Kenal Diri

Kenal Diri

SHARE

Saudaraku, hanya dengan hening kasunyatan para pendaki di jalan Tuhan bisa mencapai puncak kesadaran transpersonal (moksa, makrifat).

Dalam kesadaran transpersonal, kehidupan dialami sebagai pola interkoneksi yang tak terputus dari segala kehidupan. Kesadaran seseorang dan keterlibatannya langsung dengan kehidupan berkembang dari pernik-pernik eksistensi sehari-hari menuju eksistensi kosmik yang lebih luas. Dalam keluasan kedaran kosmik, manusia bisa melihat betapa kesalingbergantungan tidak bisa dipisahkan dari kesatuan. Satu dalam semua, semua dalam satu. Kesatuan tidak dapat eksis tanpa perbedaan.

Dengan menembus langit makrifat, orang juga akan memiliki kelapangan kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran perawatan yang menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan alam semesta; aktif hadir saat sekarang dan bersentuhan secara utuh dengan apa yang ada di sini.

Seperti Dewi Kuan Yin (Dewi Welas Asih), yang membatalkan masuk ke nirwana, hanya karena mendengar tangisan anak kecil yang ditinggalkan ibunya, dan akhirnya kembali ke dunia untuk menolong seluruh alam semesta.

Dengan semangat perawatan, kehidupan dunia dengan segala rupa dan masalahnya disongsong dengan optimisme. Siddharta Gautama berkata, ”Sungguh luar biasa; semua yang ada di bumi ini diliputi kebenaran. Hanya karena kita tidak tahu dan terikat maka seseorang menjadi tidak mampu memahaminya.” Ia pun tiba pada kesimpulan jalan tengah, ”Manusia sempurna adalah Budha (mendapatkan pencerahan); Buddha yang sempurna adalah manusia.” Dengan pandangan seperti itu, Buddhisme, dan juga sistem keperyaan Timur lainnya, memiliki premis yang positif tentang manusia, sebagai makhluk yang dibekali fitrah kerahiman (kasih sayang) dan kehanifan (cenderung pada kebenaran).

Untuk merawat fitrah kebajikan itu dari pengaruh lingkungan yang buruk, timbullah keinsyafan akan tanggungjawab kepemimpinan. Seperti sabada Nabi Muhammad, ”Setiap kamu pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Tanggungjawab kepemimpinan ini bukan saja menuntut perhatian keluar, tetapi terlebih dahulu harus menengok ke dalam, mengasah diri sendiri lewat kesiapan saling gosok antarmanusia.

Dikatakan oleh Sayyidina Ali kepada Malik al-Asytar, walinya di Mesir, ”Barangsiapa diangkat atau mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaklah ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya dengan cara memperbaiki tingkah lakukanya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lidahnya. Orang yang menjadi pendidik dirinya sendiri lebih patut dihormati daripada yang mengajari orang lain.”

Mawas diri merupakan kewajiban pertama seorang pemimpin. Meminjam ungkapan Lao Tzu, ”Apa yang kuharap dari anakku, sudahkah kuberikan teladan baginya. Apa yang kuharap dari rakyatku, sudahkah kupenuhi harapan mereka.” Setelah pemimpin bermawas diri, bolehlah ia mengembangkan harmoni keluar dengan mengembangkan keseimbangan hak dan kewajiban dalam relasi sosial, yang disebut Raja Yao sebagai ”Jalan Tengah Sempurna”. Hal ini meliputi hubungan timbal-balik dalam lima pasang: ayah-anak, suami-isteri, pemimpin-rakyat, tua-muda dan saling percaya antar kawan.

Orang yang sadar dirinya, akan memahami Tuhannya. Orang yang memahami Tuhannya akan merefleksikan kerendahhatian dalam ketakterhinggan kasih-Nya; bahwa semakin besar bukan menjadi kian bahaya bagi yang lain, malahan memberikan ruang hidup bagi keragaman yang lain. Seperti keluasan langit yang mampu memberi ruang bagi matahari, bulan, bintang, dan semua yang terkait dengannya.

Orang yang memahmi Tuhannya juga akan menyadari keterbatasan dirinya. Adapun orang yang memahami keterbatasannya akan giat belajar dan menghargai kehadiran orang lain dalam rangka menggosok baru permata dirinya. Bahwa manusia senantiasa dalam proses menjadi dengan memandang setiap momen sebagai kebaruan yang harus diisi dengan belajar dan bekerja untuk menyempurnakan dirinya.

Konfusius mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah belajar dan terus belajar untuk menjadi “manusia seumur hidup”. Caranya? Jika pisau diasah dengan batu, maka manusia harus diasah oleh sesama manusia. Berkata pula Imam Syafi’i, ”Berangkatlah, niscaya engkau mendapatkan ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup hanya ada dalam kerja keras.” Hal yang sama dikatakan oleh Lao Tzu, bahwa perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama.

Lewat kearifan Timur, manusia disadarkan bahwa jalan keimanan, jalan kemanusiaan, jalan kepemimpinan dan jalan produktivitas dimulai dari upaya pengenalan dan penempaan diri sendiri. Untuk mengenali kedirian sejati, orang-harus mampu menembus selubung ego dan penampakkan lahiriyah menuju penemuan substansi di ulu kesadaran terluhur (ultimate mind).

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

SHARE
Comment