IGI Dan Revolusi Literasi Guru

IGI Dan Revolusi Literasi Guru

SHARE

27-28 Oktober 2017 menjadi memontum dimana Literasi Guru mendapat tempat terhormat di mata Pemerintah.

100 buku terbaik hasil dari sebuah pelatihan penulisan selama 2 hari tatap muka dan 3 bulan dalam jaringan, disusun dan ditulis sendiri oleh guru, diterbitkan penerbit dengan biaya mandiri dari guru, berlabel sagusaku atau IGI mendapat tempat terhormat dan dipamerkan atas nama Kemendikbud dalam Festival Literasi Sekolah di Gedung A Kemendikbud di Jakarat.

Sagusaku atau satu guru satu buku sejatinya telah berlangsung lebih dari 40 angkatan tanpa APBN dan APBD. Lebih dari 3000 guru telah mengikuti diklat menulis buku sampai terbit ini. Bantuan beberapa Garuda Miles dari Kemendikbud sudah cukup untuk menambah bahan bakar gerakan ini.

Mengapa Revolusi?

Dimasa lalu, guru menulis buku mungkin hanya dongeng, guru menulis buku ibarat katak merindukan bulan, guru menulis buku ibarat “mission imposible” buat guru. Jangankan buku, karya tulis ilmiah dan PTK pun tak sedikit yang plagiat, ada yang “copy paste” bahkan banyak pula yang dibuatkan sehingga lahirlah dimasa lalu sebuah “profesi” yang bernama “pembuat karya tulis ilmiah”

IGI kemudian mencoba mengubah semua itu, bukan dengan memaki pemerintah, bukan dengan berdemonstrasi menuntut anggaran pelatihan penulisan, bukan dengan mengutuk regulasi tetapi bergerak dan berpacu dengan kekuatan sendiri.

Dimulai dari TOT Literasi Produktf Di Surabaya Oktober 2016 dengan dukungan PT Samsung Elecktronic Indonesia, IGI melahirkan kanal pelatihan penulisan buku bernama SAGUSAKU yang merupakan singkatan dari Satu Guru Satu Buku. Sebagai sesuatu yang produktif maka kesuksesan gerakan ini bukan pada banyaknya peserta pelatihan atau seberapa banyak anggaran yg diserap namun parameter sukses gerakan ini adalah seberapa banyak guru yang mampu belajar menyusun buku dengan ide sendiri, menuangkannya dalam bentuk tulisan dan menerbitkannya dalam bentuk buku jadi dengan logo sagusaku. Maret 2017 mulailah sagusaku terlaksana hingga sekarang dihampir setiap minggu terus bergerak. Literasi guru pun berubah dari malas membaca menjadi bisa menulis. Mengapa menulis buku?. Karena tak mungkin seorang mampu membuat tulisan yang baik jika tak banyak membaca sehingga dengan mendorong dan melatih guru menulis buku berarti sekali merangkuh dayung dua pulau terlampaui.

Alhamdulillah gerakan ini sukses merevolusi guru dari tak sering membaca menjadi sering membaca, dari tak mampu menulis menjadi mampu menulis bahkan menjadi buku. Semua itu terjadi bahkan tak perlu anggaran pemerintah melalu APBN dan APBD dan tak juga harus menarik iuran anggota.

Apa Yang Dibutuhkan Dari Pemerintah??

Jika IGI bergerak tanpa APBN dan APBD maka apa yang dapat dilakukan pemerintah untuk mendorong gerakan ini semakin cepat?

Pemerintah tak perlu meniru-niru IGI menggerakkan guru menulis buku karena boleh jadi hal itu hanya menjadi salah satu jalan menghamburkan uang negara tanpa hasil yang tak memadai.

Apa yang dilakukan Kemendikbud dengan memberikan tempat terhormat bagi buku-buku karya guru hasil pelatihan Sagusaku IGI dalam Festival Literasi Sekolah di Kemendikbud 27-29 Oktober 2017 ini sudah menjadi bahan bakar dahsyat dalam upaya menggerakkan semua itu. Apalagi jika mendikbud atau presiden memberikan piagam khusus sebagai apreseasi atas kesuksesan guru menulis buku maka bahan bakar itu semakin kuat menggelorakan semangat guru. Berikan difrensiasi bagi guru hebat dan berprestasi dibanding dengan guru malas dan tak mau berubah lebih baik.

Saya melihat binar mata terang dari kawan-kawan guru alumni Sagusaku IGI ketika buku-buku mereka dipamerkan di GESS 2017, mereka bahkan datang ke Jakarta dengan biaya sendiri. Apalagi Direktur Dikdas GTK Kemendikbud memesan 100 buku karya guru IGI dilanjutkan dengan menampilkan buku karya guru IGI dalam “booth” terhormat Kemendikbud 27-29 Oktober 2017 ini.

Pemerintah tak perlu menghamburkan uang rakyat sekedar untuk melatih guru, cukuplah berikan apreseasi ke mereka. Anggaran besar triliuan rupiah itu jauh lebih layak digunakan untuk memberikan pendapatan cukup bagi guru non PNS non sertifikasi agar hidup layak dan tak perlu mengutang tetangga karena honornya sebagai guru tak cukup untuk membeli sebiji telur dan seliter beras setiap hari untuk anak dan istri mereka.

Bagusaku Menemubaling.

Dalam perjalanan Sagusaku, tentunya tak semua guru sukses menulis buku, seperti telur ayam yang tak semua sukses menjelma menjadi anak ayam. Untuk itu IGI melahirkan solusi baru bernama Bagusaku Menemubaling yang merupakan singkatan dari “banyak guru satu buku, menulis dengan mulut membaca dengan telinga”. Guru-guru yang tak sanggup menulis satu buku tetapi mampu menulis satu bab atau satu topik dan dimudahkan dengan metode menemubaling akan dikumpulkan menjadi satu buku dengan topik yang diserasiselaraskan.

Bagusaku menemubaling pun langsung mendapat tempat khusus dalam FLS 2017 ini dengan satu booth khusus IGI.

Ayo kawan-kawan guru, alasan apalagi yang ingin kalian gunakan untuk tidak berubah lebih baik. Daripada berjuang menurunkan standar minimal PPG/PLPG/UKG lebih baik, mari berjuang dan terus belajar mencapai standar tinggi kualitas guru Indonesia karena masa depan negeri ini ada ditangan para guru.

Oleh: Muhammad Ramli Rahim

(Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia)

SHARE
Comment