Kebangkitan Petani Produktif Zaman Now Versi Ketum Pemuda Tani HKTI

Kebangkitan Petani Produktif Zaman Now Versi Ketum Pemuda Tani HKTI

SHARE

Publik-News.com – Sektor pertanian kini tidak menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Mindset agraris yang sempat mendominasi publik Indonesia telah bergeser terutama bagi generasi muda.

Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum DPN Petani Muda HKTI, Rina Saada Adisurya saat memberikan sambutan pada acara pelantikan pengurusnya bertajuk “Kebangkitan Petani Produktif Zaman Now”, Rabu (10/1/2018).

Rina mengatakan, Kecenderungan bekerja pada sektor industri, jasa dan komunikasi lebih popular dari pada menjadi petani. Akibatnya sektor pertanian sedang lesu dan mengalami kemunduran bahkan dapat disebut “krisis”. Buktinya, kata dia, produk-produk pertanian yang pernah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional dengan swasembada, saat ini hanya dapat dipenuhi dengan memngimpor dari Negara tetangga.

“Daftar Produk pertanian dan pangan yang diimpor seperti beras, tepung terigu, gula pasir, minyak goreng, bawang putih, lada, kentang, cabai, telur dan daging menjadi “alarm” yang sedang berbunyi bahwa sektor pertanian Indonesia dilanda krisis,” katanya.

Ditegaskan Rina, bergesernya Sektor pertanian sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional tergambar pada perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) Bank Indonesia, pangsa sektor petanian terus menurun sejak satu dasawarsa terakhir. Tercatat pada tahun 1990-an sektor pertanian mencapai 22 persen dan secara signifikan terus menurun menjadi 13 persen pada tahun 2016.

“Gambaran jumlah petani Indonesia juga mengalami hal yang sama, menurun secara drastis dari tahun ketahun. Berdasarkan Data BPS tahun 2015 Jumlah petani Indonesia tersisa 37,75 juta orang dari 38,97 juta orang pada tahun 2014 dan 39,22 juta orang pada tahun 2013. Setiap tahun berkurang lebih 1 juta orang petani indonesia,” tukas dia.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa persentase kepemilikan lahan pertanian bagi petani pun demikian, setiap tahun kepemilikan lahan pertanian dibawah setengah hektar per orang semakin tinggi. Bahkan rata-rata kepemilikan lahan pertanian petani dari 37,5 juta orang jumlah petani Indonesia hanya mencapai 0,8 hektar/petani.

Angka tersebut, katanya, jauh tertinggal dari kepemilikan lahan pertanian Petani di negara tetangga seperti Jepang 1,5 hektare/petani, Korea Selatan 1,4 hektare/petani, Philipina 2 hektare/petani dan Thailand yang paling tinggi mencapai 3,2 hektare/petani. Tentu saja hal tersebut sangat memprihatinkan, mengingat wilayah Indonesia lebih luas dibanding dengan negara-negara tersebut.

“Selaras dengan itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia 4 tahun terakhir stagnan pada kisaran rata-rata 5 persen, menurun darirata-rata 7-8 % pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum reformasi. Bahkan dalam data laporan Bank Indonesia tentang Ekonomi Indonesia 2016, pertumbuhan PDB Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan terus menurun yakni tahun 2013 sebesar 4,20 Persen, tahun 2014 sebesar 4,24 persen, tahun 2015 sebsar 3,77 persen, dan tahun 2016 turun lagi menjadi 3,25 persen,” katanya.

Rina menjaga tak bahwa pembangunan Sektor Pertanian dan Pangan adalah hal yang fundamental bagi suatu Bangsa, kemandirian sektor pertanian adalah kemandirian bangsa, utamanya bagi bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 261 juta jiwa pada tahun 2017, bahkan menjadi Negara berpenduduk terbesar nomor 4 didunia.

Menurutnya, program dan langkah-langkah strategis membangun sektor pertanian demi mencapai swasembada pangan dan produk strategis pertanian adalah upaya menjaga keberlangsungan hidup 261 juta jiwa anak bangsa. Menutup kekurangan produksi pangan dengan mengimpor sepatutnya dipandang sebagai langkah taktis semata demi mengatasi krisis produksi pangan dalam negeri.

