Home Hukum Ingin Jalin Kerjasama, 10 Pimpinan Advokat dari Gunma Bar Association Jepang Sambangi...

Ingin Jalin Kerjasama, 10 Pimpinan Advokat dari Gunma Bar Association Jepang Sambangi Sekretariat KAI

167

Publik-News.com – Sebanyak 10 orang pimpinan advokat dari Gunma Bar Association Jepang menyambangi sekretariat Kongres Advokat Indonesia di Jl. Kebon Sirih, Kantor DPP KAI, Plaza MNc, High End Building, Jakarta Pusat, Kamis (30/3/2017).

Rombongan advokat dari Gunma Bar Association Jepang ini tiba di Sekretariat sekitar pukul 10:30 WIB. Mereka disambut jajaran pengurus KAI. Kemudian mereka menggelar pertemuan untuk membicarakan beberapa hal yang dapat disinergiskan di masa yang akan datang.

Jajaran KAI tampak hadir dalam pertemuan ini adalah Presiden KAI Tjoetjoe Sanjaya Hernanto, Sekjen Aprilia Supalianto, Vice Presiden Luthfi Yazid, Vice Presiden Umar Husin, Bendahara Umum Aldwin Rahadian dan Wasekjen Hendry Indraguna.

Sementara advokat dari Jepang diantaranya Makoto Fujikura, Hisao Shimada, Takumi Saito, Tomoyuki Suzuki, Hiroki Kodaira, Masahiro Inamo, Takeshi Kanai, Satoshi Sumiya, Akio Otsuka dan Tomoyuki Tsuji.

Presiden KAI, Tjoetjoe Sanjaya Hernanto menyampaikan terima kasih dan selamat datang atas kunjungan dari delegasi pimpinan advokat dari Gunma Bar Association Jepang itu. Sementara delegasi advokat Jepang yang diwakil oleh advokat Tomoyuki Tsuji juga memberikan sambutannya. Tsuji menyampaikan rasa terimakasih dan senang apabila dapat bekerjasama dengan KAI saat ini maupun di masa mendatang.

Delegasi pimpinan Gunma Federation of Bar Association itu datang ke KAI dengan tujuan: pertama, mereka tertarik untuk mempelajari system peradilan dan advokat di Indonesia. Kedua, mereka ingin juga saling bertukar informasi di bidang hukum dengan KAI, mengingat Jepang dan Indonesia sudah terjalin kerjasama yang cukup lama.

Di Jepang, untuk menjadi seorang advokat, maka iaharus lulus bar exam atau ujian advokat yang diselenggarakan oleh Mahkamah Agung Jepang. Akan tetapi di Jepang, seleksi untuk menjadi seorang advokat adalah bersamaan dengan seleksi untuk menjadi hakim maupun jaksa. Setelah seseorang dinyatakan lulus bar exam atau ujian advokat, maka ia harus mengikuti pendidikan selama setahun setengah, setelah itu yang bersangkutan akan diputuskan oleh sebuah board lebih cocok menjadi seorang advokat, hakim ataujaksa. Tapi intinya adalah, dari ketiga profesi tersebut masuknya melalui “satupintu” yang dikenal dengan bar exam; dan oleh karena itu ketiga profesi tersebut saling memahami betul profesi masing-masing demi tegaknya hukum dan keadilan.

Jepang yang kini sedang gencar melakukan investasi di Indonesia, tentu sangat membutuh kanbantuan hukum dari para pengacara KAI. Persaingan advokat yang semakin ketat, juga memerlukan lahirnya advokat yang lebih professional dan kompeten di bidangnya. Bahkan, para pengacara dari negeri Sakura tersebut menginformasikan bahwa persaingan antaraadvokat di seluruh Jepang makin sengit karena jumlah advokat terusber tambah.

Pada titik inilah para advokat dituntut memberikan pelayanan terbaik dan menghindari pelanggaran kode etik. Di Jepang, setiap advokat yang melakukan pelanggaran kode etik advokat, akan mendapatkan sanksi berat sampai pencopotan. Para advokat Jepang ini juga berharap agar praktik korupsi dan mafia peradilan di Indonesia akan semakin terkikis dan hilang. Jika ini terjadi, maka dunia hukum Indonesia akan semakin majudan ramah investasi.

Hal yang sama juga disampaikan Sekjen KAI Aprilia Supalianto. Dia memaparkan isi pertemuan yang berlangsung selama 3 jam itu. Menurutnya, ada beberapa hal yang dibicarakan antara KAI dan advokat dari negeri Sakura itu. Misalnya, kata dia, soal pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Ya menjajaki apa yang bisa kita kerjasamakan dengan kawan-kawan Gunma. Salah satu yang menjadi konsentrasi kita adalah bagaimana kita meningkatkan kemampuan advokat. Jadi kita KAI memang berkonsentrasi memberdayakan SDM anggota. Begitu juga dengan di Gunma. Ini tentu menarik karena ada suatu kesamaan program yang sedang dijalankan,” ujarnya.

Hal lain yang dibicarakan dalam pertemuan antara KAI dan delegasi advokat Gunma adalah soal bagaiman mengembangkan organisasi ke advokatan. Misalnya, kelemahan bagaimana pola rekerutmen dan penyelesaian masalah ketika ada kader KAI yang melangar hukum. Menurut dia, jajaran KAI sudah memberikan jawaban atas pertanyaan yang disampaikkan oleh delegasi advokat dari Gunma.

“Tentu KAI, kita jelaskan bahwa KAI sangat tegas sekali bagi anggotanya yang melanggar hukum, norma , etika profesi. Kalau ada anggota yang melanggar, kita sampaikan kepada mereka pasti kena proses dalam dewan korhomatan etik di internal KAI,” pungkas dia sambari memaparkan kelemahan yang dialami advokat di Gunma sendiri. (HR)

Comment