Kisah Penguasa Daratan Asia Yang Wafat Miskin Di Pengungsian

Kisah Penguasa Daratan Asia Yang Wafat Miskin Di Pengungsian

SHARE

Dalam sebuah percakapan antara kehidupan dan kematian, kehidupan bertanya pada kematian, “Mengapa orang-orang mencintaiku dan membencimu”? Kematian menjawab, “Karena engkau cantik, walaupun menipu. Sedang aku menyakitkan, walaupun nyata.”

Kira-kira demikian sebuah fabel antara kehidupan dan kematian.

Banyak orang ngoyo mengejar target hidup. Sampai ia lupa kalau kematian jadi pemutus yang membuatnya tak sempat menikmati semua yang ia kumpulkan. Bahkan, terkadang nikmat hidup itu berakhir lebih dulu sebelum datangnya mati. Seperti yang dialami Muhammad Khawarizm Syah II (Alauddin Muhammad), Raja Daulah Khawarizm.

Ia menguasai sebagian besar benua Asia. Kekuasaannya membentang dari Irak di sebelah barat hingga India di sebelah timur. Dari Laut Caspia di sebelah utara hingga Laut Aral dan Teluk Arab di sebelah selatan. Seluruh wilayah Seljuk ia kuasai. Namun ia wafat dalam keadaan terusir, miskin, mengungsi. Ia wafat di pulau terpencil di Laut Caspia.

Keturunan Budak Menjadi Raja

Muhammad Khawarizm Syah memerintah Khawarizm antara tahun 1200-1220 M. Kakeknya adalah seorang budak berasal dari Turki. Kemudian sang kakek menjadi penguasa wilayah kecil yang disebut Khawarizm. Sebuah wilayah delta Sungai Jeyhun (Sungai Amu darya) di Asia Tengah.

Saat Muhammad memegang tampuk kuasa, mulailah wilayah kerajaan ini meluas. Tahun 1205, ia berhasil menguasai berbagai wilayah di Persia dan wilayah-wilayah Saljuk. Sampai kekuasaannya menyentuh Teluk Arab, ia pun memproklamirkan diri sebagai seorang Syah (Kaisar). Selanjutnya, Muhammad meneruskan ekspansinya ke Asia Tengah. Ia berhasil mengusai Kota Herat, Balkh, Tokharistan, Sistan, dll.

Ibnul Atsir mengatakan, “Selama masa pemerintahannya kurang lebih 21 tahun, Muhammad berhasil memperluas wilayahnya dan memperkuat kedudukannya. Dunia tunduk padanya. Kerajaannya terbentang dari wilayah Irak hingga Turkistan, kerajaan Ghaznah di Afganistan dan sebagian India, Sijistan, Karman (Pakistan sekarang), Tibristan, Gorgan, negeri-negeri di pegunungan Khurasan, dan sebagian wilayah Persia (keseluruhan wilayah Iran sekarang).” (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, 10/407).

Nukilan dari Ibnul Atsir ini menjelaskan betapa besar wilayah kekuasaannya. Dan bagusnya menajemen pemerintahannya. Karena itu, Ibnul Atsir memujinya, “Ia adalah seorang yang sabar dalam menghadapi keletihan dan menyukai tantangan. Ia bukan tipe orang yang suka berfoya-foya. Ia tak suka hidup dalam kenikmatan. Perhatiannya hanya pada kekuasaannya, menatanya, menjaganya, dan menjaga rakyatnya.” (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, 10/407).

Ketika berbicara tentang pribadi Muhammad Khawarizm Syah, Ibnul Atsir mengatakan, “Ia adalah seorang yang utama dan berilmu. Memuliakan ulama. Cinta pada mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Ia sering duduk bersama ulama, berdiskusi bersama mereka. Ia seorang yang menghormati ahli agama, menerima mereka, dan dekat dengan mereka.” (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, 10/407).

Lari Dari Kematian

Di bawah pimpinan Jenghis Khan, Tatar memasuki dunia Islam. Mereka berhasil menguasai salah satu wilayah Khawarizm, Samarkand. Porak-porandakanlah kota peradaban Islam itu. Tidak puas sampai di situ, mereka menargetkan menguasai Khawarizm. Agar perjalanan merebut kekuasaan lebih mudah dan tidak terjadi perlawanan dimana-mana, mereka jadikan Muhammad Khawarizm Syah sebagai buronan nomor satu. Jenghis Khan kerahkan 20.000 pasukan untuk mencari orang nomor satu di Khawarizm itu.

Pasukan Tatar mencarinya di ibu kota negara, Kota Urgench. Sebuah kota yang terletak di pinggir barat Sungai Jeyhun (Sungai Amu Darya). Pasukan-pasukan itu datang dari arah timur. Sungai menjadi pengulur waktu bagi kaum muslimin untuk melarikan diri dari kekejaman anak buah Jenghis Khan ini.

Karena tak berdaya dan terus mengalami kekalahan, Muhammad Khawarizm melanjutkan pelarian diri menuju Naisabur. Pasukan Tatar terus menembus kota-kota Khawarizm hingga mereka pun sampai di tempat kelahiran Imam Muslim itu.

Saat orang-orang Mongol telah dekat dengan Naisabur, Muhammad Khawarizm tak lagi berdaya mengumpulkan pasukannya. Ia terus berlari. Kota persinggahan berikutnya adalah Mazandaran. Tatar terus memburunya. Khawarizm mengungsi lagi ke Kota Ray. Kemudian Hamadan. Dan kembali lagi ke Mazandaran. Sampai akhirnya ia terpojok di Tibristan, di tepi Laut Caspia. Ia menaiki perahu dan Tatar kehilangan jejaknya.

Muhammad Khawarizm Syah akhirnya tiba di sebuah pula kecil di tengah Laut Caspia. Ia tinggal hanya beberapa hari di sana hingga akhir hayatnya. Ia wafat dalam keadaan terusir dan miskin. Sampai-sampai tidak ada kain untuk mengkafaninya. Kafannya hanyalah alas tidurnya.

Pelajaran:

Pertama: Begitu cepat keadaan seseorang berubah. Hari ini miskin esok menjadi kaya raya. Hari ini anak budak, esok menjadi raja. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kita mencela seseorang karena takdir yang dia dapatkan. Bisa jadi esok hari ia lebih baik dari kita dan kita lebih buruk darinya.

Kedua: Raja dunia pun tak sempat menikmati dunia. Belajarlah Anda dari pengalaman ini.

Ketiga: Dunia bukan tempat yang abadi dan kenikmatannya pun fana. Orang yang kuat, berkuasa, dan disegani semua pergi meninggalkannya.

Keempat: Seseorang bisa lari dari musuh yang ditakutinya, musuh yang mengancam nyawanya, tapi tak ada seorang pun yang bisa lari dari kematian.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 78).

Sumber: Kisahmuslim
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

SHARE
Comment