ISIS, Terorisme dan Oto-Imunisasi Agama

ISIS, Terorisme dan Oto-Imunisasi Agama

SHARE
http://static2.businessinsider.com/image/54e5d24569beddf2733cbd85-840-481/isis-103.jpg
http://static2.businessinsider.com/image/54e5d24569beddf2733cbd85-840-481/isis-103.jpg

Oleh Mohd. Sabri AR

 

Ini sebuah perang: Jacques Derrida—filsuf Prancis dengan pedang dekonstruksi—telah  melumatkan pilar-pilar tersembunyi agama: memainkan akar-akar konseptualnya, lalu menyeret ke titik “ketidakmungkinan” dasariahnya, kontradiksi-kontradiksi internalnya, serta ke tendensi kejahatan radikal yang berlindung di balik jubah mekanisme “oto-imunisasi” agama.

Pergulatan Derrida dengan tulisan, teks, dan grammar akhirnya berlabuh dalam percakapan agama. Sebagian akibat kerangka berpikir tentang “yang Lain” (the Other), sebagiannya berkaitan dengan isu kebangkitan agama dengan segala konfliknya.

Membaca karya Derrida sungguh tak mudah, tentu. Tulisannya laksana akrobat konsep: pelbagai konsep dimain-mainkan, ditarik ke akar kata, ke konteks purbanya, ditautkan dengan konsep lain secara analog, lantas maknanya diledakkan. Tulisannya berdiri di antara metafor dan literal. Tulisan Derrida ikhwal  agama pun mulanya lebih merupakan esai-esai lepas, belakangan dikumpulkan oleh Gil Anidjar dalam Acts of Religion (2002).

Derrida mengawali refleksinya dengan peristiwa 11 September. Ia mengandaikan peristiwa itu  sebagai simpton dari krisis “oto-imunisasi”. Di sini, ia hendak menjelaskan sebuah proses, bagaimana masyarakat sebagai suatu organisme menghancurkan mekanisme pertahanan dirinya sendiri. Organisme itu sejatinya telah memiliki imunitas. Tapi organisme tersebut melakukan imunisasi terhadap imunitasnya sendiri. Bukankah ini inti oto-imunisasi?

Derrida mendaku, proses oto-imunisasi masyarakat terjadi dalam tiga tahap. Pertama, tahap perang dingin. Perang atau kekerasan ini tidak terjadi di alam empirik, tapi di benak manusia. Peristiwa 11 September bisa dilihat sebagai kelanjutan dari “Perang Dingin” itu. Tahun 1980an Amerika Serikat melatih dan menyiapkan milisi tempur di Afganistan. Mereka adalah sekutu Amerika melawan Rusia. Berakhinya perang dingin, menyudahi pula perseteruan dua blok itu. Tapi mental, infrastruktur, dan haus perang masih gemuruh di sana. Itulah perangkat yang kelak digunakan meledakkan gedung kembar WTC. Di sini, peristiwa 11 September bisa dilihat sebagai akhir Perang Dingin yang musti meletup. Demikianlah, Perang Dingin sesungguhnya sebuah proses oto-imunisasi: manusia membangun sebuah pertahanan untuk kemudian dihancurkannya sendiri.

Tahap kedua, ditandai dengan tersebarnya sarana-sarana kekerasan, mulai dari senjata nuklir hingga senjata bilogis. Bahkan kelompok tak beridentitas, bisa dengan mudah merakit bom sendiri. Ancaman kekerasan tidak lagi terbit dari negara adidaya Amerika dan Rusia, tapi dari kelompok yang sama sekali tak bernama. Atau sebuah perkumpulan “dadakan” yang hadir justru menebarkan teror dan kekerasan yang bercokol di alam bawah sadar kita.

Tahap ketiga, sebagai lanjutan dua tahapan sebelumnya, mengandaikan orang tersedot ke dalam episentrum kekerasan, teror, dan represi. Atas nama perang melawan terorisme, semua kekerasan boleh dilakukan. Sebaliknya, pelaku teror—person atau kelompok—boleh melakukan kekerasan juga atas nama teror, karena hanya dengan cara ini mereka merasa bisa melawan teror yang dialamatkan pada diri mereka. Sebuah proses “balas dendam” dan kekerasan yang terawetkan.

Kehadiran gerakan ISIS (Islamic State of Irak and Syria) yang fenomenal dengan stigma kekerasan dan teror, sesungguhnya akumulasi dari ketiga tahapan oto-imunisasi yang diandaikan Derrida. Sejak munculnya video di Youtube berisi sejumlah WNI yang terlibat gerakan ISIS, sejumlah respons kritis pun terbit di tanah air.

Sebagai sebuah gerakan—ISIS sejak kehadirannya pada 2003—telah menjadi percakapan publik internasional dan menyulut kontroversi di dunia Arab dan dunia Barat. Pasalnya, ISIS menjelma sebagai gerakan politik yang solid dan punya asupan dana yang kuat. Keberadaan ISIS ditengarai lebih berbahaya daripada jaringan internasional Al Qaeda karena mereka punya “teritori” dan basis yang memiliki legitimasi politik. ISIS hadir pada momen yang tepat, ketika negara-negara Arab tengah menghadapi transisi demokrasi akibat badai revolusi.

ISIS menyelinap dalam transisi demokrasi yang tidak mulus, terutama di Irak dan Suriah. Mereka telah menjadikan kedua negara itu sebagai laboratorium untuk mengukuhkan ideologi kekerasan dan teror atas nama Islam. Belakangan ISIS menguasai sejumlah wilayah strategis di Irak dan Suriah. Dengan dana yang berlimpah, milisi pejuang yang solid dan persenjataan militer modern, mereka memperluas jaringannya di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Sel-sel radikalisme-ektrem di dunia Islam, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ISIS. Ide Negara Islam dan khilafah pun menjadi simpul gerakan dan pesona yang mereka jual. Ledakan “bom bunuh diri” yang mengoyak kesucian bulan ramadhan di Turki, Madinah al-Munawwarah, dan Solo, adalah “game” yang tengah dimainkan kaum “fundamentalis” Barat dengan jejaring rumit dan rapih.

Dekonstruksi Derrida, agaknya relevan dihadirkan untuk menegaskan satu hal: terorisme tidak bisa “dilawan” dengan tindakan kekerasan melawan terorisme. Tak juga cukup, jika negara hanya melegalkan pemberantasan terorisme lewat UU No. 13 tahun  2003 atau Inpres no. 24 tahun 2003. Sebab, jangan-jangan terorisme hadir sebagai proses oto-imunisasi yang merengkuh kesadaran kita. Teror dan kekerasan yang ditebarkan ISIS, juga merupakan oto-imunisasi. Sebab, bukankah inti ajaran Islam identik dengan cita-cita kemanusiaan dan bukannya menghancurkan manusia dan harkatnya? Teror itu, agaknya, tengah menari-nari di alam bawah sadar kita.

SHARE
Comment