Golkar Diajak Menari Dalam Gendang Meikarta

Golkar Diajak Menari Dalam Gendang Meikarta

SHARE

Tarik menarik kekuatan dalam menentukan siapa Calon Gubernur Jawa Barat, sarat dipenuhi kepentingan pengembang Meikarta yaitu kelompok Lippo Group.

Golkar sebenarnya memiliki calon yang elektabilitas menunjukan trend menanjak yakni Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta, pria yang akrab dipanggil Kang Dedi memiliki elektabilitas mencapai 16 %, dari sebelumnya sekitar bulan juli baru di angka 12%, dan diperkirakan akan terus menanjak apabila dia dicalonkan resmi oleh partai golkar.

Sebagai Icon Budaya Sunda, tentu Kang Dedi sangat dikenal, bahkan dicintai oleh masyarakat Jawa Barat yang mayoritas adalah Suku Sunda.

Kang Dedi adalah Ketua KAHMI Jawa Barat, tentu elemen HMI diperkirakan mayoritas akan mendukungnya.

Dedi Mulyadi dengan gayanya yang sederhana, ditengah kerja kerasnya membangun Kabupaten Purwakarta sehingga kabupaten yang tadinya tidak begitu dikenal, kini menjelma menjadi luar biasa akibat sentuhan dingin dan humanis dari seorang darinya.

Dedi pun kini bahkan menjelma menjadi Icon Partai Golkar, ditengah carut marutnya Partai Golkar saat ini, Setya Novanto sang ketua umum bahkan sudah jadi tersangka kasus e-KTP, walaupun kemudian namanya menghilang dalam fakta di persidangan to pikir kasus e-KTP, belum lagi beberapa anggota partai beringin yang duduk di DPR RI terkena kasus korupsi dan sedang diperiksa KPK antara lain kasus e-KTP serta proyek percetakan Al-Qur”an.

Dedi Mulyadi the rising stars partai Golkar itu, malah ingin disingkirkan oleh kelompok Nusron Wahid dari unsur DPP Golkar, karena dinilai tidak punya uang mahar sebagai Calon Gubernur Jawa Barat.

Kelompok Nusron malah lebih memilih Ridwan Kamil Walikota Bandung bukan kader partai Golkar, yang telah lebih dahulu di dukung oleh Partai Nasdem.

Pria yang akrab disapa dengan panggilan Kang Emil ini, memang adalah seorang visioner, sebab dia memiliki latar belakang sebagai arsitek perkotaan, dan terbukti Kota Bandung dibawah pimpinan Kang Emil berubah menjadi kota modern dan ramah lingkungan, tentu adalah sebuah prestasi luar biasa.

Namun demikian untuk urusan elektabilitas Kang Emil masih jeblok, karena sampai saat ini cuma memiliki modal 2 % saja, dia belum mampu mengkatrol elektabilitasnya sendiri, dia belum mampu menggapai dukungan signifikan dari luar kota Bandung, padahal Kang Emil sudah didukung habis partai Nasdem.

Satu hal lagi yang sangat merisaukan adalah Ridwan Kamil rawan menjadi sasaran dendam politik dari partai yang tadinya habis-habisan mendukungnya serta mengantarnya sebagai Walikota Bandung, PKS dan Gerindra tanpa ampun akan menghabisi Ridwan Kamil dalam kontestasi Pilkada serentak menuju Jabar 1 di tahun 2018 kelak, sebagai pelajaran berharga sebagai jawaban atas perlakuan Kang Emil mempermalukan kedua partai tersebut.

Didukung partai Gerindra dan PKS dan dengan modal elektabilitas diatas 50% saat ini, tentu Deddy Mizwar akan sangat digdaya membungkam Ridwan Kamil apabila kelak head to head dalam kontestasi pilgub Jabar nanti.

Adalah sangat aneh ketika Dedi Mulyadi ingin disingkirkan karena tidak punya uang, padahal Ridwan Kamil pun sampai saat ini juga sama tidak punya uang mahar untuk meminang PPP dan PKB, karenanya kedua partai tersebut masih belum bulat mendukung Kang Emil.

Ambisi Besar Pengembang

Meikarta ingin pemerintahan Provinsi Jawa Barat tetap dibawah kendali Incumbent, mereka ingin melanjutkan apa yang telah dimulai.

Proyek ambisius dengan untung sangat luar biasa, mengacu pada harga tanah Rp2.500/m², dengan asumsi lahan Meikarta seluas 500 ha (5 juta m²), total harga beli tanah pada 1996 itu sekira Rp12,5 miliar, dan saat ini, dengan asumsi Lippo Group menjual kembali tanah dengan harga acuan dari BPN sebesar Rp2 juta/m², nilainya sudah Rp10 triliun. Artinya ada potensi keuntungan Rp9,98 triliun dari hanya membeli tanah kosong, apalagi kalau dibangun menjadi kota mandiri, tentu sangat besar untung akan diraih.

Meikarta tentu harus melindungi perkiraan keuntungan luar biasa tersebut dengan menjamin bahwa proyek raksasa di Cikarang itu tidak akan terganggu oleh pergantian eksekutif(Gubernur) di Provinsi Jawa Barat kelak, apalagi beberapa waktu lalu Deddy Mizwar sudah kasih warning tentang perijinan proyek Meikarta.

Lippo Group melihat statement Wagub Jabar tersebut sebagai sebuah pesan kuat untuk tetap mendukung Deddy Mizwar apabila ingin tidak terhambat.

Meikarta melihat bahwa untuk mendukung kemenangan Deddy Mizwar pada Pilgub 2018 nanti, tentu harus dipilih lawan yang paling empuk untuk dikalahkan, dan dengan cerdas, setelah mempelajari peta kekuatan masing-masing diantara Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil, maka Meikarta memutuskan untuk mendorong Ridwan Kamil head to head melawan Deddy Mizwar, dengan asumsi Deddy Mizwar keluar sebagai pemenang dan proyek ambisius Meikarta akan melenggang sukses.

Untuk memuluskan head to head antara Deddy Mizwar vs Ridwan Kamil, maka harus dilakukan penetrasi ke jantung partai Golkar, dalam rangka mengganjal pencalonan Dedi Mulyadi, sebab Kang Dedi adalah lawan yang sangat mungkin mengalahkan incumbent Deddy Mizwar tentunya.

Disinilah diduga keras Nusron Wahid dan kelompoknya bermain dan menari dalam tetabuhan Meikarta, untuk mengganjal laju Dedi Mulyadi sebagai calon gubernur Jawa Barat dari partai Golkar.

Tarik menarik kepentingan dalam tubuh partai Golkar, dalam 1 atau 2 minggu ini akan sangat terasa, dan aroma Meikarta menyengat tercium disana.

Oleh: Novy Viky Akihary

SHARE
Comment