Home Opini Fenomena Kartu Kuning

Fenomena Kartu Kuning

Sesungguhnya tidak ada yang perlu diresahkan. Apalagi tibut. Ibarat main bola, ya biasa saja kartu kuning itu sekedar mengingatkan adanya pelanggaran, atau kecurangan.

Pemberi jartunta pun wajar-wajar saja. Karena selama ini permainan terus berlangsung tanpa wasit. Mereka yang ada justru ikut bermain dengan culas. Semua mau tampil agar bisa memperoleh bayaran lebih mahal.

Ibarat bermain bola ini untuk membayangkan saja sebuah permainan tanpa wasit, seperti masa kecil di kampung dulu dilakukan sesuka hati, lantaran tidak ada pengawas juga tidak ada ukuran waktu maupun tata krama aturannya.

Kartu kuning dari jaket kuning dan kampus kuning, sekedar mengingatkan saja bila mereka tidak semua nonton dalam kondisi tertidur, atau kekenyangan msupun mabuk oleh nilai SKS yang dianggap satu-satunya ukuran keubggulan.

Sempritan itu memang bisa memantik suasana lena kampus biru, hijau termasuk yang berwarna merah yang dulunya dibanggakan pemberani dan siap berdarah-darah untuk menjaga serta mempertahankan keutuhan bangsa dan negara dari penjajahan maupun penjarahan bangsa asing maupun oleh bangsanya sendiri juga sekarang.

Fenomena kartu kuning kok dibuat ribut ? Itu cuma sekedar peringatan belaka kalau yang bersangkutan masih mau terus tampil menjadi pemain yang ebak ditonton dan menebar kebahagian bukan cuma untuk memuaskan syahwat sendiri.

Mengapa fenomena kartu kuning yang diacungkan mahasiswa itu tidak bisa dipahami untuk mahasiswa lain di kampus lain yang mungkin sampai sekarang masih teler tertidur kelap ?

Kartu kuning itu sudah sejak awal harus diacungkan mahasiswa, kantaran pernainannya sejak awal sudah menunjukkan prilaku buruk. Dan mahasiswa pun sepatutnya memposisikan diri yang paling bertanggung jawab, baik sebagai penjaga moral dan etika serta menunaikan fungsi dari calon intelektual yang kelak akan mewarisi semua penibggalan bangsa dan negara ini.

Terus dan lakukanlah semuanya itu dengan ketakinan dan kebenaran, tanpa hirau dengan gertakan dari pihak manapun, jecuali Allah SWT. Termasuk pada mereka yang masih terlelap tidur di kampus berikut untuk dosen dan guru besarnya yang cuma bermental mencari uang belaka.

Bangkitkanlah tanggung jawab moral dan intelektual kalian sejak masa muda, agar kelak tidak perlu merasa berdosa hanya karena telah membiarkan keserakahan rezim penguasa terus merusak begeri kita.

Oleh: Jacob Ereste

(Atlantika Institut Nusantara)

Comment