Ilmu Aurat dan Peradaban Kebijaksanaan

Ilmu Aurat dan Peradaban Kebijaksanaan

SHARE

Kenapa sekarang ini manusia menjadi sangat pemarah? Kenapa orang makin gampang marah dan makin sukar memaafkan? Kenapa manusia sepertinya sedang membawa dendam kepada sesamanya sampai mati? Kenapa sesama manusia semakin meningkat potensialitasnya untuk saling menolak, saling memuntahkan, saling membuang dan mengusir, saling diam-diam mencita-citakan kehancuran dan kemusnahan orang lain yang bukan dia? Kenapa manusia meng-ada untuk meniadakan lainnya?

Ada orang yang mudah marah dan mudah memaafkan. Lainnya mudah marah tapi sukar memaafkan. Lainnya lagi sukar marah, sesukar ia memaafkan. Yang kita berlindung kepada Tuhan adalah berurusan dengan orang yang sangat mudah marah dan sangat sukar memaafkan. Bahkan tidak bisa memaafkan.

Apakah kita semua ini sedang kerasukan Setan? Tapi apakah Setan itu ada? Ada wacana bahwa Setan itu “minal jinnati wannas”: diproduksi oleh Jin dan manusia. Setan adalah output dari dismanajemen kejiwaan manusia. Wacana itu juga menyebut idiom “syayathininnas waljin”: setannya manusia dan Jin. Idiom kedua ini agak menyedihkan. Dalam wacana itu rata-rata Jin disebut terlebih dulu, baru manusia. Tetapi untuk tema yang negatif ini, manusia disebut duluan. Ketika Tuhan menantang kreativitas, ijtihad, inovasi dan invensi, Jin disebut duluan. Ketika bicara keburukan dan kejahatan, manusia duluan.

Kenapa semakin banyak jumlah manusia Ahmaq? Yang tak bisa menerima kata-kata apapun dari orang lain. Yang tidak bisa diajak berdialog. Yang tidak mengenal perundingan dan musyawarah. Yang kebenarannya mandeg dan final. Yang akalnya gumpalan daging, dan bukan susunan urat syaraf dengan gelombang elektromagnetik pengolah nilai. Kenapa semakin merebak di seantero permukaan bumi ini orang yang “tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti”?

Kalau subjeknya hanya manusia atau orang, masih ada Idul fitri halal bihalal 0-0 setahun sekali. Tapi kalau subjeknya adalah golongan, kelompok, korps, satuan ideologi dan kekuasaan: halal bihalal belum pernah diaplikasikan secara institusional. Belum pernah ada Presiden menerbitkan Surat Permohonan Maaf kepada rakyatnya.

Kenapa orang makin tak bertelinga? Kenapa manusia semakin tidak pandai mendengar, terutama para penguasa? Kenapa orang semakin malas untuk berjuang saling memahami? Kenapa manusia sangat getol mempertahankan pembenaran atas dirinya masing-masing, dan tidak punya spirit untuk bersama-sama mencari kebenaran? Kenapa orang sangat mantap dengan “benarnya sendiri”, tidak secara dinamis dan konstan merundingkan kembali dan merevisi “kebenaran bersama”, sehingga punya peluang kolektif untuk memasuki “kebenaran sejati”?

Dengan fakta-fakta seperti ini, bagaimana membantah pernyataan Malaikat senior Azazil Sang Kanzul Jannah, bahwa “pekerjaan utama manusia adalah merusak bumi dan menumpahkan darah”? Yang karena pendapatnya ini maka ia menolak untuk bersujud kepada Adam Khalifah perintis, sehingga kemudian Tuhan memurkainya, menyebutnya Iblis, kemudian melakukan kontrak sampai Hari Kiamat di mana Iblis diberi hak untuk menyesatkan akal manusia dan merusak akhlaknya.

Kenapa manusia menyembah Tuhan, memeluk Agama, dan hasil terbesarnya adalah bermusuhan satu sama lain? Sebagai pemeluk Islam, saya mewajibkan diri untuk terutama menyalahkan diri saya sendiri. Kenapa saya membiarkan Islam yang adalah roh, tetapi dijasadkan? Kenapa saya tidak membantah arus yang mematerikan ruh Islam? Yang memadatkan kelembutan, menjasmanikan rohani, menampakkan yang tak tampak, memperlihatkan aurat? Kenapa dunia tak punya Ilmu Aurat?

Yang tampak wajahnya, bukan cantiknya. Yang kelihatan airnya, bukan ombaknya. Yang bisa dilihat lomboknya, bukan pedasnya. Ruh tidak tampak. Ilmu tidak tampak. Nilai tidak tampak. Islam tidak tampak, tetapi kita buka aurat: menampak-nampakkannya dengan menipu orang lain melalui simbol-simbol, kostum, jargon, yel-yel dan pernyataan. Makna Allahu Akbar tidak tampak, sehingga gegap gempita suara Allahu Akbar tidak pasti berkaitan dengan maknanya.

Tuhan menyuruh manusia bilang “Wahai Tuhan, sungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua ini”. Bagaimana mungkin manusia mengucapkannya begitu saja, tanpa proses penelitian terhadap alam dan manusia, yang membuatnya takjub sehingga terlontar kalimat “tidak sia-sia” itu dari mulutnya? Ada proses panjang, eksplorasi akal, pemahaman, penelitian, penghayatan, pendalaman, sebelum pada akhirnya terucap dari bibirmu Allahu Akbar dengan hati yang tergetar.

