Gelombang Nasionalisme

Gelombang Nasionalisme

SHARE
https://anthroanna.files.wordpress.com/2012/10/nationalism.jpg?w=684

 

Oleh Mohd. Sabri AR

 

Ketika Sutan Takdir Aiisjahbana pada 1991 memekikkan “Nasionalisme Gelombang Ketiga” yang mengandaikan ide kemajuan bersama peradaban manusia dan mendorong manusia Indonesia agar kerja lebih keras, mengepakkan sayap keadilan dan meraih yang terdepan, sejatinya kita tengah mengalami transformasi kesadaran perihal “ruang” dan “wawasan” keindonesiaan.

 

Dalam detak jantung sejarah Indonesia, Nasionalisme Gelombang Pertama, dimaknai sebagai bentuk patriotisme radikal melawan kolonialisme. Kebutuhan akan “identitas kebangsaan” lalu menjadi sumbu perjuangan. Ciri ini mengemuka dan menjadi napas kejuangan Budi Utomo (1908) dan peneguhannya pada Sumpah Pemuda (1928). Di titik ini, transformasi kesadaran bergerak dari bangsa Timur Asing ke Bagian Hindia Belanda, lalu mengidealkan Keidonesiaan.

 

Nasionalisme Gelombang Kedua, diwakili para tokoh pergerakan nasional semisal Soekarno, Muh. Hatta, St. Sjahrir dan lainnya yang mengostruk keyakinan untuk bangkit memerdekakan diri, lepas dari cengkeraman penjajahan. Transformasi kesadaran yang berlangsung di fase ini terakumulasi demikian rupa dan meledak dalam wujud revolusi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

 

Kini, ketika angin perubahan berarak kencang, globalisasi melumat kesadaran spasio-temporal kita yang menyulut pertukaran tanda, budaya hibrid dan mimikri yang begitu liberal, relevankah menilai kembali perjalanan nasionalisme Indonesia?

 

Menarik agaknya mempertimbangkan pendakuan Danesi dan Perron, Analyzing Culture (1999) yang membedakan konsep “ruang” (space) dan “tempat” (place). Jika yang terakhir lebih menunjukkan aspek objektif dan material, maka yang pertama menekankan sisi realitas yang non-material dan karena itu bersifat psikis. Dalam hal ruang, Danesi dan Perron membagi tiga tingkat kesadaran: (1) “teritorialitas”, (2) “kepanjangan diri” (extension of self), (3) “konotasi sosial”. Konsep ruang yang pertama mewakili paras place,  sementara dua yang terakhir adalah contoh kesadaran tentang space.

 

Kini “ruang” kebangsaan kita mengalami transformasi radikal menyusul terbitnya kesadaran-palsu, apa yang diandaikan Baudrillard sebagai simulasi: sebilah realitas yang tidak lagi menjadikan realitas obyektifnya sebagai referensi. Dalam Simulacra and Simulation (1983), Baudrillard lebih jauh mendaku, simulasi adalah ‘refleksi tentang realitas palsu’ alias hiperialitas. Dengan demikian, ada tujuan secara sengaja menyebarkan simulacrum, yakni tiruan “yang lebih nyata dari realitas”.

 

Hiperealitas—seperti media massa, X-File, dan dunia cyber–nampak lebih ril dari pada kenyataan sesungguhnya dan bermetamorfosis sebagai pengontrol pikiran dan penculik kesadaran kita. Jangan-jangan realitas “ruang” kebangsaan kita pun kini lebih merupakan “citra” hiperialitas. Di titik ini, kita mencoba melihat ulang kesadaran “ruang” Keindonesiaan kita, sehingga “amuk” anak-anak Papua di Yogyakarta pekan ini, tidak semata-mata dilihat dari perspektif teritorial dan kedaulatan negara yang tergugat, tapi juga diletakkan pada poros kesadaran “nasionalisme gelombang ketiga” yang tengah bergolak yang menuntut visi kearifan kita semua.

SHARE
Comment