Home Politik Gema Kosgoro Harus Berani Jadi Ujung Tombak Revolusi Mental

Gema Kosgoro Harus Berani Jadi Ujung Tombak Revolusi Mental

Publik-News.com – Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Dan Gerakan Mahasiswa Kosgoro harus berani menjadi pendobrak dan ujung tombak revolusi mental.

Demikian dipaparkan Deputi Menteri Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Haswan Yunaz dalam Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) I/2016 Gerakan Mahasiswa Kosgoro di Wisma Puspiptek, Tangeran Selatan, (20/12/2016)

Haswan mengatakan, gagasan revolusi mental pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum tercapai. Bukan lagi mengangkat senjata, tapi membangun jiwa bangsa.
“Revolusi mental adalah ketika orang lain masih tertidur kita sudah bangun. Ketika orang lain baru bangun kita sudah berdiri. Ketika orang lain baru berdiri kita sudah berjalan. Ketika orang lain berjalan kita sudah berlari. Ketika orang lain berlari kita sudah terbang,” katanya.

Menurut Haswan, dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong. “Kita masih harus revolusi, namun dalam arti yang berbeda. Membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia,” ungkasnya.

Sementara Ketua Umum DPN Gerakan Mahasiswa Kosgoro HM Untung Kurniadi mengungkapkan, gerakan revolusi mental terbukti berdampak positif terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ada banyak prestasi yang diraih berkat semangat integritas, kerja keras, dan gotong royong dari aparat negara dan juga masyarakat.

Gerakan revolusi mental, kata Untung, semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi tiga problem pokok bangsa yaitu merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan terakhir melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional.

“Namun masih banyak pembantu presiden tidak memahami esensi dari revolusi mental. Bahkan ada yang mengerti namun pura-pura tidak mengerti dan tidak mau melaksanakan revolusi mental. Dan ini yang harus diperingatkan, ditegur bahkan dilawan agar tidak menjadi ganjalan revolusi mental,” demikian pungkas Untung. (HR)

Comment