dengan keras.

Kami kemudian hanya bisa menunggu di kantin. Ratna Riantiarno dengan lekas berperan sebagai koordinator tak resmi untuk mengurus dan mengantisipasi segala keperluan yang pasti timbul.

Nano Riantiarno, Noorca M. Massardi, Rainy N. Massardi, Radhar Panca Dahana, Jajang C. Noer, M Ichsan Loulembah, Seno Gumira Ajidarma, dan saya saling bertukar cerita-cerita kecil tentang perilaku Danarto yang kocak atau “aneh”. Tentang kemurahan hatinya kepada siapa saja. Tentang semangat melukisnya yang masih tinggi tapi ia merasa tak ditunjang oleh ketahanan fisiknya.

Ia beberapa waktu lalu menjual rumahnya di Pamulang, kabarnya. Lalu mengontrak rumah kecil di area Ciputat, tak jauh dari jalan tempat ia ditabrak sepeda motor. Pengendaranya anak muda yang terhitung tetangganya, dan karena itu mengenalnya sebagai lelaki berambut putih yang sering dilihatnya jalan kaki atau dibonceng ojek langganannya.

Hari itu si ojek langganan absen. Maka Danarto menyeberangi jalan, dan tiba-tiba sesuatu menabraknya dengan keras. Ini pengalaman kedua ia ditabrak. Sebelumnya, beberapa tahun lalu, penabrakan menciderai bahunya.

***

Danarto bisa disebut pelopor di Indonesia untuk genre sastra “magical realism” yang subur di Amerika Latin. Kumpulan-kumpulan cerita pendeknya — setahu saya ia tak menulis novel — jelas menunjukkan kepioniran itu — Godlob, Adam Ma’rifat, misalnya.

Realitas dan surealitas berjalin tanpa canggung dalam cerpen-cerpennya. Ia bisa bercerita dengan datar tentang, misalnya, jenazah seorang jaksa yang diperas oleh anak-isterinya menjadi air lalu ditampung di dalam ember.

Ia enteng saja menyusun kalimat-kalimat di cerpennya (yang tak jelas maknanya!) dengan struktur seperti partitur musik. Bahkan dengan lenggak-lenggok turun-naik yang pada partitur sungguhan pun tidak akan kita temui.

Judul sebuah cerpennya bukan kata atau kalimat melainkan gambar buah hati yang tertusuk panah. Ya, latar belakang keperupaannya — ia anggota kelompok senirupa mashur “Sanggar Bambu” di Jogja — tampak mempengaruhinya untuk memperlakukan teks juga secara visual. Dan ia hanya akan terkekeh jika ada orang mempertanyakan atau protes terhadap sikap artistiknya yang ganjil itu.

***

Meninggalkan teman-teman yang masih melanjutkan obrolan di warung Aceh di depan RS Fatmawati, saya tiba di rumah sekitar pukul 21, dan mendapat konfirmasi dari sejumlah kawan dan wartawan bahwa Mas Danarto tak tertolong.

Ia memang suka tidur dan kurang peduli soal tempat untuk mendengkur. Di tahun 1993-94, terlalu sering saya mendapati ia mendengkur di kursi di depan komputernya yang menyala, persis di depan ruang kerja saya di harian Republika.

Itu pertanda ia belum tahu kalimat apa yang ia harus tulis sebagai lanjutan paragraf esai rutinnya yang menggantung, yang harus segera selesai untuk dimuat di edisi besok.

Sepuluh atau lima belas menit kemudian, Danarto akan terbangun, menyingkirkan saputangan yang menutupi wajahnya, lalu langsung mengetik. Seolah ia dapat petunjuk dari dengkurnya tentang kalimat apa yang ia harus tulis sebagai penguat esainya.

Tak jarang dengkur itu tak efektif sebagai sumber ilham; dan ia akan memilih turun ke kantin, berharap inspirasi muncul dari gelas teh atau kopinya. Atau ia akan segera mengambil wudu dan salat Ashar, lalu segera ke depan komputernya, membayar utang ketikannya.

Mas Danarto, semoga tidurmu yang kali ini lebih panjang bisa melahirkan ilham yang makin kaya. Dan saya akan mencuri satu saja dari sana: kebaikan hatimu yang tak berbatas.

Oleh: Hamid Basyaib

Comment