Erdogan, Gulenis, dan Militer di Turki

Erdogan, Gulenis, dan Militer di Turki

SHARE
http://www.telegraph.co.uk/content/dam/video_previews/5/j/5ja3hynde6_pcyxpqbj4smsxreqtjmw6-large.jpg

Oleh Syifa Widigdo

Empat hari sebelum kepulangan ke Indonesia 28 Juni lalu, saya dan keluarga diundang oleh seorang professor economics di Indiana University yang berasal dari Turki. Saya biasa memanggilnya Abi Bulent. Abi adalah panggilan hormat dan sekaligus akrab bagi seseorang yang sedikit lebih senior. Mirip panggilan “Mas” di Jawa lah kira-kira. Dia bercerita banyak tentang konstelasi politik Turki sejak tahun 2013 hingga sekarang, termasuk hubungan antara Erdogan, Fethullah Gulen, dan militer di Turki.

Ketika sebagian kelompok militer mencoba melakukan kudeta dan gagal, saya teringat cerita panjang kolega dari Turki tersebut. Memang, rakyat Turki patut mendapatkan ucapan selamat atas kegagalan kudeta tersebut. Mereka terhindar dari kembalinya cengkraman militer dan tetap memilih menyalurkan aspirasi mereka, baik yang pro maupun anti Erdogan, melalui jalan demokrasi. Namun demikian, apa yang sebenarnya terjadi ternyata lebih kompleks dari apa yang tampak dan ditampilkan oleh media.

Menurut cerita kolega dari Turki yang juga aktif sebagai dewan penasehat di sekolah yang berafiliasi ke Gulen tersebut, AKP-nya Erdogan dan Gulen semula berada dalam satu barisan dalam melawan rezim militer. Gerakan Gulen yang diinspirasi oleh pemahaman keagaamaan Badiuzzaman Saʿīd Nursi tersebut pada dasarnya merupakan gerakan pendidikan dan keagaamaan yang mengajarkan pentingnya pendidikan sains selain agama bagi pelajar muslim. Sekolah yang didirikan oleh para penggeraknya tersebar di seluruh dunia, baik di dunia muslim maupun di dunia Barat. Di Amerika saja, kurang lebih ada 130 sekolah.

Para pengkritik gerakan Gulen sering menyorot gerakan ini dalam hal pendidikan sains yang dipaksakan untuk berkesesuaian dengan doktrin agama, kegemaran mereka mengklaim dukungan dari orang-orang besar dan berpengaruh, atau sikap tertutup mereka terhadap orang yang tidak berafiliasi dengan gerakan tersebut. Tidak heran jika kemudian sebagian orang menganggapnya sebagai cult, sekte keagamaan yang mengkultuskan kebesaran Gulen.

Terlepas dari label tersebut, menurut kolega dari Turki tadi, gerakan Gulen dalam pendidikan berhasil memproduksi calon-calon birokrat dan teknokrat yang handal. Mereka yang awalnya apolitis tergiur untuk masuk ke dalam pusaran politik karena digaet oleh AKP-nya Erdogan untuk melawan kekuatan politik militer Turki. Sentimen kegamaan berhasil meyakinkan mereka untuk masuk ke dunia politik meskipun para guru spiritualnya, Saʿīd Nursi, pernah berujar,” Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk dan politik.”

Setelah pemilu di tahun 2003 dimenangkan, dan AKP tidak mempunyai cukup sumberdaya untuk mengisi pos-pos politik yang semula dikuasai oleh kalangan militer untuk menjalankan kekuasaan, Erdogan menunjuk banyak personil dari gerakan Gulen untuk mengisi pos-pos tersebut. Mereka dipandang lebih cakap menjadi pejabat publik, terutama di kursi-kursi yudikatif dan sebagian di eksekutif, untuk menjalankan pemerintahan. Kongsi antara Erdogan dan aktivis Gulen pecah ketika di akhir tahun 2013 beberapa orang dekat Erdogan dituntut dengan tuduhan korupsi.

Para jaksa dan hakim yang kebetulan mempunyai latar belakang sebagai Gulenis tersebut berhasil menelusuri dan membuktikan bahwa korupsi para terdakwa dan terhukum tidak berhenti di tingkat mereka saja. Anak Erdogan yang aktif menjalin hubungan dagang dengan Israel juga terlibat. Mereka bahkan mengaku dan mempunyai rekaman bahwa tindakan mereka adalah atas perintah Erdogan sendiri.

