Hakekat Penangkapan Ikan: Centrang Vs Gilnet

Hakekat Penangkapan Ikan: Centrang Vs Gilnet

SHARE

Kegiatan penangkapan terjadi karena ada ikan yang ditangkap dan ada upaya penagkapan (effort). Jika salah satu dari kedua ini tidak ada maka tdk akan terjadi penangkapan (fishing). Jika dalam suatu perairan ikan tidak ditangkap maka pengurangan jumlah ikan akan terjadi karena adanya mortalitas (kematian) alami.

Adanya penangkapan akan menambah pengurangan jumlah ikan di dalam suatu perairan. Oleh karena itu untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu dilakukan pengendalian pemanfaatan seperti membatasi jumlah effort yang masuk ke dalam suatu perairan bukan “memberhentikan” kegiatan penangkapan.

Menjaga Kelestarian sumberdaya adalah suatu keharusan, perlu pengendalian pemanfaatan dan pengelolaan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan biologi dan ekonomi (bioekonomi) yaitu bagaimana dapat dihasilkan keuntungan maksimum secara ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian sumberdaya ikan itu sendiri (secara biologi).

Pelaku usaha tidak hanya mencari keuntungan saja tapi juga harus bersama-sama menjaga kelestarian sumberdaya ikan agar kegiatan penangkapan yang dilakukan dapat berkesinambungan serta anak cucu kita pun dapat menikmati sumberdaya ikan yang sama dengan yang kita nikmati saat ini.

Disinilah peran pemerintah sebagai wakil publik untuk mengatur agar mengendalikan pemanfataan sumberdaya ikan sehingga tercapai keberlanjutan sumberdaya baik secara biologi maupun ekonomi untuk kesejahteraan seluruh masyarakat (nelayan) Indonesia. Pengendalian pemanfaatan salah satunya dapat dilakukan dengan mengendalikan jumlah alat tangkap yang bisa masuk ke dalam suatu perairan.

Penggunaan alat tangkap baik yang aktif maupun yang pasif, ditentukan oleh bagaimana karakteristik suatu perairan dan spesies ikan apa yang menjadi target penangkapan. Isu tidak ramah lingkungan akibat penggunaan suatu alat tangkap baik aktif maupun pasif sesungguhnya lebih pada berapa banyak alat tangkap itu digunakan, bagaimana alat tangkap tersebut dioperasikan dan dimana alat tangkap itu digunakan (fishing ground).

Makin banyak jumlah alat tangkap dan semakin kecil ukuran mata jaring yang digunakan maka dapat mengancam kelestarian sumberdaya ikan. Untuk menentukan berapa jumlah alat tangkapan yang bisa masuk ke dalam suatu perairan dan berapa ukuran mata jaring yang dapat digunakan agar ramah lingkungan diperlukan suatu kajian yang up to date mengingat perubahan bisa terjadi kapan saja (dinamis).

Terkait dengan masalah alat tangkap cantrang, alat tangkap ini bisa ramah lingkungan jika dioperasikannya dengan benar sesuai aturan. Cantrang berbeda dengan trawl karena alat tangkap ini ditarik ke arah perahu pada kedua sisinya atau ditarik ke arah pantai seperti pukat pantai yang dapat menangkap umumnya ikan pelagis. Penggantian alat tangkap ini misalnya dengan gillnet tentu saja akan menjadi berbeda dari berbagai sisi seperti bagaimana pengoperasiannya dan jenis hasil tangkapannya sehingga nelayan perlu “belajar” untuk mengoperasikannya dan penentuan wilayah penangkapan juga perlu diatur.

Disamping itu harga alat tangkap pengganti ini cukup mahal. Harga per piece lebih kurang Rp 6-7 juta dengan panjang lebih kurang 45 m (9 mata jaring dengan ukuran 5 Inchi) dan dalam satu paket bantuan untuk nelayan dengan kapal dibawah 10 GT ada sebanyak lebih kurang 22 pieces. Perlu modal cukup besar pula bagi nelayan kecil untuk dapat beralih alat tangkap (satu paket harganya lebih kurang Rp 150 jutaan), Sementara itu menggunakan cantrang harganya lebih murah dan terjangkau oleh nelayan kecil. Ironis lagi, kerjasama dengan bank yang katanya akan dimudahkan belum juga terealisasi hingga saat ini.

Pertanyaannya apakah Bank tidak akan mempermasalahkan perihal bankable dan profitable dari usaha ini? dan bagaimana nelayan bisa melakukan pembayaran angsuran pinjaman dengan usaha barunya dengan alat tangkap yang baru pula.?

Pada akhirnya akan tercipta kembali keterikatan informal antara nelayan dengan “tengkulak” yang dapat membuat nelayan semakin terpuruk. Dimanakah letak peran pemerintah dalam hal ini? Penggunaan alat tangkap seharusnya berbeda pada wilayah yang berbeda karena karakteristik dan spesies targetnya tentunya berbeda. Meskipun gillnet dikatakan alat tangkap yang pasif, penggunaan dalam jumlah yang tidak dibatasi pun dapat mengakibatkan tdk ramah lingkungan.

Sama halnya dengan Cantrang, gillnet pun dioperasikan di dasar perairan yang tidak berkarang. Gillnet juga akan menangkap multispesies ikan tergantung dimana letak alat tangkap ini dipasang, apakah di permukaan (menangkap multispesie ikan pelagis), pertengahan dan di dasar (menangkap multispesies ikan demersal).

Disamping itu, penggunaan alat tangkap pengganti yang homogen pada akhirnya juga akan menimbulkan konflik sesama nelayan seperti konflik wilayah penangkapan dan lain-lain.

Oleh DR. Nimmi Zulbainarni
(Penulis adalah Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Sekolah Bisnis-IPB dan Dosen Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Sekjen MPN)

Comment