Home Politik Gatot Ingatkan Pemerintah Terkait Tantangan Persaingan Global

Gatot Ingatkan Pemerintah Terkait Tantangan Persaingan Global

Publik-News.com – Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menyebut persaingan global yang terjadi saat ini tidak lepas dari perubahan gejala alam. Perkembangan pembangunan yang mengorbankan lingkungan sudah menghadirkan krisis pemanasan global.

Ia mencontohkan kondisi lingkungan di utara Afrika. Meski cukup banyak kandungan minyak bumi, mata air di wilayah tersebut mulai kering.

“Sebagai akibatnya, kita akan melihat dalam 2-3 tahun mendatang akan banyak pengungsian besar-besaran dari Afrika sana karena mereka tidak bisa hidup lagi di sana,” ucap Gatot saat menjadi pembicara di diskusi Urun Rembuk Kebangsaan di Gedung Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (25/04/18).

Persaingan global, lanjut Gatot tidak hanya mengancam sumber air tetapi juga pangan. Pertumbuhan penduduk yang kian masif tanpa diiringi produksi pangan maka akan menjadi ancaman lain dalam kehidupan masa depan.

“Akan terjadi juga kelangkaan pangan. Mengapa demikian? Karena jumlah penduduk semakin hari semakin besar,” Ujar Gatot

Tiga penyebab kompetensi global itu adalah, pemanasan global, pertumbuhan penduduk, dan menipisnya minyak. “Hasil penelitian, 70 persen konflik dunia berlatarbelakang energi,” kata Gatot

Ini tergambar dari semua lokasi perang di Timur Tengah adalah negara penghasil minyak.

Sementara itu, di Afrika Selatan, jelas Gatot, pembagian air dijatah dan dijaga militer. Di negara itu, tidak orang yang mencuci mobil dengar air dan tidak ada tanaman yang disiram.

Menurutnya, Indonesia harus melihat kompetensi ini. Indonesia yang memiliki kekayaan alam berpotensi menjadi rebutan negara lain.

“Pimpinan-pimpinan negara dalam satu konferensi duduk berdampingan atau berdiri berfoto bersama-sama, kelihatannya akrab, tapi dalam hatinya, lo saingan gua, kapan gua makan negara lo,” kata Gatot.

Gatot juga mengingatkan dalam pemanfaatkan sumber daya mineral, pemerintah Indonesia tidak boleh abai terhadap kepentingan rakyat. Sebab, penambangan secara bebas bisa memicu kesenjangan sosial di masyarakat.

“Modal kita sekarang, kita bangga dengan demografi, kondisi sosialnya, ada politik, keamanan. Jumlah penduduk kita 257 juta, nomor 4 di dunia,” katanya.

“Inilah yang saya yakini bahwa pertumbuhan ekonomi secara bisa bertahan lima,” lanjutnya. (Ak/Ed)

Comment