Kematian

Kematian

SHARE

Oleh Mohd. Sabri AR

 

Kematian acapkali kita percakapkan sebagai negativitas kehidupan dan kedirian. Yang pertama, kematian ada sebagai ketiadaan hidup. Yang kedua, kematian ada sebagai ketiadaan diri. Kematian dalam pengertian yang kedua ini, hanya terjadi pada makhluk hidup yang mengenal konsep “aku”; dan sejauh permenungan kita, hanya manusia yang termasuk dalam kategori ini. Aku-mati, karena itu, adalah tubuh yang kehilangan referensi sosialnya. Ketika aku-sosial berhenti, maka energi antropologis tubuh juga menguap. Meski selalu saja ada kenangan yang tertinggal di sana, lalu tumbuh dalam referensi baru:  “pikiran”, “karya intelektual”, “cita-cita”, atau “teladan” beliau, dan seterusnya. Sebab dalam perspektif metafisika, aku-yang-aku tidak sekadar tubuh. Biografipun ditulis  bukan untuk mengenang almarhum(ah), tapi justru untuk menyiasati dan menyubsidi kehidupan. Di situ, kematian lebih merupakan kepentingan mereka yang hidup.

 

Ludwig Wittgenstein, dalam magnum opusnya Tractatus Logico-Philosophicus (1951) bahkan menyebut jika kematian adalah “misterium”: Sebuah realitas tak tercakapkan dan mutlak terdiamkan (be silent) karena “melampaui” dan berada “di luar” dunia. Itu sebab, dalam doktrin keruhanian Islam dan agama serta tradisi otentik lainnya, kematian dilukiskan sebagai “pintu” dan jalan “pulang” menuju ke Titik Asal. Bukankah makna sebuah pintu terletak pada “kekosongan” yang disodorkannya. Kekosongan, yang sejauh ini dipandang remeh, ironi, sepele, dan tak berguna, justru menemukan maknanya dalam kematian. Di sini  kekosongan tidak identik dengan kehampaan, tapi jalan keniscayaan sang-aku dalam menemukan kembali jejak Asal-Usulnya. Itu sebab, dalam literasi nusantara, kematian disebut juga “berpulang”, “kembali”, “ammaliang”, “amminro”, dst.  Karena, pada intinya setiap orang yang  pulang selalu tiba pada titik dimana ia berangkat.

 

Dinihari jelang sahur tadi, permenungan kematian itu kembali menggugat nurani saya, menyusul “sms” Dr. Rusli Malli: “…Kembali ke rahmatullah ibu Hj. Mantasiah, isteri Prof. Bahaking Rama pada hari Kamis, 23 juni 2016: Allahumma-gfirlaha war-hamha wa’fuanha”.

 

Ibunda Hj. Mantasiah, dan juga kita kelak, telah dan bakal memasuki pintu kepastian itu. Lamat-lamat ada pesan kuat yang mengalir di sana: ide tentang “pulang” mengandaikan kesigapan dan bekal. Sebab itu, “pulang” bukan hanya urusan orang-orang yang akan pulang, tapi juga mereka yang mau “berangkat.”

 

Kematian, seperti halnya ironi dan canda, bisa merupakan kejutan-kejutan kecil yang tak berencana tapi amat berharga. Selamat jalan ibunda Hj. Mantasiah . Selamat pulang ke Titik Berangkat: Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Alfatihah..

SHARE
Comment