Allah menggambarkan langit, hujan, pepohonan, buah-buahan dan kesuburan, kemudian gunung-gunung dan warna-warni pelangi, tiba-tiba lantas mendefinisikan “yang takut kepada-Ku itulah Ulama”. Kenapa takut kepada Tuhan? Karena takjub kepada ciptaan-Nya. Karena terpesona kepada alam, manusia dan firman-firman-Nya. Ketakjubannya itu menerbitkan rasa takut kepada Allah, dan berkat ketakutannya itu Allah menyebutnya Ulama. Kenapa selama ini aku membiarkan pemahaman bahwa “yang takut kepada-Ku hanyalah Ulama”, bukan petani, pengusaha, pejabat, olahragawan, cendekiawan, insinyur, dokter. Kenapa bukan “Ulama adalah manusia yang pengetahuan dan ilmunya membuat ia takut kepada Allah“.

Kenapa aku membiarkan hubungan antara manusia dengan Islam menjadi institusi, lembaga, korps, golongan, kelompok? Yang berpelototan mata dengan golongan yang lain? Kenapa aku tidak memberantas terjemahan bahwa Muslim adalah Orang Islam, dan Mu`min adalah Orang Beriman? Padahal Muslim adalah manusia yang menyelamatkan, Mu`min adalah orang yang mengamankan?

Kenapa aku tidak menerjang arus pembiasan ilmu sedunia bahwa Islam bukanlah identitas, melainkan perangkat untuk menyelamatkan, dengan skala rahmatan lil’alamin? Bahwa Iman bukanlah ID-card, melainkan mata air nilai untuk mengamankan, mengelola keamanan semua manusia dan alam? Memastikan pengamanan nyawa sesama manusia, martabat derajat harga diri sesama manusia, serta harta benda sesama manusia? Dengan landasan konstitusi bahwa Allah melepas manusia di sabana kemerdekaan: “Fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”. Siapa beriman berimanlah, siapa durhaka durhakalah.

Allah sudah menyiapkan perangkat hukum, sebab akibat, reward dan punishment, penghargaan dan hukuman, bagi keduanya. Kenapa saya membiarkan semua orang menjadi Tuhan? Semua orang mengambil alih posisi Tuhan? Semua orang menghakimi satu sama lain? Kenapa aku membiarkan para penguasa menangani terorisme dengan stigma Islam? Tidak cukupkah pasal-pasal hukum negara untuk meng-handle kasus pemukulan, pembunuhan, perusakan, penembakan, pemboman serta apapun tindak kriminal lainnya?

Kenapa aku membiarkan orang ngebom karena salah ilmu terhadap Islam, dan membiarkan penghukum para peledak bom dengan kesesatan ilmu terhadap anatomi nilai dalam peristiwa? Kenapa aku membiarkan Agama dijadikan subjek dan identitas. Padahal subjeknya adalah manusia, Agama adalah mata air hikmah yang bisa diambil oleh manusia untuk saling menyelamatkan (Islam) dan mengamankan (Iman). Kenapa aku membiarkan Dialog Antar Ummat Beragama. Kenapa bukan Dialog Antar Manusia, di mana masing-masing silahkan menyumbangkan nilai yang diambil dari Agamanya, tanpa menyebut nama Agamanya, untuk menyusun keselamatan dan keamanan bersama. Biarlah tak usahlah kita usik hak absolut Tuhan dengan demokrasi universal “fa man sya`a falyu`min wa man sya`a falyakfur”-Nya.

Kenapa saya biarkan manusia berlaku sebagai stafnya Malaikat Ridwan di sorga dan prajuritnya Malaikat Malik di neraka. Kenapa saya biarkan orang menjadi pandai, hasilnya tinggi hati. Padahal seharusnya kebijaksanaan. Orang berkuasa, hasilnya kesombongan. Padahal seharusnya kebijaksanaan. Orang kuat, hasilnya keangkuhan. Padahal seharusnya kebijaksanaan. Orang alim saleh, hasilnya pelecehan. Padahal seharusnya kebijaksanaan.

Orang merasa hebat dan meremehkan orang lain yang ia anggap bodoh, primitif, tidak move-on dan kafir. Kenapa saya biarkan hanya karena menang, ia merasa benar. Hanya karena berkuasa, ia merasa baik. Hanya karena pintar, ia merasa unggul. Hanya karena alim saleh, ia merasa tak mungkin salah.

Kenapa saya biarkan manusia menempuh kehidupan dengan bekal salah pengetahuan tentang manusia dan salah ilmu tentang kehidupan. Kenapa saya biarkan merajalela Sekolah Kepintaran dan Universitas Keangkuhan. Kenapa saya biarkan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” dipahami secara abstrak, tanpa anatomi ilmu yang jelas, serta dengan analisis berputar-putar seperti baling-baling lepas kendali. Kenapa saya biarkan orang tidak peduli pada asal usul epistemologis kata kerakyatan dan rakyat, apa beda antara hikmat dengan kebijaksanaan, dari mana memetik pemahaman tentang musyawarah dan wakil. Kenapa saya biarkan Pancasila hanya dijadikan casing dan merk.

Mohon siapa-siapa kisahkanlah rute makhluk: Cahaya Terpuji, Malaikat, Jagat Raya, Jin, Banujan kemudian Manusia. Terutama kenapa Idajil krasan di bumi sehingga Tuhan menghancurkan Istananya dan mendatangkan Adam. Agar bisa kita mulai terapan Ilmu Aurat dan membangun Peradaban Kebijaksanaan.

Oleh: Emha Ainun Nadjib

SHARE
Comment