Fahira Indris: Penanganan Banjir di Jakarta Harus Dievaluasi

Fahira Indris: Penanganan Banjir di Jakarta Harus Dievaluasi

SHARE

Publik-News.com – Kawasan Kemang dan Bundaran Hotel Indonesia Jakarta Pusat tak lepas dari terjangan banjir ketika hujan mengguyur DKI Jakarta. Padahal berbagai upaya sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI dilakukan untuk mewaspadai bencana banjir di dua kawasan tersebut.

Wakil Ketua Komite III DPD RI, Fahira Idris mengatakan banjir yang melanda Kemang dan kawasan Bundaran Hotel Indonesia, menandakan penanganan persoalan banjir di Wilayah Jakarta masih harus menelusuri jalan yang panjang untuk mengevaluasi kembali program penanganan banjir yang selama ini sudah dilakukan.

“Apalagi diprediksi hujan deras akan melanda Ibukota hingga Maret 2017.Tidak ada cara lain, penanganan banjir di Jakarta tidak bisa parsial, harus komprehensif,” cuit Fahira melalui akun twitternya, @fahiraidris.

Fahir mengatakan, Jakarta sudah terlanjur dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhannya sehingga kota ini mengalami sebuah tekanan ekologis yang berat, salah satunya banjir. Inilah kalau normalisasi sungai sudah dianggap sebuah pekerjaan besar dan diklaim mampu menjadikan Jakarta bebas banjir.”Kita jadi lengah, menganggap hujan takkan bisa buat Jakarta banjir,” cuitnya lagi.

Dikatakan Fahira, jika melihat Master Plan Jakarta 1965-1985, sudah banyak daerah di Jakarta yang dulunya ditandai warna hijau atau tidak boleh di bangun, tetapi kini dipenuhi bangunan baik permukiman maupun kawasan komersil. Bahkan sejak 1985 hingga 2005, kata dia, kawasan-kawasan yang ditandai hijau berangsur hilang digantikan warna kuning yang artinya sudah berdiri bangunan.
“Kemang itu, di Master Plan Jakarta 1965-1985, warna hijau mendominasi. Boleh membangun tetapi dibatasi, karena boleh membangun tetapi dibatasi, karena kita sama-sama tahu, kawasan itu adalah kawasan resapan air,” katanya.

Menurut Fahir, pembangunan di Jakarta tidak lagi terkendali. Daerah resapan air, tetapi jadi daerah komersil yang pertumbuhannya tertinggi di Jakarta. Karenanya, Fahira meminta Pemprov DKI Jakarta menhentikanlah klaim-klaim yang menyatakan bahwa hujan tidak akan membuat Jakarta banjir.

“Klaim-klaim seperti ini saya anggap ‘tidak sehat’ untuk menggerakkan semua elemen dalam masyarakat untuk bahu membahu berpikir dan untuk menggerakkan semua elemen dalam masyarakat untuk bahu membahu berpikir dan bergerak bersama mengatasi banjir,” pungkasnya.

Fahira kemudian mengaku bersyukur, hujan kemarin hanya beberapa jam, tidak berhari-hari, sehingga kerusakan yang ditimbulkannya tidak begitu besar. Tetapi bukan tidak mungkin, nanti di puncak penghujan, banjir yang lebih besar terjadi. Itu yang harus segera diantisipasi. Dan banjir di kawasan Bundaran HI pun sudah selutut Orang Dewasa.

Menurut Fahira, “ramahnya banjir” menyapa Jakarta diakibatkan bertemunya berbagai faktor utama penyebab banjir di kota ini Mulai dari: a. alih fungsi daerah resapan menjadi pusat-pusat komersil; b. alih fungsi hutan bakau di pesisir Jakarta mjadi perumahan mewah; dan c. laju penurunan tanah di Jakarta yang semakin cepat; d. buruknya sistem & manajemen pengelolaan dan pemantauan saluran air di Jakarta; dan e. berbagai faktor lain misalnya, masih rendahnya kesadaran warga untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya.

“Jika Jakarta mau tahan banjir, semua faktor penyebabnya harus diselesaikan secara bersamaan dan sistematis, tidak boleh hanya fokus pada satu faktor saja,” tutupnya.

(Hurri Rauf)

Comment