Dua Ulama Bersaudara Dari Padang Japang: Tempat Bung Karno Minta Petunjuk

Dua Ulama Bersaudara Dari Padang Japang: Tempat Bung Karno Minta Petunjuk

SHARE

Mereka dua saudara, jago urusan agama, punya pemikiran luas untuk Indonesia. Sama-sama murid dari Syekh Ahmad Chatib, anak Minang yang menjadi Imam Masjidil Haram Mekkah. Sama-sama pula mendirikan Perguruan Islam yang terkenal. Tak heran, bila Bung Karno minta petunjuk kepada mereka, dan Buya Hamka menaruh hormat tak terhingga.

Bila masih ada pertanyaan, siapakah mereka? Itulah Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah, dua ulama kesohor Minangkabau asal Luhak Limopuluah. Keduanya, terkubur di Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota. Tepatnya di Padangjapang, yang terletak sekitar 17 kilometer sebelah utara Kota Payakumbuh.

Untuk menuju lokasi ini bisa menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Dari Payakumbuh menuju arah utara. Setelah melewati jembatan Lampasi, anda akan menemui persimpangan. Kedua simpang, dapat anda pilih.

Bila memilih jalan ke kiri, berarti Anda akan melewati Nagari Koto Baru Simalanggang dan Nagari Guguak VIII Koto. Setelah sampai di Dangung-dangung, anda dapat melanjutkan perjalanan arah ke Limbanang. Tapi, sesampai di kawasan bernama Talago, anda harus belok ke kanan. Maka sekitar tiga kilometer saja, anda akan sampai di Padangjapang.

Tapi bila memilih jalan yang kanan, maka anda akan melewati nagari Simalanggang, Koto Tangah Simalanggang, Taehbaruah, Mungka, Jopangmangganti, dan barulah sampailah di Padangjapang.

 

Pejuang Islam

Syekh Mustafa Abdullah atau biasa dipanggil Inyiak Padang Japang dan adiknya Syekh Abbas Abdullah, merupakan pejuang Islam di Sumatera. Sepak terjang mereka sebagai penyebar dan penegak ajaran Islam di Minangkabau, sangat banyak dicatat dalam berbagai buku dan majalah yang terbit masa itu.

Bahkan, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Luhak Limopuluah Yulfian Azrial, menyebut perjuangan kedua Syekh ini amat terkait dengan perjuangan pendidikan Islam Sumatera Tawalib, ataupun pergerakan Tuanku Jamil Jaho di Padangpanjang.

Meskipun demikian, satu hal yang membuat Syekh bersaudara ini amat terkenal adalah upaya mereka dalam mendirikan Perguruan Darul Funun di Puncakbakuang, Tanjungrongik, Padangjapang.

Pada masa keemasannya, Darul Funun tidak hanya memiliki murid dari berbagai pelosok Sumatera Barat, melainkan juga dari berbagai provinsi sekitar, termasuk dari negeri Jiran Malaysia. Hebatnya lagi, para murid rata-rata adalah orang besar.

”Sebagai perguruan besar, Darul Funun memang banyak banyak melahirkan tokoh besar. Kebesaran kedua Syekh ini bahkan membuat Presiden Soekarno merasa perlu ke Padangjapang, setelah bebas dari masa pembuangannya di Bengkulu,” kata Yulfian Azrial.

Disebutkan pula, Bung Karno sering melakukan diskusi dan minta petunjuk tentang berbagai masalah politik dan keagamaan. Bahkan tentang konsep menuju kemerdekaan Indonesia. Hal itu setidaknya bisa dibuktikan, dengan masih adanya dokumentasi Bung Karno semasa di Padangjapang.

Begitu juga setelah zaman kemerdekaan. Para pejuang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), merasa sangat perlu untuk menemui Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah. Mereka sangat banyak mendapat masukan dari kedua Syekh kakak beradik ini.

”Mohammad Natsir yang diutus Soekarno untuk menemui tokoh PDRI di Sumatera, akhirnya juga harus menemui kedua tokoh ini,” kata Yulfian.

Buya Hamka juga Menaruh Hormat

Sebenarnya, tidak hanya Bung Karno, Natsir, dan tokoh bangsa lain yang menjadikan kedua Syeik ini sebagai kawan tempat berdiskusi. Ulama sekaligus sastrawan legendaris Haji Abdul Malik Karim Amarullah alias Hamka, juga amat hormat kepada Syekh Mustafa dan Abbas Abdullah.

Bahkan menurut wartawan senior (alm) Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, semasa Agresi Militer II Belanda, Hamka sengaja datang ke Padangjapang, hanya untuk memberitahu khabar kematian Kapten Thantowi (putra kandung Syekh Mustafa Abdullah) dalam Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949.

Namun ketika itu, Inyiak Padangjapang ternyata sudah tahu soal kematian putra mereka. Hanya saja, dia sempat bertanya kepada Hamka, sebelah mana Kapten Thantowi tertembak Belanda? Dijawablah oleh Hamka, dekat keningnya Inyiak?

Mendengar hal tersebut, Inyiak Padangjapang langsung menyebut, ”Syahid-Syahid. Thantowi meninggal dalam keadaan Syahid Malik!”

Begitulah cerita Hamka yang sangat menghormati kedua Syekh dari Padangjapang, kepada Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, puluhan tahun nan lampau.[Fajar Rillah Veski]
[padang-today.com, darulfunun.or.id]

 

SHARE
Comment