Home Regional Festival Maksaira di Kepulauan Sula Pecahkan Rekor MURI

Festival Maksaira di Kepulauan Sula Pecahkan Rekor MURI

Publik-News.com – Festival Maksaira yang digelar pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Sebab, event tahunan ini merupakan event terbesar yang berada di Kepulauan Sula karena diikuti hampir 3000-an peserta memancing ikan kerapu.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Bupati Kepulauan Sula, Hendrata Thes. Terlihat menggunakan kemeja batik lengan panjang, Hendrata yang tampak berdiri di atas panggungung terus menebarkan senyum. Ini menandakan bahwa betapa bahagianya Hendrata menerima penghargaan Muri ini.

Hendrata berharap, ajang promosi perikanan hingga potensi wisata yang ada di Kepulauan Sula ini menjadi pemantik bagi masyarakat luar Kepulauan Sula dan turis manca negara. Sebab, Kabupaten Kepulauan Sula memiliki beragam potensi wisata di antaranya wisata alam, budaya, sejarah serta bahari. Tapi, selama ini, potensi tersebut masih dikelola secara tradisional.

Untuk diketahui, objek wisata alam dan bahari yang dimiliki Kepuluan Sula antara lain Pantai Wai Ipa, Pantai Fatkauyon, Pantai Mangoli, Pantai Baleha, Pantai Tjung Waka, Teluk Harimau, Pantai Waisum, Telaga Kabau, Pulau Kucing, air terjun Desa Wailau, air terjun Desa Waitina, Selat Capalulu, Pulau Pagama. Wisata sejarah di antaranya benteng peninggalan Portugis (De Verwachting Alting), Air Santosa, Batu Gadis (Fatfina Koa), kuburan Imam Jawa, Tanjung Mata “Aya bo fat tina”. Wisata budaya di antaranya, tarian denge, gambus, bambu gila, silat tradisional, belayai, laur dan laka baka.

Dan Festival Maksaira tersebut merupakan budaya masyarakat Kepulauan Sula yang berasal dari kehidupan masa lalu para leluhur sehingga wajar jika hal itu sudah menjadi tradisi dalam menggagas konsep pembangunan di Kepulauan Sula.

Selain itu Maksaira juga merupakan penyampaian aspirasi masyarakat yang diwakili oleh tokoh adat dari masing-masing keterwakilan soa, juga sebagai wadah pemersatu bagi seluruh masyarakat Sula.

Maka dari itu, secara filosofis Maksaira mempunyai makna sebagai pertemuan para tokoh adat yang melaksanakan musyawarah untuk mencapai suatu mufakat dalam menggagas persatuan dalam pembangunan dan mencerminkan semangat gotong royong Dad Hia Ted Sua di Kepulauan Sula. (Pn/Ed)

Comment