“Mempertimbangkan urgensi dan nilai strategis pembangunan sektor pertanian bagi kemajuan dan kemandirian bangsa, maka setiap komponen anak bangsa sangat penting ikut bertanggungjawab dan turut serta dalam berperan menangani krisis sektor pertanian Tanah Air,” ucap dia.

Sementara itu, Rina juga menegaskan bahwa hal-hal yang perlu menjadi perhatian serius pada sektor pertanian seperti krisis pengetahuan pertanian, kurangnya SDM petani seringkali memicu terjadinya gagal panen. Pengelolaan lahan pertanian dengan cara-cara tradisional oleh petani Indonesia perlu segera ditingkatkan untuk menjawab tantangan persaingan kualitas dan kuantitas produk pertanian global.

“Krisis regenerasi Petani juga sangat nyata dan mendesak dicarikan solusi, berkurangnya minat generasi muda untuk terjun dalam sektor pertanian telah mengakibatkan jumlah petani Indonesia berkurang secara signifikan setiap tahun. Harapan kesejahteraan petani melalui metode pengelolaan lahan dan harga jual produk pertanian yang bersaing akan menarik minat calon-calon petani muda Indonesia,” katanya.

Demikian halnya pada sektor ekologis, tanah pertanian yang sangat tergantung penggunaan pupuk kimia mengakibatkan kelangkaan pupuk karena tingkat kebutuhan pupuk kimia yang sangat tinggi. Pada saat yang sama kemapuan produksi pupuk dalam negeri juga terbatas karena bahan baku pupuk juga masih menjadi barang Impor.

Menangani krisis regenerasi petani Indonesia akan sangat ditentukan oleh suksesnya program land reform dan reforma Agraria yang dijalankan pemerintah Jokowi-JK saat ini. Kepemilikan tanah pertanian yang memadai menjadi faktor penentu petani menggapai impian kesejahteraan.

Jumlah kepemilikan lahan berkorelasi psositive dengan tingkat kesejahteraan petani. Semakin berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan produktif menjadi area industri dan pemukiman akan semakin semakin menutup ruang partisipasi generasi muda dalam bidang pertanian. Disamping faktor kesejahteraan tentu karena akses kepemilikan tanah yang semakin sulit.

Menurut dia, regenerasi Petani Indonesia harus didorong dengan akses kepemilikan tanah petanian yang mudah kepada generasi muda, selain itu fasilitas pertanian yang memadai dan mengikuti perkembangan teknologi modern juga akan menigkatkan minat menjadi petani. Memberikan edukasi dan pendampingan dan pelatihan kepada petani untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian akan menambah semangat petani mencapai kesejahteraan hidup dan pada akhirnya bertani akan menjadi pekerjaan yang membanggakan dan menjanjikan masa depan cerah.

Pemuda Tani HKTI sebagai komponen bangsa, kata dia, terpanggil dan bertekad untuk berpartisipasi mendukung pemerintah dalam pembangunan sektor pertanian Indonesia. Peran strategis Pemuda Tani HKTI akan diwujudkan dalam berbagai program kerja Organisasi melalui upaya-upaya konsolidasi, pendampingan, pendidikan dan networking bagi petani dan usaha-usaha pertanian dari hulu hingga hilir.

“Penerapan teknologi, metode dan gaya “petani zaman now” berbasis teknologi yang tepat akan meningkatkan minat sekaligus mempermudah mewujudkan kesejahteraaan petani demi mewujudkan swasembada produk-produk pertanian Indonesia,” tutur dia.

Sebagai Organisasi kepemudaan dibidang pertanian, Pemuda Tani HKTI, menurutnya, akan menempuh “zaman now approach” sebagai program kerja organisasi dalam rangka mengajak dan meningkatkan partisipasi generasi muda untuk terlibat dan mencintai sekaligus menjadikan sektor pertanian sebagai jalan mencapai impian kesejahteraan.

“Pelantikan Dewan Pengurus Nasional (DPN) Pemuda Tani HKTI adalah langkah awal mengkonsolidasikan potensi pemudaIndonesia untuk berpartisipasi dan bangga menjadi petani karena mampu mewujudkan kesejahteraan sama dengan profesi lainnya,” tutup Rina. (PN).

SHARE
Comment