Home Ekonomi Kreatif Harga Cabai Anjlok, Hanura Pertanyakan Kinerja Kementan

Harga Cabai Anjlok, Hanura Pertanyakan Kinerja Kementan

Jakarta– Harga komoditas sayuran jenis cabai mengalami penurunan drastis. Di beberapa daerah, harga terendah di tingkat petani hanya mencapai 4.000 per kilogram.

Dengan harga panen yang anjlok ini, petani mengaku rugi. Pasalnya, harga penjualan berbanding terbalik dengan biaya tanam dan perawatan selama 3 bulan. “Harganya murah sekali sekarang. Harga rawit merah Rp. 15.000, tapi yg masih putih Rp. 8.000. Harga ini hanya bisa menutupi ongkos yang dikeluarkan,” keluh Sutarjo, petani rawit di Brebes, Jawa Tengah, Selasa (12/9/2017)

Ia menambahkan, biaya kuli petik juga tergolong mahal. Sehingga banyak petani yang membiarkan tanamannya membusuk di lahan. Nestapa ini juga dirasakan oleh petani cabai besar.

Situasi ini mengundang komentar Ketua DPP Partai Hanura Ahmad Nawardi. Menurut Nawardi, elegi harga cabai ini menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah untuk menjamin kesejahteraan petani.

“Memantau ketersediaan, penyerapan, pembelian, dan harga ke setiap sentra-sentra prosuksi harus terus digalakkan pemerintah. Supaya situasi seperti ini bisa diselesaikan dengan cepat dan berkeadilan,” tegas Ketua DPP Hanura itu.

Sejauh ini, usaha pemerintah (Kementerian Pertanian) memantau situasi di titik-titik kecil produksi cabai belum terlihat. Padahal, kontrol dan peran pemerintah sangat dibutuhkan setidaknya melalui kordinasi ke dinas terkait di daerah. Anjloknya harga cabai secara fluktuatif di tingkat petani bukanlah hal anyar, tetapi memang begitu rapi dan jarang diungkap ke khalayak publik.

Lanjut Nawardi, anjloknya harga cabai boleh jadi adalah permainan importir dan tengkulak. Pasalnya, harga cabai di tingkat petani berbeda dengan harga pasar.

“Ini juga indikasi permainan tengkulak. Jelas petani dirugikan. Pembenahan pada rantai pasokan cabai mendesak untuk dilakukan, dengan menerapkan pola kerjasama antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Perdagangan dan Bulog,” tegasnya.

Pemerintah juga harus segera rangkul industri pengguna cabai untuk memasok cabai langsung dari petani. “Seperti produsen bubuk cabai, produsen sambal, dan pedagang besar lainnya,” sebut Nawardi.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah memiliki agenda strategis untuk mengendalikan harga cabai. Tetapi hingga kini belum ada bukti konkret yang benar-benar riil dihadirkan ke tengah masyarakat.

Nawardi berharap, pelik harga cabai ini segera bisa diselesaikan. Sebab, kata Nawardi, menghadirkan prinsip keadilan tidak melulu dengan putusan konstitusi, tetapi juga dengan hati nurani.

Comment