Home Opini Kegagalan Ahok Bidang Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta

Kegagalan Ahok Bidang Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta

Saat membacakan Nota Keberatan di muka Hakim , Selasa 13 Desember 2016, pengadilan perdana atas kasus ia nista Islam di Pengadilan Negeri Jakpus, Ahok menuduh, oknum-oknum elit politik menggunakan ayat-ayat Quran karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya.

Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya. Klaim Ahok ini seakan dia selama ini jadi Gubernur DKI punya visi, misi dan program telah berhasil dia laksanakan. Seakan juga dia berhasil dan berprestasi sbg Gubernur DKI, para elite politik lain tidak. Bahkan dia klaim punya integritas yg dapat diartikan ia manusia jujur dan bersih sebagai Gubernur DKI.

Namun, betulkah Ahok sebagai Gubernur DKI berhasil melaksanakan visi, misi dan program? Ternyata tidak ! Satu bukti Ahok tidak berhasil dan berprestasi, yakni urusan pemerintahan bidang PERTUMBUHAN EKONOMI DKI. Ahok jelas tidak mampu dan gagal capai target diharapkan, bahkan lebih buruk ketimbang capaian Gubernur sebelumnya Fauzi Bowo alias Foke.

Ahok punya visi, misi, program dan punya integritas/kejujuran, sementara fihak elite lain tidak, hanyalah klaim kosong semata. Inilah data, fakta dan angka utk pertumbuhan ekonomi dimaksud.

Suatu Daerah dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika terjadi peningkatan pendapatan riil. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi . Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.

Bagi DKI Jakarta, pertumbuhan ekonomi merupakan indikator “keberhasilan” atau “kegagalan” suatu Gubernur DKI dalam melaksanakan pembangunan ekonomi.

Saat Jokowi dan Ahok kampanye Pilkada DKI 2012, berjanji menargetkan pertumbuhan ekonomi DKI mencapai 7 %. Janji target 7 % pertumbuhan ekonomi ini sungguh digembar-gemborkan kepada calon pemilih Pilkada DKI 2012. Angka 7 % ini tidak tinggi, masih satu digit.

Gubernur Ahok ternyata alami kegagalan dlm laksanakan program pertumbuhan ekonomi dgn target 7 %. Data, fakta dan angka berbicara, pertumbuhan ekonomi terus merosot, hanya mampu mencapai jauh di bawah 6 % ! Jika dibandingkan era Gubernur sebelumnya, Foke, kecapaian Ahok masih di bawah Foke.

Era Foke pertumbuhan ekonomi relatif tinggi. Yakni 6,44 % (2007), 6,22 % (2008), 5,1 (2009), 6,50 (2010), 6,77 % (2011), dan 6,53 % (2012). Rata-rata capaian pertumbuhan ekonomi era Foke di atas 6 %. Sedangkan Ahok hanya mampu capai di bawah 6 %. Yakni 6,11 % (2013), 5,9 % (2014), 5,88 % (2015), dan 5,62 % , dan 2016 masih dibawah 6 %. Hanya 2013, Ahok bisa capai di atas 6 %. Itupun sisa hasil kerja Foke pada 2012.

Intinya, pertumbuhan ekonomi era Ahok terus merosot. Dapat dinilai, Ahok mengalami kegagalan urus pertumbuhan ekonomi DKI. Baik dibandingkan janji kampanye, target akan dicapai di dalam Perda No. 2 Tahun 2012 ttg Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Prov. DKI Jakarta 2013-2017, dan juga perbandingan dgn era Gubernur Foke sebelumnya.

Khusus target capaian pertumbuhan di dalam Perda No. 2 Tahun 2012, Yakni 6,90 % (2013), 7,00 % (2014), 7,10% (2015), 7,20 % (2016), dan 7,30 % (2017). Sebelumnya, tahun 2012 era Foke pertumbuhan ekonomi mencapai 6,53 %.

Gubernur Ahok mengalami kegagalan bidang pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta. Pertumbuhan ekonomi DKI era Ahok terus merosot dibanding era Foke. Di lain fihak, era Ahok gagal membangun ekonomi DKI karena pertumbuhan ekonomi tidak mencapai target sesuai Perda RPJMD Prov.DKI. Target pertumbuhan ekonomi DKI rata-rata di atas 7 %, sedangkan Ahok hanya mampu di bawah 6 %.

Ahok tak mampu mengatasi terus merosot pertumbuhan ekonomi. Data, fakta dan angka capaian pertumbuhan ekonomi ini membuktikan Ahok gagal laksanakan visi, misi dan program. Apa yg dia banggakan dirinya dibanding elite politik dlm Nota Keberatan sungguh tak sesuai dgn realitas obyektif.

Oleh: Muchtar Effendi Harahap
(Penulis adalah Tim Studi NSEAS)

Comment