Ini Titik Lemah Ahok Kata Pengamat

Ini Titik Lemah Ahok Kata Pengamat

SHARE

Publik-News.com – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok kerap kali menimbulkan polemik. Yang terbaru adalah ucapan Ahok tentang pembohongan surat Al Maidah.

“Pekan ini dengan “kepolosan”-nya, ia (Ahok) memberi pandangan tentang kebebasan warga Jakarta memilih atau tidak memilih dirinya pada Pilkada Februari 2017 dengan mengaitkan isi kitab suci. Padangan tersebut menjadi perbincangan hangat di media massa, khususnya di media online dan sosial media,” kata Direktur EmrusCorner, Emrus Sihombing, Jumat (7/10/2016).

Menurut Emrus, wacana yang muncul pun menempatkan pandangan Ahok tersebut sebagai sesuatu yang “serius”. Bahkan ada yang merencanakan akan membawa ke rana proses hukum. Emrus mengaku bahwa dirinya dua tahun terakhir ini mengamati titik terlemah dari semua perilaku Ahok sebagai pejabat publik (gubernur) dan Balon Cagub saat ini adalah pada tindakan komunikasinya di ruang publik.

“Memang harus diakui, bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk Ahok sendiri. Namun yang terpenting adalah menyadari kekurangan tersebut dengan meminta pemikiran dan masukan dari manusia lain, maka kelemahan tersebut dapat dikelolah dengan baik sehingga kekurangan itu dapat di atasi,” katanya.

Dikatakannya, dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia di manapun, komunikasi atara manusia dalam semua konteks kehidupan sosial (politik, ekonomi, budaya, religius, keluarga, bertetangga, dan sebagainya) sangat substansial. Sebab, dengan komunikasi bisa menciptakan realitas sosial kebangsaan, kebersamaan, damai, produktif, saling mendukung, persaingan sehat dalam Pilkada, dan sebagainya.

Sebaliknya, dia menambahkan komunikasi yang salah kelolah bisa minimbulkan konflik sosial (horizontal maupun vertikal), perang saudara, disintegrasi bangsa, ekslusivisme etnis tertentu, konflik Pilkada, perceraian di keluarga, dan sebagainya.

“Hal tersebut terjadi karena dalam proses komunikasi terjadi pertukaran simbol verbal maupun non verbal untuk mengkonstruksi makna karena simbol tak bermakna tetapi manusia yang memberi makna terhadap simbol,” tambah dia.

Makna tersebut mendorong perilaku yang membetuk kebiasaan yang pada akhirnya menimbulkan kesepakatan nilai-nilai (objektivasi) sebagai dasar perilaku kolektif. Perilaku kolektif bisa konstruktif, bisa juga destruktif. Itulah, betapa komunikasi perlu dikelolah dan dijaga secara profesional yang berbasis pada kaidah dan prinsip keilmuan komunikasi.

“Oleh karena itu dan merujuk pada titik lemah Ahok, sudah mendesak Ahok membutuhkan tim komunikasi yang profesional dan handal untuk mendampingi dirinya sebagai Gubernur maupun sebagi Balon Gubernur. Salah satu tugas dari tim komunikasi ini adalah juru bicara (jubir),” tutup dia.
(Hurri Rauf)

SHARE
Comment