Setelah terbelit kasus korupsi tersebut, Erdogan mulai kalut dan berubah. Pejabat-pejabat yang mengusut perkara korupsi dan mempunyai hubungan dengan gerakan Gulen di kepolisian, kejaksaan, dan hakim dipecati. Kelompok Gulen dicap sebagai gerakan teroris. Para aktivisnya diburu. Sekolah-sekolahnya ditutup. Orang-orang yang mempunyai afiliasi dengan kelompok tersebut disingkirkan.

Untuk mempertahankan kekuatan dan kemapanan politiknya, Erdogan bermain mata dengan militer untuk menangkapi dan melumpuhkan para aktivis Gulen. Strategi politik Erdogan menuai hasil. Militer berhasil masuk dalam barisannya untuk mengikis pengaruh Gulen. Setelah menjadi perdana menteri selama dua periode, dia bahkan menduduki jabatan sebagai presiden. Presiden yang semula hanya berkuasa secara simbolik dan seremonial saja, di tangan Presiden Erdogan setelah melalui amandemen konstitusi dan perundang-undangan, memiliki kuasa penuh. Perdana Menteri secara de facto tidak lagi menjadi penyelenggara pemerintahan. Dia hanya menjalankan arahan dan perintah dari presiden saja.

Perdana menteri pertama di era Erdogan sebagai presiden mengundurkan diri karena tidak nyaman dengan posisi itu. Media massa yang kritis dibungkam. Penggunaan sosial media seperti twitter dilarang. Beberapa situs yang memuat berita kritis dan rekaman percakapan skandal korupsi keluarga Erdogan diblokir. Etnis Kurdi yang semula diakomodasi secara politik, setelah tahun 2013, Erdogan dengan dukungan tentara melumpuhkan mereka dengan pendekatan keamananan dan militer. Kalau dulu korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan itu identik dengan kaum sekuler dan militer, kini diidentikkan dengan orang-orang yang tampak saleh dalam busana dan ritualnya.

Setelah tahun 2013 itu, Presiden Erdogan mulai memproyeksikan diri sebagai penguasa tertinggi, tidak hanya di Turki, tapi juga di dunia Islam. Ya, sebagai khalifah lah kira-kira. Beberapa pemujanya bahkan mengucapkan ʿalayhi al-salām (peace be upon him, semoga keselamatan-kedamaian atasnya) setelah nama Erdogan disebut. Sebuah ucapan yang biasanya hanya diucapkan di belakang para nabi.

Dalam konteks cerita seperti inilah, saya sulit memahami bagaimana mungkin kudeta yang gagal itu didalangi oleh kelompok Gulen. Kelompok yang di satu sisi dicap teroris oleh Presiden Erdogan dengan dukungan militer, tapi kemudian tiba-tiba dituduh berada di balik kudeta militer yang gagal itu. Yang juga sulit dipahami adalah, jika yang terlibat dalam pemberontakan adalah militer, kenapa sekitar 2700 hakim harus dipecat dan sebagian bahkan juga ditangkap? Persoalan politik memang kompleks. Semua kelompok saling beririsan, kadang kabur mana kawan dan lawan.

Erdogan mungkin tidak sekeji yang dipikirkan para pembencinya dan yang pasti tidak sesuci yang dibayangkan para pemujanya. Fakta bahwa ada percobaan kudeta adalah riil. Kegagalan upaya kudeta tersebut adalah kemenangan bagi rakyat Turki dengan segenap produk politik dari sistem demokrasi yang dipilihnya. Presiden Erdogan juga dapat mengambil keuntungan dari kegagalan tersebut dengan memperkuat konsolidasi politiknya.

Semoga saja konsolidasi tersebut bukan untuk memperpanjang kekuasaan dan kecenderungan otoritarianismenya, tapi untuk memperkuat institusi-institusi demokrasi untuk kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Semakin lama seseorang berkuasa dan semakin besar kuasanya, dia tidak saja dapat menganggap dirinya sebagai khalifah, juru selamat, atau nabi yang maksum, yang tidak bisa salah. Jika fenomena itu terjadi di kancah politik, bisa dipastikan, virus korupsi akan menjangkiti orang-orang terdekatnya, anggota keluarganya, dan kemudian dirinya sendiri. Dan tanpa kudeta pun, orang tersebut akan tersingkir, atau bahkan terjungkal, dari kekuasaan yang memang sementara itu. Wallahu a’lam.

(Bukan tulisan ilmiah. Ditulis hanya untuk merekam perbincangan antara dua kolega tentang situasi di Turki, yang memberi perspektif berbeda dari pemberitaan umum di Turki yang pro-Erdogan atau pemberitaan di Barat yang tidak hanya anti-Erdogan tapi juga anti-Gulen Movement).

SHARE
Comment