Editorial : Reshufle Kabinet Pemerintahan Jokowi-JK

Editorial : Reshufle Kabinet Pemerintahan Jokowi-JK

SHARE

Presiden Joko Widodo Rabu 27 Juli 2016 mengumumkan jajaran kabinet Gotong Royong yang baru. Komposisi kabinet Gotong royong yang baru itu tentu memperoleh apresiasi yang beragam di masyarakat. Upaya membenahi sector ekonomi nampaknya merupakan fokus utama Presiden Jokowi dalam menata komposisi kabinetnya.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa reshuffle kabinet kali ini sekaligus dibaca secara politik sebagai strategi Jokowi untuk memastikan terciptanya konsolidasi internal pemerintahan agar tidak terjadi lagi kegaduhan yang tidak perlu seperti pada masa-masa awal reshuffle kabinet tahap pertama yang lalu.

Disamping itu, muncul pula pandangan bahwa reshuffle kabinet yang kedua ini juga dimaksudkan agar soliditas internal kabinet tidak mengalami kegaduhan menjelang pemilihan Presiden 2019 nanti, mengingat sistem pemilihan Presiden-Wakil Presiden pada pemilu 2019 nanti dilakukan secara paket dengan pemilihan anggota legislative atau Pemilihan Umum.

Wajah-Wajah Baru

Masuknya Sri Mulyani Indrawati (SMI) menggantikan Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Keuangan, dikeluarkannya Rizal Ramli selaku Menko Maritim dan dipertahankannya Darmin Nasution selaku Menko Ekonomi, dimasukkannya Wiranto menjadi Menkopolhukam dan digesernya Luhut Binsar Panjaitan ke posisi Menko Maritim daapt dipahami sebagai upaya Presiden Jokowi menciptakan stabilitas politik, meminimalkan tarikan politik internasional dalam mempengaruhi investasi, dan dalam rangka menjamin koordinasi dan konsolidasi industry keuangan makro dan mikro.

Demikian halnya dengan asuknya Archandra Tahar menggantikan Sudirman Said, dan Budi Karya SUmadi menggatikan Ignatius Jonan secara komprehenship.

Saya menilai komposisi ini seperti itu cukup tepat, dan saya mengapresiasi langkah Presiden Jokowi itu sebagai langkah yang patut diberi apresiasi positif.

Sementara itu, masuknya Enggartiasto Lukito, menggantikan Thomas Lembong selaku menteri perdagangan, masuknya Airlangga Hartarto menggantikan Saleh Husin selaku Menteri Perindustrian, digesernya Thomas Lembong ke BKPM dan diangkatnya Frangky Sibarani diangkat sebagai Wakil Menteri Perindustrian, dapat dipahami sebagai konsekuensi dari dinamika politik konsolidasi dengan bergabungnya partai Golkar dalam pemerintahan. Demikian halnya dengan masuknya Asman Abnur menggantikan Yuddy Crisnandy, konsekuensi dari bergabungnya PAN dalam pemrintahan.

Sementara itu pergeseran Menteri Desa, semata dinamika internal PKB. Masuknya Muhajir Efendy menjadi Menteri Pendidikan Nasional, digesernya Sofyan Djalil menggantikan Ferry Mursyidan Baldan selaku Menteri Agraria bagian dari proses konsolidasi politik Presiden Jokowidodo.

Jokowi-JK makin Solid

Pesan penting yang perlu dibaca dari reshuffle cabinet kedua ini adalah, makin solidnya Preden dan Wakil Presiden dalam memimpin  Kabinet Gotong Royong. Hal yang perlu dicatat juga bahwa Menteri-menteri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sama sekali tidak mengalami perubahan posisi.

Ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowidodo sebelum melakukan reshuffle Kabinet telah melakukan konsultasi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan.

Harapan dan tantangan Kabinet Baru.

Reshufle Kabinet dilakukan ditengah terjadinya ketimpangan antara yang kaya dan miskin. Sehari sebelum Sri Mulyani Indrawati dilantik menjadi Menteri Keuangan, beliau menyampaikan pidato di universitas Indonesia. Pidato yang baik sekali itu menggambarkan betapa gini ratio Indonesia saat ini begitu menghawatirkan. Beliau menyebutnya sebagai “terjadi ketimpangan yang tajam”.

Masalah ketimpangan ini menjadi tantangan besar bagi Presiden Jokowidodo dan kabinetnya. Usaha memaksimalkan kinerja cabinet dalam rangka menjawab masalah sosial ekonomi ini tentu saja amat penting.

Oleh karena itu masuknya SMI dalam jajajaran Kabinet, diharapkan mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang mendorong percepatan pemerataan. Upaya membenahi sector industry keuangan merupakan keahlian SMI.

SMI juga dikenal memiliki kemampuan melakukan komunikasi politik baik dengan parlemen dan pengalamannya pada pemerintahan sebelumnya, menjadi modal tersendiri bagi SMI untuk berkomunikasi dengan kekuatan politik.

Pengalamannya sebagai managing director Wolrd Bank tentu sangat bermanfaat, terutama dalam mengawal kebijakan-kebijakan disektor keuangan.

Tidak berlebihan, jika duet SMI selaku Menteri Keuangan, dengan Darmin Nasution selaku Menko Perekonomian menjadi tumpuan bagi Presiden Jokowidodo untuk meningkatkan ferforma ekonomi Indonesia kedepan.

Hal penting lain dari ferforma Kabinet ini yang perlu dicatat adalah adanya  dukungan politik yang kuat diparlemen.

Publik-news termasuk yang optimis  bahwa kabinet ini bisa sukses menjawab tantangan, serta  membawa dampak positif bagi stabilitas Indonesia.

Editorial Publik-News: Jakarta 27 Juli 2017

SHARE
Comment