Fraksi PKS Minta Masyarakat Sabar Menunggu Janji Penegakan Hukum Terkait Penistaan Agama

Fraksi PKS Minta Masyarakat Sabar Menunggu Janji Penegakan Hukum Terkait Penistaan Agama

SHARE

Publik-News.com – Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini meminta masyarakat, khususnya Umat Islam, untuk bersabar menanti janji penegakan hukum atas kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama.

Pasalnya, sudah ada kesepakatan yang dicapai oleh utusan pengunjuk rasa dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama dengan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, untuk menyelesaikan kasus tersebut dalam waktu dua pekan.

“Kemarin utusan demonstran sudah diterima Pak Wapres. Kita harus apresiasi Bapak Jusuf Kalla yang mau menerima utusan demonstran beserta Bapak Kapolri yang sudah berjanji akan memproses saudara Basuki Tjahaja Purnama yang diduga menistakan Al-quran dalam waktu dua pekan selesai,” saran Jazuli di Jakarta, Sabtu (5/11/2016).

Oleh karena, dengan menunjukkan sikap bersabar tersebut, menunjukkan bahwa seluruh komponen umat dan warga negara menghormati janji dan komitmen terhadap RI 2 dan Kapolri tersebut.

“Kita harus sabar dulu. Mudah-mudahan aparat penegak hukum bisa dgn adil, objektif dan arif bijaksana dalam menegakan hukum di negeri ini,” pungkas wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Banten ini.

Selain itu, Jazuli Juwaini mengapresiasi aksi unjuk rasa “Bela Al-Quran” kemarin yang secara umum berjalan kondusif, lancar, dan damai.

“Saya hadir memantau di lokasi demo. Subhanallah sepanjang siang hingga sore hari demonstrasi berjalan tertib dan damai,” ungkap Jazuli.

Menurut Jazuli, denganjumlah pengunjuk rasa yang mencapai jutaan orang tersebut menunjukkan betapa serius masalah penodaan agama dan perhatian umat Islam Indonesia, terkait penegakan hukum yang tegas dan adil terhadap kasus ini.

“Luar biasa dengan jumlah demikian besar dan terbesar sepanjang sejarah penyampaian pendapat di muka umum di Indonesia, demonstrasi relatif aman terkendali,” kata Anggota Komisi I DPR RI ini.

Hanya saja, Jazuli cukup menyesalkan terjadinya sedikit konflik setelah masuk waktu petang. Jazuli menilai ada beberapa kemungkinan pemicu hal tersebut.

“Pertama pendemo kecewa karena harapannya sudah besar ingin bertemu dengan Presiden Jokowi tapi harapan itu tidak dipenuhi,” ungkap Jazuli.

Sebenarnya, tambah Jazuli, andai Presiden Jokowi menemui pun mereka tidak akan berlaku di luar batas. Bahkan sebaliknya, tambah Jazuli, dengan bertemu dengan para pengunjuk rasa tersebut, justru sangat positif dan kondusif.

Buktinya, tambah Jazuli, ketika utusan pengunjuk rasa, ditemui Wakil Presiden Jusuf Kalla, tuntutan mereka tidak berubah, yaitu hanya minta Basuki Tjahaja Purama yang diduga melakukaan penistaan agama agar segera diproses hukum.

“Pemicu kedua, bisa jadi ada penyusup dan provokator makanya terjadinya ricuh sudah malam karena sudah tidak lagi bisa terlihat dengan jelas siapa melakukan apa,” kata Jazuli.

Oleh karena itu, Jazuli pernah mewanti-wanti agar pengunjuk rasa waspada. Begitu pula dengan aparat, Jazuli minta agar mampu mendeteksi dengan teliti mana provokator dan mana pengunjuk rasa.

“Kalau aparat salah mengidentifikasi dan menangani ini bisa fatal akibatnya. Aparat semestinya tidak mudah terprovokasi situasi, harus cermat dan lebih bijak, ” terang Jazuli.

Comment