Karena Sukmawati Bukan Anak Ideologis Bung Karno

Karena Sukmawati Bukan Anak Ideologis Bung Karno

SHARE

NAMA Sukmawati Soekarnoputri mendadak booming dalam beberapa hari terakhir. Namanya menjadi viral dan trending di berbagai media sosial.

Namun sayang, namanya menyeruak di dunia maya bukan karena gebrakannya yang menyelamatkan bangsa dari kehancurannya, atau gerakannya yang membangkitkan ghirah kemerdekaan, sebagaimana ayahandanya, Bung Karno yang memelopori kemerdekaan tempo dulu. Namanya tak semerbak kisah nasabnya sebagai anak biologis Bung Karno.

Alih-alih dipuji, Sukma malah mendapatkan cibiran sekaligus bully karena puisinya yang dibacakan dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, dinilai menghina umat Islam. Dalam puisi kontroversial berjudul “Ibu Indonesia” itu, Sukma membandingkan antara cadar dengan sari konde Indonesia. Menurutnya, sari konde lebih indah dibanding cadar.

Sukmawati juga membandingkan antara suara adzan dengan suara kidung ibu Indonesia. Menurut dia, suara kidung ibu Indonesia lebih elok dan merdu ketimbang suara azan.

Publik pun geram dengan puisi yang kembali memperkuat politik identitas dalam spektrum kebhinekaan bangsa itu. Sebab, diakui atau tidak, tindak-tanduk semacam itu secara tidak langsung akan membelah lagi persatuan dan kesatuan bangsa. Situasi politik yang mulai “adem”, disulut kembali dengan kobaran api perbedaan. Bukankah perbedaan yang terus diasah akan mempertajam konflik?

Kini, reaksi atas puisi itu tak hanya berasal dari publik dengan cara menghujat Sukma atau ada juga yang melaporkannya ke polisi, tetapi juga dari Keluarga besar Bung Karno yang juga angkat bicara. Adalah Guntur Soekarnoputra yang memastikan seluruh keluarga Bung Karno sejak kecil dididik dan diajarkan keagamaan sesuai syariat Islam.

“Sebagai anak tertua, saya saksi hidup bahwa seluruh anak Sukarno dididik oleh Bung Karno dan Ibu Fatmawati Sukarno sesuai ajaran Islam” kata Guntur dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Guntur menegaskan, seluruh anak Bung Karno juga diajari tentang syariat Islam. Adapun Bung Karno juga menjalankan semua rukun Islam, termasuk menunaikan ibadah haji. Oleh karenanya, atas nama keluarga besar Bung Karno, Guntur menyesalkan kemunculan puisi Sukmawati tersebut.

Sukma bukan Anak Ideologis?

Saat ramai-ramainya Pilkada DKI 2017 lalu, saudara kandung Sukmawati yakni Megawati Soekarnoputri juga sempat dilaporkan ke polisi atas dugaan kasus penistaan agama.

Saat itu Mega menyindir dan menyebut umat Islam sebagai penganut ideologi tertutup dan peramal masa depan.

“Di sisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.” Pernyataan yang disampaikan dalam perayaan HUT PDIP ke 44 di JCC Senayan, Jakarta, 10 Januari 2017 lalu, dinilai menghina umat Islam yang percaya kehidupan alam akhirat. Pernyataan ini sempat dilaporkan ke polisi, namun tidak diketahui kelanjutannya.

Terlepas dari kasus ini, dalam satu kesempatan seorang kawan bertanya kepada saya: Kenapa kok anak-anak Bung Karno banyak berbeda prinsip dan sikapnya dengan bapaknya? Spontan saya menjawab, “karena mereka hanya anak biologis, bukan anak ideologis.”

Tentu, saya tidak sedang menerka-nerka atau sekadar asal jawab saja, tidak ujug-ujug, apalagi menyangkut seorang Proklamator yang telah berdarah-darah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Pernyataan ini juga tidak mengeneralisir semua anak biologis Bung Karno.

Lalu apakah Sukma hanya anak biologis, bukan anak ideologis Bung Karno? Untuk menjawab ini, kita mesti melihat kehidupan keberagamaan Bung Karno, termasuk pandangannya dalam merespon pluralitas. Dalam banyak literatur, Soekarno diketahui sebagai sosok yang sangat toleran dan pluralis.

Dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat” (1966), Soekarno berujar:

“Tahun 1926 adalah tahun di mana aku memperoleh kematangan dalam kepercayaan. Aku beranjak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam. Pada waktu aku melangkah ragu memulai permulaan jalan yang menuju kepada kepercayaan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan kepunyaan perseorangan. Menurut jalan pikiranku, maka kemerdekaan seseorang meliputi juga kemerdekaan beragama.”

Pemikiran sekaligus pandangan keislaman Bung Karno ini banyak dipengaruhi oleh HOS Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam (SI). Ini tidak lain karena di usia remaja ketika ia tinggal di kediaman Tjokro, ia banyak berdiskusi dengan Tjokro. Pengaruh lain dalam diri Bung Karno disebabkan keterlibatannya dalam kegiatan pergerakan yang diselenggarakan SI sebagai salah satu organisasi yang berdiri paling depan dalam melawan kolonialisme. Itulah sebabnya Islam yang terjiwai dalam diri Bung Karno adalah Islam anti-penindasan dan anti-penjajahan.

Sikap toleransi Bung Karno juga terlihat dalam merespon keberadaan Ahmadiyah. Meskipun ia mengaku tidak percaya dengan kenabian Mirza Ghulam Ahmad tetapi ia tidak menampik bahwa menurutnya Ahmadiyah telah memberikan faedah keilmuan. Karenanya, Bung Karno berusaha tetap menghargai pandangan dan pemikiran Ahmadiyah meski ia tidak menyetujui pendapat tersebut.

Dari sini terlihat bagaimana sebenarnya Bung Karno melihat perbedaan-perbedaan di Indonesia. Ia harus dilestarikan, bukan diusik. Pluralitas agama mesti dihargai bukan dikebiri ataupun ‘diperkosa’ karena tidak sesuai dengan kepentingan-kepentingannya.

Oleh karenanya, ketika Sukmawati menyindir umat Islam dengan cadar ataupun adzannya, maka sesungguhnya ia sedang menghilangkan aspek toleransi dalam dirinya sekaligus dalam warisan ideologis dari bapaknya, Bung Karno. Sehingga dalam hal ini, Sukmawati hanya tepat dikatakan sebagai seorang anak biologis Soekarno saja, bukan anak ideologis.

Kenapa demikian? Karena anak ideologis sejatinya mesti mewarisi ideologi, cara pandang, hingga pemikiran-pemikiran politik, termasuk yang tecermin dari political behaviour Bung Karno.

Sebagai epilog, kiranya petuah Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi ini perlu direnungkan, khususnya bagi umat Islam. Di depan para santri Darunnajah Jakarta pada 2007, dia berkata:

يبني، إذا سئلتم أنت ابن من؟ فقولوا أنا ابن الإسلام
“Wahai anakku, kalau kamu ditanya anak siapa kamu? Maka, jawablah: Saya Anaknya Islam.”

Wallahu a’lamu bi al-shawab

Oleh: Moh Ilyas

(Pemerhati Politik)

Comment