Impor Garam Jadi Kado Buruk HUT RI ke- 72

Impor Garam Jadi Kado Buruk HUT RI ke- 72

SHARE

Publik-News.com – Ketua PB HMI Bidang Agraria dan Maritim, Mahyudin Rumata menyinggung terkait dengan persoalan garam yang mulai langka di Indonesia. Apalagi kondisi tersebut bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Indonesia Merdeka ke 72. Ia mengatakan bahwa langkanya garam nasional hingga memaksa negara melakukan import garam saat ini merupakan kado buruk bagi momentum besar bangsa dan negara Indonesia itu.

“Tak menyangka, Republik dengan garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada, justru mengimpor garam. Tak tanggung-tanggung, garam yang diimpor mencapai 75.000 ton, fantastis bukan?,” kata Mahyudin dalam siaran persnya yang diterima Redaksikota, Rabu (16/8/2017).

Mahyudin pun menilai kondisi tersebut merupakan catatan kelam bagi pemerintahan Indonesia saat ini.

“Presiden dan dan pembantunya kerjanya apa saja, kok setiap tahun Indonesia harus impor garam. Logika yang sama sekali sulit di cerna dan diterima oleh akal sehat. Atau inikah janji Kemerdekaan itu,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Mahyudin pun menegaksan bahwa HUT RI agar tidak hanya dijadikan jargon dan seremonial belaka, melainkan lebih kepada introspeksi diri dan pembenahan terhadap berbagai persoalan rakyat yang terjadi sepanjang Indonesia merdeka.

“Perayaan Kemerdekaan Indonesia tidak hanya sekedar serimonial dan ritual semata, yang esensi adalah menghadirkan kenyamanan, keadilan, kesejahteraan, kemajuan. Dan itu telah menjadi janji Indonesia Merdeka,” tegas Mahyudin.

75.000 Ton Garam dari Australia Siap Masuk Indonesia
Diketahui, Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan impor garam sebanyak 75.000 ton dari Australia. Namun yang baru sampai di Indonesia sudah masuk sebanyak 52.500 ton garam melalui Pelabuhan Ciwandan Banten, dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Sementara itu menurut Sekretaris Perusahaan PT Garam, Hartono, walaupun sudah masuk sejak 10 Agustus lalu, garam impor peruntukkan konsumsi tersebut masih tersimpan di gudang. Komoditas bumbu dapur itu baru akan dikeluarkan setelah mendapat verifikasi dari Kementerian Perindustrian.

“Sementara masih di gudang-gudang kita untuk diverifikasi. Baru kemudian kami distribusikan ke IKM-IKM. Selain itu juga ini mau masuk panen di petani garam, ini kan sifatnya untuk stimulus saja biar garam bisa turun,” ujar Hartono, Minggu (13/8/2017).

Menurut dia, garam impor pengapalan terakhir dari Australia akan datang pada 21 Agustus mendatang sebanyak 22.500 ton lewat Pelabuhan Belawan di Medan. Sebelumnya, garam impor pertama kali masuk sebanyak 25.000 ton melalui Pelabuhan Ciwandan, Banten, serta 27.500 ton masuk lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Sabtu lalu (12/8/2017).

SHARE
Comment