Dr. Gretha Zahar: Terapi Asap Tembakau untuk Kesehatan

Dr. Gretha Zahar: Terapi Asap Tembakau untuk Kesehatan

SHARE
http://us.images.detik.com/content/2012/09/10/1406/drgretadalam.jpg?w=650&q=90

 

Gunakan pengamatan berskala seluler terhadap mekanisme tubuh Anda — Anda akan melihat organ, jaringan, protein, sel dan sebagainya. Kemudian gunakan pengamatan berskala atomik — Anda akan menemukan bahwa di balik organ, jaringan dan sel itu terdapat atom-atom karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, dan sebagainya. Selanjutnya, gunakan pengamatan berskala sub-atomik, yaitu skala yang jauh lebih kecil daripada atomik. Apa yang akan Anda temukan? Ternyata di balik atom-atom penyusun tubuh Anda itu terdapat interplay yang tiada putusnya antar proton, neutron dan elektron. Di sini, Anda berada di dalam ranah yang banyak dibicarakan oleh fisika modern, nuclear science, bahkan nanobiology. Demikian pelajaran yang saya peroleh dari Dr. Gretha Zahar, seorang ilmuwan nuclear science yang mengelola klinik di beberapa kota dan Lembaga Peluruhan Radikal Bebas di Malang, Jawa Timur.

Tidak mudah memahami penjelasan Bu Gretha , demikian ia biasa dipanggil lingkungannya. Fisika modern, kimia nuklir, ditambah dengan nanoteknologi, ketika disatukan dalam uraian, menjadi menu yang lumayan berat untuk dicerna. Namun ternyata dalam praktek, semuanya sangat sederhana. “Penawar” segala penyakit itu ternyata ada di dapur kita sendiri: ada telur, kopi, garam, bawang, air kelapa, fermipan. Hanya satu bahan ramuan yang tidak biasa: tembakau. Tembakau ini disiapkan dengan saksama, dilinting untuk kemudian asapnya ditiupkan ke lubang telinga, hidung, dan mulut pasien melalui sebuah pipa. Pasien dibaringkan di atas lembaran panjang tembaga, dibalur dengan 7 macam ramuan, sementara terapi asap tembakau dilakukan di sela-sela proses tersebut. Sungguh menakjubkan melihat sebuah penemuan canggih dipraktekkan dengan begitu mudah dan sederhana, tanpa peralatan pelik. Dalam menjelaskan proses penemuannya, Dr. Gretha pun mencoba untuk berwacana sederhana.

 

Mengelola Sendiri Kesehatan Tubuh Bersama Alam

“Alam sudah menyediakan semuanya,” kata Profesor Dr. Sutiman Bambang Sumitro, seorang mikrobiolog dari Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, yang menjadi mitra kerja Dr. Gretha Zahar dalam penelitian. “Orang cenderung mempercayai peralatan canggih, padahal peralatan itu bisa jadi digunakan untuk menutupi konsep yang tidak canggih. Sedangkan Alam selama ini bekerja berdasarkan konsep yang canggih. Telur, garam, bawang, kopi, tembakau dan sebagainya itu semua merupakan peluruh radikal bebas yang luar biasa,” tambahnya.

Mengapa telur mentah? “Karena telur mentah merupakan protein hidup. Telur mentah itu internally driven. Putihnya menangkap radikal bebas dalam tubuh kita, termasuk merkuri yang juga internally driven. Sedangkan merah telur mengandung bahan stem cell,” kata Bu Gretha. “Tidak perlu takut pada bakteri Salmonella atau virus yang mungkin ada pada telur mentah,” kata Bu Gretha seolah membaca pikiran saya. “Karena dalam kopi ada karbon yang berfungsi seperti norit yang melumpuhkan racun.”

Tidak perlu takut pada bakteri dan virus? Sungguh menyenangkan membayangkan dunia yang sedang disiapkan oleh Bu Gretha dan kawan-kawan ini! “Bakteri dan virus, semua itu hanyalah protein hidup yang mengalami mutagenik. Mereka menamainya bakteri, jika ukurannya 10 pangkat minus 5. Tapi ketika ukurannya nano, mereka menamainya virus,” kata Bu Gretha sambil menjentik abu dari kepulan lintingan Divine di apitan jarinya. “Yang lebih penting untuk diselidiki adalah penyebab mutagenik protein tersebut, yaitu radikal bebas, terutama merkuri. Merkuri mempunyai 13 macam panjang gelombang yang bisa digunakan untuk mengacaukan dan menyesatkan codon dalam pembentukan protein (codon adalah kode genetik yang menentukan sintesa protein, Red.). Merkuri yang ada di dalam tubuh akan menarik lebih banyak merkuri.”

Perilaku Merkuri Di Dalam Tubuh Manusia

“Yang perlu kita semua sadari, merkuri punya energi dinamika yang cukup besar untuk membantunya melakukan transisi elektron, hal mana memungkinkannya untuk mudah ‘menyamar’ menjadi partikel lain,” kata Bu Gretha melanjutkan, sambil meluruskan kakinya di lantai. Sekarang menjadi jelas mengapa selama ini berbagai penelitian belum bisa ‘menangkap basah’ merkuri dan perilakunya di tubuh kita. “Merkuri hanya perlu hitungan 1 elektron ekstra untuk menjadi logam berat seperti thalium, atau 2 ekstra untuk menjadi timbal. Padahal elektron-elektron itu tersedia dalam jumlah besar di lingkungan hidup kita sebagai akibat dari melimpahnya jumlah radikal bebas,” tambahnya lagi.

“Jadi, penyembuhan segala macam penyakit pada dasarnya hanyalah memperbaiki kemampuan tubuh dalam mengendalikan polutan. Detoksifikasi adalah yang paling relevan. Jika kita tahu caranya, tak ada penyakit yang perlu ditakuti, termasuk flu burung, flu babi dan sebagainya,” kata Bu Gretha dengan tegas. Ia lalu memperlihatkan foto-foto klinis dan eksperimennya yang sangat menakjubkan selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kanker dan autisme merupakan persoalan sederhana di matanya, begitupun penyakit stroke, jantung dan lain sebagainya.

[bersambung ke halaman 2]

Comment