Jenggala Center: Bahaya Jika Polisi Rekayasa Kasus Habib Rizieq

Jenggala Center: Bahaya Jika Polisi Rekayasa Kasus Habib Rizieq

SHARE

Publik-News.com – Direktur Eksekutif Jenggela Center, Syamsuddin Rajab meminta penyidik Polda Metro Jaya profesional dalam menangani kasus dugaan pronografi Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

“Hal utama dalam hukum pidana adalah bukti dan pembuktian,” ujar Syamsuddin kepada Publik-News.com, Kamis (1/6/2017).

Pernyataan Syamsuddin ini merupakan tanggapan atas polemik kasus yang mengundang pro dan kontra tersebut. “Masyarakat terbelah, ada yang percaya dan bergembira sedangkan lainnya menduga rekayasa dan HRS sudah target jadi,” katanya.

Menurutny, kasus dugaan pornografi yang disangkakan kepada Habib Rizieq Ini merupakan pertaruhan profesionalitas dan integritas kepolisian baik secara kelembagaan maupun individu pimpinan Polri. Menurunya, jika benar merupakan rekayasa dan HRS ditarget marus masuk bui, maka ini sebuah alegi penegakan hukum yang tidak manusiawi dan melawan prinsip-prinsip negara hukum.

“sebaliknya, apabila dapat dibuktikan dengan bukti-bukti yang sahih, kredibel dan menyakinkan, maka kepercayaan publik dapat diraih kembali oleh kepolisian,” katanya.

Selain itu, Syamsuddin berharap kepolisian harus adil dan proporsional dalam menindak-lanjuti laporan atau dugaan perbuatan pidana. Dia menambagkan bahwa pelaku penyebar chat juga harus dicari dan diperiksa apalagi “orangnya” sudah diketahui publik.

“Perlakuan yang sama didepan hukum amanat konstitusi sehingga hak-hak terlapor maupun pelapor sama-sama mendapatkan proporsi yang seimbang dan adil,” harapnya.

Mantan Ketua PB HMI ini juga menegaskan bahwa kepolisian harus bekerja profesional sehingga tidak memicu aksi-aksi jalanan baru setelah isu penistaan agama menjadi isu kriminalisasi ulama dan umat Islam. Selama kepolisian menjalankan tugas, fungsi dan wewenangnya sesuai UU kepolisian dan KUHAP maka tentu masyarakat mendukung.

“Sekedar mengingatkan kepolisian bahwa dalam kasus lain, isu rekayasa bukan isapan jempol belaka, terbukti beberapa kasus yang direkayasa akhir menguap ke publik dan direkam oleh media,” tutupnya. (PN)