Golkar Pasca Setya Novanto Jadi Tersangka

Golkar Pasca Setya Novanto Jadi Tersangka

SHARE

Korupsi adalah extra ordinary crime, salah satu bentuk kejahatan yang disetarakan dengan kejahatan kemanusiaan (against humanity) karena dampaknya luas terhadap sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Korupsi juga selalu dilakukan dengan berkelompok, atau melibatkan lebih dari satu pihak. Karena itu perbuatan korupsi selalu terencana, sehingga tidak tepat disebut sebagai musibah jika tertangkap oleh aparat penegak hukum.

Kasus Setya Novanto dan sejumlah pihak yang terkait dalam dugaan persekongkolan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara di taksir sekitar 2,3 Trilliun rupiah itu telah lama menjadi perhatian publik.

Tarik ulur KPK dalam menetapkan tersangka dalam kasus ini sempat menimbulkan kecurigaan bahwa KPK telah diintervensi oleh istana, terutama karena pernyataan Luhut Binsar Panjaitan pada saat menyampaikan materi Rapimnas Gokar di Kaltim beberapa waktu lalu. LBP menyampaikan kepada peserta Rapimnas Golkar agar tidak usah memikirkan persoalan Setya Novanto di KPK, “sudah ada yang urus” kata LBP kala itu.

Tentu saja dengan kapasitas Ketua DPR sekaligus Ketua Umum Golkar SN memiliki power politic,s yang “besar” untuk bargaining politik dengan Pemerintah. Publik pun berspekulasi bahwa SN dilindungi oleh Istana. Spekulasi opini itu begitu kuat, dan menjadi isu politik. Jokowi dalam berbagai kesempatan membantah spekulasi politik itu.

Jokowi maupun KPK tentu saja dirugikan oleh spekulasi opini politik yang membesar tersebut. Momen pun nampaknya bersambut, hanya berselang dua hari setelah diperiksa KPK, SN bertemu Presiden.

SN memberikan keyakinan kepada Jokowi bahwa Pansus KPK tidak untuk melemahkan KPK, bahwa DPR siapa mengamankan PERPPU Nomer 2 tahun 2017 tentang Ormas, dan tentu kembali memegaskan bahwa Golkar tetap solid mendukung pencapresan kembali Jokowi 2019, sehingga mendukung full keinginan pemerintah menetapkan Presidential treshold hingga 20 persen.

Hanya berselang beberapa jam setelah SN diterima Presiden, di bilangan Kuningan Jakarta Selatan, Ketua KPK Agus Rahardjo mengumumkan penetapan SN senagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan KTP elektronik.

Golkar Konsolidasi

Partai Golkar partai dengam cadangan politisi yang banyak. Dari yang banyak itu terdapat sejumlah kelompok-kelompok politik atau kubu yang tidak bersifat permanen, tapi biasanya terbentuk secara ad hoc secara insidental disaat ada momen momen internal di Golkar. Kubu SN tentu saja yang sedang berkuasa di DPP Golkar saat ini.

Sesaat setelah SN ditetapkan sebagai tersangka, “orang dekat” SN bertemu di kediaman SN, diantaranya Nurdin Halid dan Idrus Marham hadir dalam pertemuan itu. Nurdin Halid selaku Ketua Harian sesaat setelah pertemuan menyampaikan bahwa mereka menolak ide Munaslub untuk menggantikan SN, tetap mempertakankan SN sebagai Ketum Golkar maupun Ketua DPR.

Tentu saja yang berbeda pandangan atas keputusan “tidak resmi” itu menolak. Pamdangan lain seperti yang disampaikan Politisi Senior yang juga mantan Ketum Golkar Akbar Tandjung, menilai bahwa jalan keluar yang terbaik untuk atasi krisis politik internal di Golkar adalah dengan Munaslub.

Perdebatan kedua cara pandang inilah yang sedang menghangat di Golkar saat ini. Jika saja kubu SN tetap ngotot tidak ingin Munaslub dipastikan bahwa partai itu akan menuai krisis politik yang berkepanjangan akubat konflik internal.

Namun jika semua pihak setuju Munaslub, forum munaslub itu akan melahirkan sejumlah “kejutan-kejutan” politik baru dalam kancah politik nasional. Resonansinya tentu akan mempengaruhi kebijakan pemerintah sehingga pihak istana diduga kuat akan terus memantau perkembangan politik di Golkar.

Saya kira Golkar memerlukan Tokoh baru yang relatif muda, bersih, dan berkarakter nasionalis dari kalangan Muslim Modernis. Tapi harus dipastikan tidak memiliki ambisi jadi Capres atau Cawapres agar bisa fokus mengurus konsolidasi internal Golkar.

Oleh: Hasanuddin
(Penulis adalah Sekretaris Lembaga Pengelola Kaderisasi DPP Golkar periode 2010-2015)

Comment