Kohati Surabaya Ikut Konferensi Internasional di Rusia

Kohati Surabaya Ikut Konferensi Internasional di Rusia

SHARE

Publik-News.com – Tri Rahayu Mayasari, HMI-wati asal Cabang Surabaya berkesempatan mengikuti konferensi internasional di Vladivostok, Rusia pada 1-5 Desember 2017. Konferensi ini diselenggarakan oleh MUNRFE yang bekerja sama dengan Far Eastern Federal University.

Model United Nations of the Russian Far East (MUNRFE) adalah salah satu NGO tertua di Rusia Timur, yang mempunyai tujuan untuk mengembangkan softskill dan leadership para generasi muda berbakat agar mampu berkontribusi pada isu-isu internasional. MUNRFE sendiri mempunyai 100 anggota di 3 kota di Rusia Timur, yakni Blagoveshchensk, Khabarovsk, dan Vladivostok, dan lebih dari 2000 alumni di seluruh dunia.

Dalam kesempatan tersebut, perempuan yang akrab dipanggil Yayuk ini menilai jika konferensi ini sangat memberikan manfaat besar bagi kalangan generasi muda. Selain mengasah kemampuan berbahasa Inggris dan publik speaking, forum ini juga sangat berguna untuk menstimulus generasi muda agar sadar untuk berkontribusi menemukan solusi atas permasalahan kemanusiaan dan lingkungan yang sedang terjadi di kancah internasional.

“Selain itu, forum ini memberikan kesempatan untuk membangun internasional networking dengan para delegasi yang berasal dari berbagai negara. Saat mengikuti konferensi ini, saya sadar bahwa pengetahuan yang saya miliki masih sangatlah dangkal dibanding dengan para delegasi lain, terutama delegasi asal Rusia yang masih berada pada semester awal S1 namun pengetahuan mereka sudah sangat luas, terutama terkait dengan isu internasional”,ujar Yayuk saat dihubungi via telepon.

Yayuk juga memaparkan gaya hidup generasi muda Rusia yang sangat berbeda dengan generasi muda di tanah air. Sebagai negara besar yang memiliki tingkat literasi sangat bagus, tambah Yayuk, gaya hidup pemuda dan pemudi Rusia sangat berbeda dibanding generasi muda tanah air. Semisal soal penggunaan alat komunikasi handphone.

“Mereka tidak mengutamakan kebutuhan tersier, misal handphone. Padahal penampilan mereka sangat cantik dan tampan, anehnya mereka hanya menggunakan handphone tipe lama dan laptop tipe jadul,”tutur Yayuk.

Ketika Yayuk menayakan hal tersebut pada salah satu mahasiswi Rusia, mereka mengatakan bahwa yang diutamakan oleh mereka adalah budaya intelektual, misalnya membaca, bukannya penampilan. Artinya mereka tidak begitu mengutamakan konsumerisme, mereka membeli sesuatu sesuai kebutuhan. Sebagai negara multicultural, masyarakat Rusia juga tidak melupakan tradisi. Hal ini jelas terlihat pada gaya hidup mereka, misal: setelah makan mereka seringkali mengkonsumi coklat sebagai hidangan penutup. Ketika ditanya kenapa melakukan hal tersebut, mereka menjawab bahwa itu adalah bagian dari tradisi mereka. Pemerintah Rusia juga, menurut Yayuk mempunya kebijakan yang bagus untuk mengatur masyarakatanya.

“Misal, jika kita melanggar rambu lalu lintas saat berjalan kaki maka kita akan ditilang. Meski kita hanya sebagai pejalan kaki. Jadi sebagai pejalan kaki pun kita harus taat dengan rambu lalu lintas,”ujar alumnus Universitas Negeri Surabaya ini.

Sebagai negara besar, Rusia juga sangat memperhatikan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal. Terbukti dengan jarangnya produk fast food asing yang berjamur di kota, mayoritas adalah restaurant lokal.

“Masih banyak nilai-nilai tradisional yang masih dijaga di sini. Misal, tidak semua toko menggunakan mesin chasier. Masih ada yang menghitung jumlah belanjaan konsumen secara manual dengan kalkulator,”tutup Yayuk. (TK/PN).

SHARE
Comment