Ekuilibrium

Ekuilibrium

SHARE

Bencana, bukan hanya sebilah momen kautik yang murung, tapi juga jejak disekuilibrium manusia-alam. Mempercakapkan kembali “hukum keseimbangan alam,” terasa kian relevan terutama ketika bencana dengan paras jamak menyapu ruas-ruas kehidupan negeri: banjir bandang, tanah longsor, tsunami, gunung meletus, hingga peristiwa paling anyar, kebakaran hutan-hutan tropik di Sumatera dan Kalimantan.

Rekonstruksi terhadap kerusakan alam tidak dapat diselesaikan melalui pandangan etis-praktis semata, tapi merevisi pemahaman ontologis terhadap alam. Sejauh ini, visi konservasi para etikus lingkungan mengandaikan manusia mengada sebagai substansi berbeda dan berjarak dengan alam.

Terma disekuilibrium yang terbit dari teori etika lingkungan, khususnya “Ekologi-Dalam” oleh James Lovelock, A New Look at Life on Earth (1976)—yang mengandaikan “bumi memiliki kemampuan menyeimbangkan diri-sendiri jika terjadi ketimpangan”—bahkan dinilai tak cukup memadai membedah substansi permasalahan kerusakan alam. Sebab, pemahaman disekuilibrium semacam ini tidak memberi ruang kepada manusia sebagai subjek untuk menghayati posisi dan relasinya dengan bumi, yang justru kian mengeraskan pandangan adanya perbedaan radikal ontologis manusia-alam.

Di sini, restorasi ke titik ekuilibrium dimungkinkan terjadi manakala dekonstruksi pemahaman tidak berhenti pada titik etis, tapi terus melesat hingga perombakan ontologis. Ekuilibrium, karena itu, mengandaikan adanya dua substansi—meski berbeda—tetap saling berpengaruh dan bertahan pada titik stabil. Sebaliknya, disekuilibrium terbit ketika stabilitas itu terguncang. Kondisi terakhir mengemuka karena manusia mendominasi dan mengeksploitasi alam atas nama “kepentingan” manusia.

Kecenderungan antroposentrik juga dielaborasi apik oleh Lovelock. Ia mendaku, manusia modern masih mewarisi residu pola pikir purba yang ingin berkuasa dan mengutamakan kepuasan aggota tribalnya semata, akibatnya tidak peka terhadap kepentingan kosmik lebih besar. Kebiasaan menaklukkan alam menyebabkan manusia menampik pertimbangan etik terhadap alam sebagai entitas non-rasional.

Disekuilibrium terjadi justeru ketika kepesatan gemuruh teknologi dan hiper-industrialisasi yang mengatasnamakan kepentingan “peradaban” manusia acapkali merusak ekuilibrium ekosistem. Menyadari hal tersebut, tak kurang dari pemikir Sein und Zeit, Heidegger melihat relasi tak terpisahkan antara manusia dengan dunianya: in-der-Welt-sein, atau “Ada-dalam-Dunia”. Di sini tengah berlangsung kesatuan fenomenal, yang hanya dapat dipahami dalam kerangka relasional Aku-Dunia yang tercelup dalam satu ontologi.

Di titik ini Heidegger sejatinya ingin mengingatkan agar manusia sebagai mata-rantai dari komunitas biota perlu melalukan rethinking dan pemaknaan ulang secara fenomenologis-ontologis tentang relasi manusia-alam, agar manusia bisa merengkuh jeritan dan luka-dalam yang diderita alam.

Oleh : Mohd. Sabri AR

SHARE
Comment